Karya: ~Aila Nadari

Ini sudah umpan ketujuh, namun belum ada udang yang nyangkut di pancinganku.

“Airnya dingin, Bang”, celetuk teman sepemancinganku sore ini sambil mengamati mata kailnya. Tangannya sibuk menggenggam mata kail yang umpannya sudah hilang.

“Pantaslah tak ada satu udangpun yang makan umpan kita”, aku makin lemas. Pandanganku menerawang ke seberang.

Sore seperti ini memang sudah menjadi rutinitas, memancing setelah kerja seharian. Mencari udang untuk lauk esok hari. Kapuas, tak lelah memberi kami kehidupan. Dari airnya, isi sungainya, bahkan arusnya. Tak heran sedari tadi banyak lalu lalang kapal klotok, ojek air seharga dua ribu rupiah, mengantar penumpang hingga ke seberang. Masyarakat Pontianak masih suka menggunakan kapal kecil ini untuk menyeberangi Kapuas. Dengan dalih jauh dan macet apabila harus menyeberang melalui Jembatan Tol.

Dan layaknya sore-sore yang telah lalu, pandanganku masih menerawang di dasar sungai. Ke mana perginya udang-udang? Sudah dua jam pantatku kesemutan dan mataku pegal. Tapi tak satupun mata kancing yang timbul tenggelam. Tapi sore ini seakan tak hanya udang yang mengganggu konsentrasi, aduan istri siang tadi seolah menambah keruh senja.

“Bang, umpannya kok dibuang-buang sih?”

“Eh, iya nih, sejak kapan aku ngga pandai masang umpan? Ah….” aku bersungut.

Memang sejak harga bawang putih naik drastis menjadi 80ribu per kilo, seakan istriku menderita PMS setiap hari. Ada saja alasan dia untuk marah, entah aku yang pulang terlambat 5 menit, entah arisannya yang tak pernah dapat, atau bahkan uring-uringan karena masakannya sendiri yang terlalu asin. Ya sebagai laki-laki sekaligus suami, aku hanya bisa diam dan melemparkan senyum kecil, terkadang menganggung-angguk pasrah saat dia berseloroh panjang tentanghari-harinya. Kalau sudah seperti ini, lebih aman sebagai pendengar yang baik daripada ikut-ikutan memberi tanggapan. Alih-alih solusi yang didapat, tak jarang kami bertengkar hebat.
Namun, mungkin hari ini menjadi puncak kekesalannya. Sepulang dari warung, dia langsung memasang muka bertekuk.

Baca Juga  Bisik Kecil Aida

“Mas, bisa nyari uang yang lebih banyak ngga?”

Seakan ada belati yang menancap. “Ada apa?” tanyaku.

“Belanjaanku hari ini, hanya cukup untuk beli 3 siung bawang putih, 5 buah cabai rawit, dan satu ikat kangkung berukuran sedang. Bahkan tak ada sisa uang untuk beli ikan asin, Mas.” Matanya membasah. Dan aku serba salah. Ekonomi yang sulit dan tak ada keahlian lain membuatku terpenjara. Yah, apa yang mau diharapkan dari seorang kuli bangunan dengan gaji tiap minggu? Kamu nyuruh aku maling?

Layang-layang diseberang Kapuas meliuk-liuk. Diterbangkan angin tanpa arah, mungkin juga tangan si pengendali tali masih kurang berpengalaman. Aku masih mematung, ingin sekali aku menggunakan amarahku sebagai umpan lalu melempar jauh kail-kail ini ke tengah sungai. Biar saja tak ada udang atau ikan yang mau memakan umpanku.

“Bang, saya tahu sebuah falsafah hidup orang jawa, istilahnya nrimo in pandum. Pasrah sama Yang Kuasa”, teman pemancingku mulai membuka kata. Aku tersentak. Sepertinya orang ini bisa cenayang.

“Maksud Mas?” aku menelisik, pura-pura tidak paham.

