DI BALIK TEMBOK LPKA KUTOARJO

0
494

REVIENSMEDIA. COM, PURWOREJO – Lembaga pemasyarakatan (LP) bagi umumnya orang adalah tempat yang enggak banget. Betapa tidak? Gedungnya yang bertembok tebal dan pintu-pintu maupun ruang-ruang berterali besi dengan prosedur pengamanan ketat sudah cukup membuat dahi berkernyit. Belum lagi jika mengingat nasib para penghuni LP yang hidup terpisah jauh dari keluarga dan terkungkung oleh berbagai macam pembatasan. Ibarat burung di dalam sangkar, mereka berkicau,”Biar sangkarku terbuat dari emas, lebih baik ku hidup di hutan luas.”Tetapi itulah realita kehidupan. LP sebagai konsekwensi logis bagi mereka telah melanggar hukum yang berlaku di tengah masyarakat suatu negara dengan beragam faktor penyebab. Konsekwensi yang tanpa pandang bulu, apakah orang itu laki-laki atau perempuan; dewasa atau anak-anak ; miskin atau kaya dan lain-lain. Karena idealnya semua orang sama di mata hukum.

Pun demikian halnya dengan LP Anak Klas IIA Kutoarjo di Kabupaten Purworejo yang kini telah berganti nama menjadi Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Klas I Kutoarjo. Lembaga ini merupakan salah satu UPT Pemasyarakatan sub ordinat dari Kanwil Kemenkum HAM Jawa Tengah yang khusus membina anak-anak yang terkena masalah hukum di wilayah provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Saat ini terdapat kurang lebih 50 anak penghuni LPKA Kutoarjo atau yang biasa disebut sebagai anak binaan dengan beragam kasus hukum. Terbanyak adalah kasus asusila(pelecehan seksual) yang jika diprosentase mencapai 60 %. “Dari hasil interview anak-anak itu , kami bisa menyimpulkan mereka melakukan tindak asusila karena pengaruh konten negatif yang marak beredar di media sosial. Awalnya mereka nongkrong bersama teman-teman di lingkungan pergaulan yang buruk sambil minum-minuman keras. Lalu menyaksikan dan saling berbagi tayangan asusila via medsos.Terus akhirnya tertarik mencontoh prilaku dalam tayangan tersebut”, ungkap Gayatri selaku Kepala Seksi(Kasi) Pembinaan LPKA Kutoarjo.

Namun anak-anak adalah anak-anak yang melakukan perbuatan menyimpang seringkali hanya sekedar coba-coba untuk menunjukan eksistensi dirinya. Mereka tidak menyadari bahwa ada resiko hukum yang mesti ditanggung akibat melakukan perbuatan menyimpang tersebut. Alhasil mereka mengalami tekanan psikologis luar biasa ketika menerima vonis dan harus menjalani hukuman di LPKA. Apalagi anak usia belasan tahun atau remaja yang segi kejiwaannya masih labil, belum mapan. Oleh karenanya, saat pertama kali masuk LPKA , seorang anak akan terlebih dahulu melalui masa orientasi selama sebulan. Pada masa orientasi itu, petugas-petugas LPKA bagian pembinaan melakukan serangkaian pendekatan kepada si anak. Pendekatan ini dimaksudkan supaya anak bersikap terbuka dan mau berkomunikasi, mengungkapkan segala uneg-uneg permasalahan yang dihadapinya. Pihak LPKA juga menyampaikan hak dan kewajiban si anak dalam statusnya sebagai anak binaan LPKA Kutoarjo. Kemudian mengarahkan anak agar mengenal secara baik dan bisa segera beradaptasi dengan kehidupan di lingkungan LPKA. Tak lupa melakukan proses assessment untuk menggali minat dan bakat semua anak binaan. Nah hasil dari assessment inilah yang menjadi dasar bagi rancangan dan pelaksanan program-program pembinaan LPKA selanjutnya.

Gayatri menjelaskan,”Di sini ada sekolah sebagaimana sekolah pada umumnya. Hanya saja menggunakan kurikullum kejar paket. Kemudian ada program pelatihan ketrampilan sablon, perikanan dan lain-lain yang disesuaikan dengan kebutuhan anak-anak binaan.Tak ketinggalan pula kegiatan-kegatan keagamaan, olahraga, kesenian , maupun yang terkait wawasan kebangsaan. