Oleh: Sri Widowati Retno Pratiwi

Cinta ditolak, kutukan bertindak. Itulah ungkapan tepat untuk menggambarkan mitos yang menyelimuti candi Loro Jonggrang atau candi Prambanan ini. Konon dahulu kala, berdiri Kerajaan Boko dengan rajanya yang bernama Prabu Boko, sesosok raksaksa pemakan daging manusia. Tentu saja sepak terjang Prabu Boko sangat menakutkan dan meresahkan rakyat. Meski demikian, Prabu Boko memiliki putri semata wayang, yakni Roro Jonggrang yang begitu termasyhur kecantikannya.Suatu ketika muncul niat Prabu Boko untuk memperluas wilayah kerajaannya. Oleh sebab itu, tanpa ampun dia beserta pasukannya menyerang wilayah kerajaan tetangga sebelah, Kerajaan Pengging yang subur dan makmur. Tak pelak, banyak rakyat Pengging menjadi korban keganasan pasukan Prabu Boko . Raja Pengging, Prabu Damar Maya tidak tinggal diam. Demi mengakhiri perang dan penderitaan rakyatnya, Prabu Damar Maya mengirim sang putera, Bandung Bondowoso yang gagah perkasa dan sakti untuk melawan Prabu Boko . Segera Bandung Bondowoso melakukan serangan balik. Ternyata Bandung Bondowoso mampu mengalahkan dan membunuh Prabu Boko. Begitu mengetahui rajanya telah mati, Patih Gupala langsung melarikan diri dari medan peperangan, kembali ke Kerajaan Boko dan menyampaikan kabar kematian Prabu Boko kepada Roro Jonggrang. Dia pun dirundung kesedihan mendalam atas kematian sang ayah.

Bandung Bondowoso yang telah memenangi peperangan lantas merangsek masuk ke dalam Keraton Boko, sehingga bertemu dengan Roro Jonggrang. Ternyata Bandung Bondowoso langsung terpikat kecantikan Roro Jonggrang pada pandangan pertama. Dia pun jatuh cinta dan segera menyampaikan niatnya untuk menikahi Roro Jonggrang. Tetapi lamaran Bandung Bondowoso itu ditolak. Roro Jonggrang keukeuh tidak mau menikah dengan orang yang sudah membunuh ayahnya dan menaklukkan negerinya. Bandung Bondowoso terus memaksa. Akhirnya Roro Jonggrang bersiasat. Dia pura-pura bersedia dipersunting Bandung Bondowoso, namun dengan mengajukan dua persyaratan yang mustahil untuk dipenuhi. Kedua syarat tersebut,yakni pembuatan sumur yang dinamakan sumur Jalatunda dan pembangunan seribu candi. Masing-masing pekerjaan dari kedua syarat itu harus diselesaikan hanya dalam waktu satu malam saja. Akan tetapi Bandung Bondowoso adalah Bandung Bondowoso yang memang telah terbukti sebagai pangeran sakti. Roro Jonggrang tak menyangka Bandung Bondowoso mampu menyelesaikan pembuatan sumur Jalatunda. Oleh sebab itu, Roro Jonggrang mencoba memperdaya Bandung Bondowoso agar turun dan memeriksa ke dalam sumur. Setelah Bandung Bondowoso turun ke dalam sumur, Roro Jonggrang memerintahkan Patih Gupala untuk menutup dan menimbun sumur itu dengan batu. Tetapi berkat kesaktiannya ,Bandung Bondowoso berhasil mendobrak timbunan batu tersebut dan keluar dengan selamat. Bandung Bondowoso sempat marah. Namun karena bujuk rayu Roro Jonggrang, dia kembali tenang. Bandung Bondowoso pun mau lanjut untuk memenuhi persyaratan kedua yang diminta Roro Jonggrang.

Demi memenuhi persyaratan Roro Jonggrang yang kedua itu, Bandung Bondowoso mengerahkan segala jenis makhluk halus (jin, setan, dan dedemit) dari perut Bumi. Dan karenanya Bandung Bondowoso bisa cepat merampungkan pembuatan 999 candi, sehingga tinggal ngebut membuat satu candi terakhir. Begitu mendengar jika pembangunan seribu candi sudah hampir selesai, Roro Jonggrang langsung mencari cara menggagalkan usaha Bandung Bondowoso tersebut. Dia memerintahkan dayang-dayang istana dan perempuan-perempuan desa untuk menumbuk padi. Dia juga memerintahkan sebagian dari mereka untuk membakar gundukan jerami di penjuru arah timur. Siasat itu berhasil. Para makhluk halus yang membantu pekerjaan Bandung Bondowoso lari ketakutan dan bersembunyi, masuk kembali ke perut bumi karena mengira bahwa matahari akan segera terbit alias pagi hari telah tiba. Akibatnya, hanya 999 candi saja yang tuntas dibangun, sehingga Bandung Bondowoso dinyatakan gagal memenuhi persyaratan yang diminta Roro Jonggrang. Ketika mengetahui bahwa kegagalannya disebabkan oleh akal-akalan Roro Jonggrang, Bandung Bondowoso amat sangat murka. Dia lantas mengutuk Roro Jonggrang menjadi batu. Akhirnya Roro Jonggrang benar-benar berubah menjadi arca indah penggenap 999 candi yang telah dibuat oleh Bandung Bondowoso atau sebagai candi yang ke seribu.