“Saya lihat daritadi Abang melamun. Umpan banyak yang terbuang. Mungkin udang di bawah sana sudah kenyang dengan umpan yang jatuh, jadi tak mau makan umpan di pancingan Abang. Saya kira, Abang sedang ada masalah.”

“Lalu menurut Mas, saya harus bagaimana? Ketika istri menyuruh saya nyari kerja yang instan karena ekonomi kami tak pernah stabil”, kataku lemah.

“Manusia diciptakan dengan akal untuk berikhtiar dan hati untuk beriman, kalau boleh saya sarankan, jangan bosan untuk selalu bersabar, karena sabar tak berbatas.” Dia masih fokus dengan kail-kailnya yang belum juga disenggol udang.

Aku mengubah posisi, lebih mendekat ke arahnya agar obrolan kami tak perlu mengeluarkan banyak tenaga.

Baca Juga  Si Cantik

“Cara mendidik wanita memang tak mudah, Bang. Perlu menyatukan antara logika dan perasaan. Layaknya kayu yang bengkok, cara melurusannya ya dengan cara pelan-pelan. Kalau Abang keras, kayunya akan patah.”

Mataku masih menerawang ke dasar Kapuas, kailku disenggol, timbul tenggelam. Akhirnya ada hasil yang bisa kubawa pulang untuk teman tumis kangkung malam ini, 2 ekor.

“Sepertinya Abang perlu bicara baik-baik dengan istri, menegaskan jika pekerjan instan yang dia maksud itu bukanlah jalan keluar yang baik, Bang. Dan kalau Abang berkenan, saya beli 1 ekor udang yang Abang tangkap, 20ribu.”

Sebenarnya aku masih ingin di sini, menikmati alunan angin yang mempermainkan air seakan menjad musik penghibur. Memamsukkan oksigen dengan aroma ikan asin, seolah menyegarkan paru-paru. Dan liukan layang-layang di seberang, sukses menyeretku ke masa kanak-kanak tanpa masalah pelik. Tapi tawaran tadi mengganggu telingaku. Membawa hasil pulang sama saja membahagiakan istriku yang mungkin saja sekarang sedang menangis karena mengiris bawang. Aku harus pulang!

“Mas, udangnya buat Mas saja seekor, tapi jangan 20 ribu ya, 15 ribu saja cukup. Terima kasih atas wejangan yang Mas berikan. Saya sangat beruntung sore ini.” Senyumku mengembang, senja kali ini indah, aku bisa merasakan hangatnya. Dan esok hari, kukira muka istriku akan kembali cerah.

Sore ini di tepian Kapuas, kapal klotok lalu lalang, kepak burung yang menyambar air, dan teriakan anak-anak kecil berennag di pesisir. Tangan kananku memegang pancing, sedang tangan kiriku memang seekor udang galah dan satu plastik bawang putih, bawang merah, cabai, dan sebuah angan.

Matahari Pontianak boleh saja panas, air sungai Kapuas boleh saja dingin, tapi hati dan pikiran harus tetap tenang.

Pontianak, Juni 2017

Comments

SHARE
Previous articleNarkoba Menjadi Momok Bagi Generasi Muda Bangsa Indonesia
Next articleMENANGKAL RADIKALISME DAN MENANAMKAN NILAI TOLERANSI SARA (SUKU, AGAMA, RAS, ANTAR-GOLONGAN) KEPADA ANAK DAN REMAJA
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
REVIENSMEDIA.COM hadir untuk menampung pemuda-pemuda kreatif, inspiratif se Indonesia. Keterbukaan, keragaman dan explorasi talenta adalah tujuan reviensmedia.com. Slogan kami adalah: Explorasi untuk Kebersamaan dan Harmoni. Selain web, media yang kita gunakan adalah media sosial lainya. Di media ini kami Bersama-bersama mengembangkan passion, dan karya yang kami hasilkan berupa tulisan dan audio visual. Kami tergabung dalam persahabatan dan karya di ajang Sahabat Reviens yang tersebar seantero nusantara seperti Jakarta, Kebumen, Pontianak, Bitung, Purworejo, Pekanbaru, Sumbawa, Bekasi, Depok dll.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here