MENANGKAL RADIKALISME DAN MENANAMKAN NILAI TOLERANSI SARA (SUKU, AGAMA, RAS, ANTAR-GOLONGAN) KEPADA ANAK DAN REMAJA

0
389
Illustrasi: harnas.co

Oleh: Elizabeth Santosa, M.Psi, Psi, SFP, ACC.

Mendidik anak mengenai perbedaan Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan (SARA) sangat penting dilakukan sedini mungkin dan sesering mungkin.

Seringkali orangtua dan pendidik menghindari topik ini dan mengajarkan kepada anak bahwa topik SARA adalah tabu untuk didiskusikan. Contohnya: Dalam sebuah transportasi publik seorang anak menunjuk tangannya kearah seseorang laki-laki  dan berkata, “Ma, orang itu koq kulitnya hitam dan rambutnya kribo”.

Umumnya, orangtua akan menjawab, “ Hushhhh, jangan tunjuk tunjuk, tidak sopan loh”. Atau merespon, “ Eh, jangan dilihat, nanti si Oom datang kesini loh”. Ada banyak variasi bagaiman orangtua merespon, namun pada intinya seringkali orangtua enggan ataupun merasa “canggung” berbicara tentang SARA kepada anak.

Adapun orangtua atau pendidik moderen yang berdalih untuk tidak menjelaskan perbedaan SARA dengan alasan, “semua manusia sama dimata Tuhan, hitam putih kuning, apapun warna kulitnya”. Pernyataan tersebut benar adanya, namun tidak lengkap dan tidak berisikan informasi yang perlu diketahui oleh anak.

Menurut Briggite Vittrup, seorang psikolog ahli perkembangan anak, orangtua wajib mengenalkan topik mengenai SARA terhadap anak sedini mungkin. Suatu pemikiran yang salah jika orangtua menganggap usia anak masih terlalu dini untuk mengenali atau memahami topik tersebut. Sesungguhnya menurut hasil penelitian, bahwa anak usia 3 tahun sudah memahami adanya perbedaan warna kulit, sedangkan konsep golongan superior dan golongan inferior dipahami saat masuk kelas 1 SD. Bahkan bisa saja, anak menjadi obyek stereotip di dalam kelas mereka disekolah.

Keengganan orangtua dalam membahas topik SARA dan radikalisme mengakibatkan anak mengadopsi pemahaman dari sumber lain (media sosial, pembicaraan dengan teman lain, dsb) dan asumsi berdasarkan pengalaman dan observasi yang mereka lihat sehari hari (bullying). Asumsi tersebut dapat bersifat negatif terhadap golongan lain, dan berpeluang berkembang menjadi “sistem keyakinan” (belief system) yang mengakar kepada radikalisme di masa depan.

Apa yang dapat dilakukan oleh orangtua dan pendidik?

1.     Mengijinkan dan membuka topik mengenai SARA dan toleransi dalam diskusi  dalam rumah sehari-hari.

Baca Juga  Petuah di Pertigaan Buntu

2.     Mendidik anak untuk mengenal etika dalam mengungkapkan pendapat dan berkomentar topik SARA di media sosial yang berpeluang menimbulkan kesalahpahaman dan perseteruan.

3.     Ekspos pemahaman anak mengenai budaya dengan mengunjungi pameran atau event yang bertemakan budaya sebagai aktivitas rekreasi keluarga.

4.     Buka diskusi kepada anak mengenai dampak radikalisme terhadap SARA yang terjadi di Indonesia. Latih anak berpikir kritis dan tekankan penanaman solusi yang terbaik dalam menghadapi perbedaan pandangan terhadap SARA.

5.     Rayakan hari besar budaya dan agama yang dianut. Selain mendidik anak bertoleransi, identitas budaya dan agama masing-masing perlu dihormati dan rasa syukur. Dalam moment spesial ini, anak dapat diajarkan nilai nilai luhur dari aktvitas perayaan hari besar agama dan etnis yang dianutnya. Begitupun anak perlu untuk menghormati hari besar budaya dan agama lain dapat membuat aktivitas prakarya kartu ucapan untuk diberikan kepada teman yang sedang merayakan.

6.     Take action. Khusus usia remaja, anak dapat diberikan kesempatan untuk mengambil peran dalam implementasi konsep toleransi SARA. Semisal mendesain atau menggambar poster, menulis artikel opini untuk dikirimkan ke penerbit, mengungkapkan pendapat nya saat acara keluarga, dan lain sebagainya.

