Oleh: Pinott Abelard

Malam telah begitu larut dalam bait-bait sunyi. Mataku tak juga dapat terpejam, kegaduhan hati benar-benar membuatku peluh. Hambar bercampur sendu semakin mengalun dalam langit-langit milikku. Haruskah mencumbu bulan sehingga mulutku tak bergeming. Aku pun tertunduk menyibakkan mataku dalam segenap rasa.

Benarkah engkau telah menjadi bidadari, atau sempurnamu itu hanya ilusi. Dahulu engkau tak berpijak pada tema ilustrasi-ilustrasi senja. Namun kini engkau tampak semakin meringkuk pada sisi-sisi langkah. Aku mencoba memahamimu dalam sederet cerita sendu, tapi apalah itu. Haruskah ku kayuh jejak langkah itu sehingga terlihat syahdu.

Baca Juga  Sahabat di Balik Bisikan

Kembali lelahku menimbul dari beberapa epilogi sang nyata, benar-benar kejam ku sangka. Lalu ku coba berdamai dengan logika-logika interfensi, lihatlah yang ku dapat hanyalah syair-syair palsu. Bergetarlah membran di antara ragaku, pelan mengayun tentang mereka. Kembali nanar mataku tuk menghapus beberapa esensi kata demi kata. Benarkah semua hanya tentang kisah ilusi, lalu aku harus terpaku dalam diam.

Baca Juga  Sebait Doa Untuk Bunga

Seketika terang itu mulai memudar, lalu datang dengan langkah gontai sambil berkata. Terucap pelan berkumandang pada jiwa yang kerap terdusta. Aku serasa hidup dalam perang literasi makna. Terlihat terpuja dengan nyatanya menindas, aku bergegas menancapkan kanvas semoga dapat terhapus. Semuanya lebih fatamorgana dalam jiwa tuk merajut. Akan bangga, sembari menjelma seperti biasa.

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here