Dihari hari yang telah lewat

kau bercerita kepadaku
tentang rembulan yang tak mencapai permukaan
lalu kau mengiringku keluar
perlahan-lahan mengamati piringan jauh itu….

REVIENSMEDIA.COM, PONTIANAK – Sebait puisi di atas adalah karya seorang dara cantik asal Putussibau, Kapuas Hulu bernama Shella Rimang. Sebuah kehormatan saya bisa hadir dan mengabadikan momen istimewa ketika seorang seniman bernama Widiantoro mengajak saya untuk menonton pertunjukkannya. Begitulah seorang lelaki berkumis tipis asal Kubu Raya itu mengolaborasikan bait-bait Puisi Shella Rimang menjadi alunan sebuah lagu yang menyayat hati pendengarnya.

IMG-20170811-WA0005

Gesekan dawai gitar Budi Harun begitu mendecak dinamis, Yogi Giardian dengan petikan khas Sape (alat musik tradisional khas Dayak) membuat pendengar serasa berada di tengah kedamaian hutan Kalimantan. Irama gemeletak cajon (perkusi) yang dimainkan oleh Yoga Giardian tidak kalah dengan sang kakak, begitu juga puisi Rimang yang dibawakan Mila Naldita selaras dengan logat dan cengkok khas Melayunya.

Baca Juga  Tradisi Wayangan dalam Merti Desa

Pembawaan khas Pak Wid sapaan beliau, dengan blankon menandakan bahwa beliau memiliki darah Jawa yang kental dan mengenakan sarung corak Melayu karena tak dipungkiri bahwa Pak Wid lahir dan besar dilingkungan adat Melayu.

IMG-20170811-WA0002

setelah acara berlangsung saya menemui Pak Wid. Dirinya dan Rimang sebenarnya memiliki antologi cerpen bersama dengan beragam tema. Dua Sisi, dipilih menjadi sebuah judul dari antologi cerpen mereka, namun tak layak sebuah buku, tak ada satupun judul cerpen yang berjudul Dua Sisi di dalam antologi cerpen tersebut. Esensi lain dari antologi cerpen ini adalah mengumpulkan sisi aku dan dia, sisi seorang Widiantoro dengan gadis bertanggal 21 september, 22 tahun yang lalu.

Baca Juga  Nungki Nur Cahyani, Penari Kelahiran Purworejo yang Mendunia

“Nah, rencana promo untuk antopologi cerpen ini. Maka dibuatlah musikalisasi puisi untuk menarik pengunjung. Kenapa harus musikalisasi? Karena musikalisasi puisi adalah suatu bentuk aktualisasi atau apresiasi sebuah ekspresi dari karya sastra, bahwa sebuah puisi bisa dinikmati dengan iringan musik, tidak hanya sebatas dibacakan saja.” Tutur seorang Widiantoro.
Tujuan dari musikalisasi puisi ini adalah untuk bisa lebih menyampaikan isi cerita dari bait-bait puisi yang diciptakan oleh pujangga, Shella Rimang.

IMG-20170811-WA0004

Kutulis Kau Kenang, merupakan salah satu puisi yang dibawakan. Penggambaran seorang perempuan yang pernah dekat dengan lelaki yang sempat saling mencintai namun sekilas pergi tidak meninggalkan bekas. Sang perempuan membiarkan pergi, namun dalam benaknya tetap mencintai lelaki tersebut.

Penulis: Budi Cesar
Editor: Ilhan, Anggi

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here