KEPERAWANAN MBAH DARSIH

0
381

Oleh: Yuli Setyawan

Tubuhnya tak lagi sekencang dulu, saat Mbah Darsih masih muda. Mbah Darsih lahir pada tahun 1916 pada pagi dini hari. Ketika dilahirkan Mbah darsih memiliki tubuh yang sangat kecil, beratnya tidak sampai 2 Kg. Namun walaupun berat badannya kurang, tetapi dia memiliki wajah yang cantik. Matanya bundar, tangan dan kakinya lentik, serta hidung yang mancung. Tidak salah apabila saat umurnya sudah dewasa, Mbah Darsih menjadi incaran pemuda-pemuda desa.

Hari berganti hari, hingga Mbah Darsih muda tumbuh dewasa menjelma menjadi gadis cantik bak bidadari yang selalu diincar mata liar pemuda sekampungnya. Joko guntur, lelaki tampan anak pak lurah Dusun Cokro menjadi yang pertama berani mengungkapkan keinginannya untuk meminang sang gadis, namun entah sebab apa, Mbah Darsih muda menampik ajakan sang lelaki tersebut. Sebut saja Mas Prapto, seorang pengusaha tembakau asli Jetis, juga berniat menjadikan mbah Darsih muda sebagai permaisurinya. Namun, lagi-lagi pinangan lelaki itu ditolak. Mungkin apabila dihitung dengan dua tangan, jaripun tak cukup mewakili banyaknya lelaki yang ingin melamarnya.

Hingga suatu hari, datanglah seorang lelaki tampan dari Kecamatan Selo, Boyolali bernama Sunarno yang didampingi oleh kedua orang tuanya berniat meminang sang gadis pujaan. Dibawakannya 2 ekor sapi bule, 5 karung beras Menthik wangi, 10 tandan pisang Rojo, dan beraneka buah-buahan demi mendapatkan cinta sang gadis. Kedua orang tua Mbah Darsih muda menyambut gembira kedatangan tamu istimewa tersebut. “Darsih, sini nak ! ini ada tamu jauh dari Boyolali ingin bertemu dengan kamu. Sini nak keluar”, panggil Mbok Sarti kepada Darsih. Namun, hingga 15 menit menunggu tidak ada jawaban dari dalam kamar. “Nak, kamu lagi apa? Ayo keluar sini ada tamu yang ingin kenalan.” Ulang Mbok Sarti. Lagi-lagi tidak ada jawaban dari dalam kamar. Akhirnya Mbok Sarti menjadi geram atas tingkah laku anaknya tersebut. Sumpah serapahpun keluar dari mulut sang ibu, “Nak, mau kamu apa sih? Ini ada tamu dari jauh kamu tidak mau menemuinya. Kamu sudah dewasa, sudah waktunya kamu menikah. Nanti kamu bisa jadi perawan tua kalau tidak segera menikah”. Kata sang ibu sambil matanya menatap tajam.

Baca Juga  Ferry Anggoro Ardy Nugroho: Dengan Nanotechnology Buat Nama Indonesia Berkibar

“Mbok, jangan keras-keras bicaranya, malu didengar tamu.” Jawab Mbah Darsih.

“Ya makanya kamu keluar, simbok mau ngenalin kamu ke seseorang”, lanjut Mbok Sarti.

“Bukannya aku tidak mau menemuinya mbok, tapi aku malu mbok, malu aku tidak punya Bapak”, kata Mbok Darsih.

“Ya sudah kalau kamu memang tidak mau mendengarkan kata simbok, simbok sudah bosan melihat tingkah laku kamu yang seperti ini.” Kata Mbok Sarti dengan nada keras. “ Rasakan sendiri nanti akibatnya kalau kamu tidak mau mendengarkan simbok.” Lanjutnya.

Baca Juga  SEMOGA JOMBLO DISAYANG TUHAN

Akhirnya dengan sedikit kekecewaan tidak dapat menghadirkan anaknya ke hadapan tamu, Mbok Sarti mempersilahkan Sunarno dan keluarganya untuk berpamitan.

Semenjak saat itulah, apabila ada tamu yang ingin bermaksud mempersunting Mbah Darsih, selau ditolak oleh Mbok Sarti. Dari manapun asalnya, dari keluarga kaya raya ataupun warga biasa. Lambat laun, hari berganti hari, tahun berganti tahun, hingga sang ibu meninggal dunia dan tinggalah Mbah Darsih seorang diri. Hidup seorang diri merupakan bagian dari hidupnya. Tinggal di sebuah rumah tua ditemani oleh seekor kucing tanpa sanak saudara, tanpa keluarga tanpa anak dan suami. Mbah Darsih kini sudah menginjak umur 100 tahun lebih, namun belum pernah merasakan indahnya sebuah perkawinan. Sang Simbah masih seperti yang dulu. Masih perawan.

Kisah ini merupakan kisah nyata dari daerah Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Makna apa yang dapat kita petik dari kisah ini ???

Comments

BAGIKAN
Berita sebelumyaKOPI LUWAK DARI DESA ADAT SAGA-ENDE
Berita berikutnyaJURUS MENIKAH AGAR BERKAH
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
REVIENSMEDIA.COM hadir untuk menampung pemuda-pemuda kreatif, inspiratif se Indonesia. Keterbukaan, keragaman dan explorasi talenta adalah tujuan reviensmedia.com. Slogan kami adalah: Explorasi untuk Kebersamaan dan Harmoni. Selain web, media yang kita gunakan adalah media sosial lainya. Di media ini kami Bersama-bersama mengembangkan passion, dan karya yang kami hasilkan berupa tulisan dan audio visual. Kami tergabung dalam persahabatan dan karya di ajang Sahabat Reviens yang tersebar seantero nusantara seperti Jakarta, Kebumen, Pontianak, Bitung, Purworejo, Pekanbaru, Sumbawa, Bekasi, Depok dll.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here