Oleh: Ilhan Erda

Sifat asli manusia yang meminta sampai tak bosan kepada Tuhan nya dikala susah mendera dan menjadi jumawa, lupa akar tatkala posisi di atas, jejaring materi atau punyai relasi kemanusiaan yang kuat. Ini ialah hal yang lumrah dan wajar adanya.

Kebudayaan nusantara asli yang di gadang sebagai benteng dan penggerak kebangkitan jaya nya negeri ini semakin jauh api dari panggang. Tradisi dan identitas yang semakin tercerabut dari bumi ini entah karena faktor lalai penghuni nya, ketaksadaran atau upaya dari pihak luar agar memang kita tak berbudaya.

Dua sahabat ini yang berlatar belakang berbeda, berpendidikan pun tak sama tapi cinta matinya, berkalang tanah dengan penuh kesetiaan atau bisa di katakan merah putih menyala di sepi nya kondisi batin yang selalu mengharap berpelita. Menjadi pendar minimal bagi saudara, sahabat yang dirasa mampu saja menakar dan menangkap frekuensi kebaikan ini.

Tanto & Yoke yang keduanya bukan saudara sekandung. Bukan dari satu pengurus partai yang sama. Bukan pula dalam gabungan secara formal apapun bentuk dari pengakuan secara sah dan resmi apapun yang utamakan perjuangan dan agar dipandang sebagai warga yang berprestasi dan bersumbangsih nyata untuk negeri ini.
Perjalanan ini belum usai. Saling suport dan beri doa, upaya satu dan lainnya.

Baca Juga  Launching dan Bedah Buku “ Perjuangan Pangeran Diponegoro”

“ Mas Tanto sebagai generator yang baik. Lima Gunung, tema-tema dan ide yang berani semisal Mari Goblok Bersama. Ini membuktikan Mas Tanto sangat peka dan mampu melihat kondisi terkini bangsa ini. Saya, Mas Tanto dkk Lima Gunung lainnya sangat berbahagia dan bangga menjadi orang goblok. Tidak terpengaruh pikiran, rejeki orang lain. Menertawakan dan merayakan perbuatan goblok bersama dalam satu belanga yang sama sangat sehat dan bahagia jadinya.” Urai Yoke Darmawan yang sebentar lagi juga bersama Tanto akan helat event budaya berskala inetrnasional ini.

Terkadang dalam perjalanan Yoke & Tanto untuk membumikan tradisi anak nusantara yang hilang ini terengah-rengah. Ada darah dan peluh perih duka, lara.
Tapi pun saya dan anak-anak muda milenial, jauh mungkin masih jauh dari tataran apa itu mencintai Indonesia, apa itu etika berperadaban yang baik dan cara membumikan ajaran-ajaran leluhur yang baik masih sangat jauh dari sebuah idiom kelayakan.

Baca Juga  Pemutaran Film Dokumenter Sayap Garuda di Hargorojo Menuai Banyak Pujian, Salah Satunya di Kota Pontianak

Yoke & Tanto sampai detik ini mengajarkan. Kita tetap harus goblok, kita tetap harus berpesta dan kita kudu tetap menangis, tertawa atau pun mabuk dan mengaji dalam kondisi apapun. Itu sebagai gambaran bahwa otentiksitas diri kita ada. Pencarian tiada henti dan menjadi jujur dalam kondisi apapun.

Dirasa sangat berat. Apalagi ditengah krisis multidimensi sekarang ini. Banjir popularitas, pengejaran citra semu yang dirasa semakin di inginkan banyak orang. Dan gelimang tahtawi, jabatan atau perebutan kondisi standar, kestabilan biaya hidup.

Hanya orang itu sendiri yang tahu motif & prinsip hidupnya. Karena hati orang siapa yang tahu. Mungkin hanya satu kata ini sebagai penutup.
Yoke & Tanto adalah sepasang saudara, pejuang kebudayaan, transformator kehidupan sekitar yang bersolutif. Dan saya ingin menjadi saudara, belajar dari sosok-sosok ini.

Comments

SHARE
Previous articleMENGURAI PESONA CANDI PRAMBANAN
Next articleSISWA INDONESIA RAIH MEDALI EMAS DALAM AJANG INDIA INTERNATIONAL MATHEMATICAL COMPETITION
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
REVIENSMEDIA.COM hadir untuk menampung pemuda-pemuda kreatif, inspiratif se Indonesia. Keterbukaan, keragaman dan explorasi talenta adalah tujuan reviensmedia.com. Slogan kami adalah: Explorasi untuk Kebersamaan dan Harmoni. Selain web, media yang kita gunakan adalah media sosial lainya. Di media ini kami Bersama-bersama mengembangkan passion, dan karya yang kami hasilkan berupa tulisan dan audio visual. Kami tergabung dalam persahabatan dan karya di ajang Sahabat Reviens yang tersebar seantero nusantara seperti Jakarta, Kebumen, Pontianak, Bitung, Purworejo, Pekanbaru, Sumbawa, Bekasi, Depok dll.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here