Demikianlah. Seribu candi tersebut kemudian dinamakan candi Loro Jonggrang yang berarti dara atau gadis yang jangkung. Dikenal pula dengan sebutan candi Prambanan karena lokasinya memang berada di Desa Prambanan, Kecamatan Bokoharjo, Kabupaten Sleman , Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta(DIY). Tetapi hanya bagian candi yang berada di sebelah barat saja. Sementara sebagian candi di sebelah timur sudah masuk lokasi wilayah Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah. Tidak sulit untuk menemukan obyek wisata yang terletak pada ketinggian 154 m di atas permukaan laut ini karena jaraknya yang kurang lebih hanya 200 m dari utara jalan raya Yogya-Solo. Candi Prambanan semakin menarik untuk dikulik-kulik lebih mendalam dengan adanya beberapa mitos terkait kisah melegenda Bandung Bondowoso versus Roro Jonggrang. Bahwa banyak gadis desa Prambanan yang berstatus jomblo high quality alias menjadi perawan tua. Mereka baru bisa menemukan cintanya dan menikah apabila telah keluar dari desanya atau hijrah, berpindah hidup ke tempat lain. Hal itu dipercaya sebagai dampak turunan dari kutukan Bandung Bondowoso terhadap para pendahulu mereka, yakni perempuan-perempuan desa kala itu yang telah membantu mensukseskan tipu muslihat Roro Jonggrang. Sedangkan mitos lainnya menyatakan jika ada pasangan kekasih yang memadu cinta di candi Prambanan, maka sesudah itu hubungan mereka akan hancur atau putus.

Baca Juga  IMPIAN GADIS MUDA & DUNIA TANPA PERANG In Memoriam Rachel Corrie

Bagi saya yang sudah berulang kali menikmati kisah Bandung Bondowoso versus Roro Jonggrang dalam berbagai versi media penyampai cerita, baik secara lisan, tulisan, maupun audio visual, menganggap bahwa Bandung Bondowoso adalah tokoh protagonis tetapi sekaligus juga tokoh paling menyebalkan. Meski sakti mandraguna dan berkuasa, dia tak seharusnya memaksakan kehendak agar Roro Jonggrang mencintai dan mau menikah dengannya. Walau telah ditipu, Bandung Bondowoso tidak perlu mengutuk Roro Jonggrang menjadi batu, maupun mengutuk gadis-gadis desa Prambanan menjadi kaum jomblowati. Sebab cinta tidak bisa dipaksakan. Cinta yang dipaksakan hanya akan membuahkan penderitaan dan bukan kebahagiaan, meski sudah disogok dengan berbagai macam kegemerlapan.Kalau dalam kenyataan sekarang ada sosok generasi penerus Bandung Bondowoso yang hobi kutuk-mengutuk, maka segenap jomblo sedunia wajib bersatu padu untuk ramai-ramai melaporkannya ke aparat penegak hukum atas pasal perbuatan tidak menyenangkan. Kemudian melakukan aksi turun ke jalan secara besar-besaran pada tanggal 13 hari Jumat pasaran Kliwon agar si titisan Bandung Bondowoso itu segera mendapatkan hukuman seberat-beratnya. Karena dalam hitung-hitungan Jawa(Neptu), hari Jumat bernilai 6 dan pasaran Kliwon bernilai 8, maka aksi tersebut bisa dilabeli sebagai aksi 1368 . Yang terpenting peserta aksi bersikap santun, tertib dan tidak anarkis dalam menyuarakan aspirasinya. Tidak perlu bakar kemenyan, apalagi bakar ban. Sebab melawan kedzhaliman dengan berbuat kzhaliman pula itu istilahnya “Jas bukak-iket blangkon, sama juga-sami mawon.” Dan kaburlah sudah yang namanya kebenaran dan keadilan. Sungguh hidup akan jauh lebih indah manakala setiap orang bijak menyikapi realita cinta sebagaimana teladan yang dicontohkan oleh sahabat Nabi Muhammad, Bilal bin Rabbah. Ketika meminang dua orang wanita untuk dirinya dan saudaranya, Bilal bin Rabbah berkata,”Saya Bilal dan ini saudara saya.Dulunya kami adalah budak bangsa Habsy yang berada dalam kesesatan.Kemudian kami mendapat petunjuk dan dimerdekakan oleh Allah.Jika pinangan ini di terima, Alhamdulillah , segala puji bagi Allah. Jika anda tolak, Allahu Akbar, Allah Maha Besar.”

Terlepas dari apapun, secara historis candi Prambanan merupakan kelompok percandian Hindu yang dibangun oleh raja-raja Dinasti(Wangsa) Sanjaya dari kerajaan Mataram Kuno atau Mataram Hindu pada abad IX. Berdasarkan prasasti Siwargha yang berangka tahun 858 Masehi, Rakai Pikatan yang memulai pembangunan candi Prambanan dan penyelesaiannya dilakukan oleh Rakai Balitung. Muncul pula pendapat menyatakan jika kisah legenda yang telah diceritakan pada awal tulisan ini merupakan ingatan kolektif masyarakat Jawa yang samar-samar akan sejarah sesungguhnya dari kerajaan Mataram Kuno. Bahwa cerita perang antara kerajaan Boko dengan kerajaan Pengging sebenarnya merupakan perang perebutan kekuasaan antara raja keturunan Wangsa Syailendra dengan raja keturunan Wangsa Sanjaya. Kemungkinan yang dimaksud sebagai Prabu Boko adalah Raja Samaratungga (Wangsa Syailendra ), Bandung Bandowoso adalah Rakai Pikatan(Wangsa Sanjaya ), serta Roro Jonggrang adalah Pramodhawardhani, puteri dari Raja Samaratungga yang menjadi isteri Rakai Pikatan. Sementara perang perseteruan yang nyata terjadi adalah antara Balaputradewa, putera Raja Samaratungga atau saudara laki-laki Pramodhawardhani dengan Rakai Pikatan.

Sayang ketika kemudian terjadi perpindahan pusat kerajaan Mataram Kuno di ke wilayah Jawa Timur, kondisi candi Prambanan dan candi-candi lain di sekitarnya menjadi terbengkalai. Ditambah lagi dengan adanya gempa bumi dan letusan gunung Merapi berkali-kali menyebabkan candi Prambanan runtuh tinggal puing-puing berserakan. Keberadaan candi Prambanan baru kembali mengemuka saat seorang Belanda pegawai VOC bernama C.A.Lons berkunjung ke Jawa pada 1733. Di dalam catatan hariannya, C.A.Lons melaporkan tentang reruntuhan candi Prambanan yang sudah dipenuhi dengan semak belukar. Sejak itulah kondisi candi Prambanan menjadi perhatian pemerintah kolonial Belanda. Upaya rehabilitasi candi Prambanan mulai intens dilakukan pada 1885 oleh ketua Archaeologische Vereeninging Yogyakarta, Ijzerman dengan membersihkan bilik-bilik candi dari reruntuhan batu. Kemudian J.Groneman yang melanjutkan pekerjaan Ijzerman, tetapi gagal karena perencanaannya kurang sistematis dan justru dinilai menghambat proses pemugaran candi Prambanan itu sendiri.Tahun 1902 proyek pemugaran candi Prambanan ditangani oleh Van Erp yang lebih kompeten ketimbang J.Groneman. Selain berhasil menuntaskan pekerjaan Ijzerman, Van Erp mampu membuat rancangan ulang bentuk serta relief candi-candi induk(utama) di dalam candi Prambanan, yaitu candi Siwa, candi Wisnu dan candi Brahma. Selanjutnya tahun 1918 proyek ini diteruskan oleh P.J. Perquin lalu De Haan dan duet P.V. Van Romondt-P.H. Van Coolwijk pada 1935. Tahun 1942 pemerintah kolonial Hindia Belanda takluk kepada Jepang dan para pegawainya menjadi tawanan perang. Proyek pemugaran candi Prambanan kemudian beralih ke tangan 3 putera asli Indonesia, yakni Soehamir, Samingun dan Soewarno. Akhirnya tahun 1953 candi Siwa selesai dipugar yang disusul oleh candi Bahma di tahun 1987 dan candi Wisnu tahun 1991. Kegiatan pemugaran masih terus dilakukan hingga sekarang terhadap candi-candi lainnya, selain candi induk.

Baca Juga  Kenapa Hari Kartini Diistimewakan?