7.     Menanamkan nilai kebhinekaan kepada anak anak sebagai sesuatu kekuatan bangsa Indonesia dimata dunia.

Contoh: Memperkenalkan kekayaan budaya di negara Indonesia, adat istiadat, karakteristik agama yang dianut, busana daerah, bahasa daerah, rumah adat, dsb. Tekankan landasan bhineka tunggal ika sebagai media persatuan berbagai budaya dalam membentuk negara Indonesia.

8.     Menanamkan nilai Pancasila dalam aktivitas sehari-hari.

Orangtua perlu mengidentifikasi dan memahami nilai-nilai Pancasila dan  secara kreatif mengimplementasikan nya dalam kehidupan sehari-hari anak.

Contoh:

Sila ke-1 : Ketuhanan Yang Maha Esa. Segala sesuatu yang bekerja di dalam lingkup masyarakat dilandaskan kepada rasa hormat kepada Sang Pencipta. Oleh sebab itu, anak-anak dapat dididik untuk memulai aktivitas sehari-hari disekolah dengan berdoa sesuai agamanya masing-masing.

Sila ke-2 : Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Anak-anak dapat diajarkan mengenai konsep “adil” dan “sama rata” melalui metode pengajaran matematika mengenai besaran dan proporsi, atau melalui metode bermain lainnya yang mengedapankan nilai keadilan.

Baca Juga  Bongkar Muat Kenangan di Pelabuhan Sheng Hie

Sila ke-3: Persatuan Indonesia. Anak-anak dapat diajarkan konsep ‘teamwork’ untuk mencapai tujuan. Anak dapat bermain dalam kelompok yang telah dibagi masing-masing dan diberi waktu untuk menentukan strategi terbaik agar misi tercapai. Dalam hal permainan kelompok, ada banyak hal yang dapat dipelajari oleh anak seperti mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan masing-masing anggota, bertukar pikiran dan pendapat, menghargai keputusan yang diambil oleh mayoritas anggota dan tetap sportif.

Sila ke-4: Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. Anak-anak dapat diajarkan mengenai konsep kepemimpinan (leadership) dimana dalam posisi tersebut terdapat tanggungjawab yang wajib dipenuhi. Hal ini tercermin dalam pemilihan ketua kelas yang saya anjurkan dilakukan bergantian secara reguler, semisal dirotasi satu kali sebulan atau dwi-mingguan. Dalam hal ini, setiap anak dapat “merasakan” pengalaman menjadi pemimpin, memahami hak dan kewajibannya. Contohnya: sebagai ketua kelas, diwajibkan datang lebih awal untuk memonitor kebersihan dan kesiapan ruang belajar.

Selain itu, permainan yang melibatkan anak menjadi ketua kelompok dapat mengajarkan anak mengenai karakteristik anggotanya. Bagaimana mencari solusi saat anggota kelompok dianggap kurang kooperatif dan berperilaku negatif. Dalam hal ini anak belajar mengambil keputusan, tegas dan mementingkan kepentingan terbaik anggota lain.

Sila ke-5: Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Dalam implementasi sila ke-5 anak anak dapat belajar mengenai konsep “keadilan sosial”. Anak-anak dapat diajarkan untuk bersedekah dengan cara menyisihkan uang jajan dalam kurun waktu sebulan agar hasilnya dapat dikumpulkan untuk membeli keperluan sekolah salah satu teman sekelas yang kurang mampu secara materi. Kegiatan bakti sosial secara reguler baik pemberian materi, pemberian pendampingan belajar, atapun sekadar berkunjung dan menghibur komunitas lansia atau anak-anak yang kurang mampu dapat menumbuhkan sikap tolong-menolong dalam diri anak. Anak diharapkan menjadi sosok yang paham bahwa dirinya mengemban peran penting dalam mewujudkan keadilan sosial bagi rakyat Indonesia, tidak lagi menyerahkan tanggungjawab tersebut kepada pihak berwenang.

Comments

SHARE
Previous articleLiukan Kail di Kapuas
Next articleJODOH IDOLA ITU WANITA JAWA
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
REVIENSMEDIA.COM hadir untuk menampung pemuda-pemuda kreatif, inspiratif se Indonesia. Keterbukaan, keragaman dan explorasi talenta adalah tujuan reviensmedia.com. Slogan kami adalah: Explorasi untuk Kebersamaan dan Harmoni. Selain web, media yang kita gunakan adalah media sosial lainya. Di media ini kami Bersama-bersama mengembangkan passion, dan karya yang kami hasilkan berupa tulisan dan audio visual. Kami tergabung dalam persahabatan dan karya di ajang Sahabat Reviens yang tersebar seantero nusantara seperti Jakarta, Kebumen, Pontianak, Bitung, Purworejo, Pekanbaru, Sumbawa, Bekasi, Depok dll.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here