IMG_20170731_083024

Komplek percandian Prambanan sendiri meliputi bagian latar bawah seluas 390 m², latar tengah 222 m² dan 110 m² latar atas(latar pusat). Jika kita memasukinya, maka semakin menuju ke arah dalam semakin terasa tinggi posisi kita. Namun kita tidak akan menemukan apapun di latar bawah. Di bagian latar tengah juga hanya terdapat reruntuhan candi-candi Perwara. Semisal proyek pemugaran komplek percandian Prambanan benar-benar telah selesai seluruhnya, dimungkinkan adanya 224 buah candi yang berukuran sama dengan luas dasar 6 m² dan tinggi 4 m. Adapun latar pusat merupakan bagian yang terpenting karena di atasnya berdiri 16 candi, baik candi besar(utama), maupun candi kecil. Candi-candi utama pada latar pusat berjejer menjadi 2 deret yang saling berhadapan. Deret pertama meliputi candi Siwa, candi Wisnu dan candi Brahma. Deret kedua mencakup candi Nandi, candi Angsa dan candi Garuda. Pada ujung-ujung lorong yang memisahkan kedua deret candi utama tersebut terdapat candi Apit. Terdapat pula 8 candi yang berukuran lebih kecil. 4 candi diantaranya dinamakan candi Kelir dan 4 candi sisanya disebut sebagai candi Sudut. Ini berarti bahwa total keseluruhan komplek percandian Prambanan terdiri atas 240 buah candi.

Candi Siwa merupakan candi terpenting dari sekian candi yang ada di dalam komplek candi Prambanan. Selain ukurannya yang paling besar, yakni luas dasar 34 m² dan tinggi 47m, candi Siwa memuat beberapa arca. Arca-arca tersebut, yaitu arca Siwa Mahadewa yang menggambarkan Raja Balitung sebagai penjelmaan Siwa, dewa terhebat dari ketiga dewa utama menurut ajaran Trimurti agama Hindu; arca Siwa Maha Guru yang mencitrakan sosok pertapa; arca Durga atau Loro Jonggrang yang mewujudkan Dewi Kematian; arca Ganesha yang melambangkan kebijaksanaan dan pengetahuan. Bangunan candi Siwa secara vertikal terbagi atas 3 bagian. Bagian kaki candi melukiskan dunia bawah tempat orang-orang yang masih diliputi hawa nafsu. Sementara bagian tengah candi melukiskan tempat bagi manusia yang telah meninggalkan keduniawian. Sedangkan bagian atas atau atap candi melukiskan tempat bersemayamnya para dewa.

Di lingkungan sekitar komplek candi Prambanan dari segala penjuru arah juga berdiri beberapa candi yang mempunyai keunikan dan daya tarik masing-masing. Candi-candi itu, yakni trio candi LBS (Lumbung, Bubrah dan Sewu), candi Plaosan, candi Sojiwan, candi Boko, candi Banyunibo, candi Sari, candi Kalasan dan candi Sambisari. Alhasil, jika berwisata ke candi Prambanan sekalian berkeliling ke candi-candi yang ada di sekitarnya, kita akan menyadari betapa leluhur kita memiliki cipta , rasa, dan karsa yang mengagumkan. Bahwa dahulu kala belum ada semen, cat, maupun peralatan semacam crane dkk. Namun leluhur kita mampu menghasilkan karya arsitektur yang selain bernilai estetika tinggi juga lengkap memuat aspek spiritual, hukum, politis dan aspek-aspek kehidupan lainnya. Jadi kita patut menghargai warisan mereka. Warisan-warisan yang positif tentunya. Karena bagaimanapun, masa lalu pasti memberi dampak pada masa kini dan masa kini akan berpengaruh terhadap masa depan.

 

Referensi:
https://id.wikipedia.org/wiki/Candi_Prambanan
Sugeng Riyanto, Candi Prambanan: Pengelolaan dan Potensi Persoalannya, Majalah Berkala Arkeologi tahun XXVII No.2/November 2007, Balai Arkeologi Yogyakarta.
Sejarah Candi Prambanan, Buku Panduan Wisata Komplek Taman Candi Prambanan.

Comments

SHARE
Previous articleReviens Talks: Khafrawi: Qanun, Aceh & Keseharian Warga!
Next articleMengenal Yoke & Tanto: Penjaga Setia Kebudayaan Nusantara
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
REVIENSMEDIA.COM hadir untuk menampung pemuda-pemuda kreatif, inspiratif se Indonesia. Keterbukaan, keragaman dan explorasi talenta adalah tujuan reviensmedia.com. Slogan kami adalah: Explorasi untuk Kebersamaan dan Harmoni. Selain web, media yang kita gunakan adalah media sosial lainya. Di media ini kami Bersama-bersama mengembangkan passion, dan karya yang kami hasilkan berupa tulisan dan audio visual. Kami tergabung dalam persahabatan dan karya di ajang Sahabat Reviens yang tersebar seantero nusantara seperti Jakarta, Kebumen, Pontianak, Bitung, Purworejo, Pekanbaru, Sumbawa, Bekasi, Depok dll.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here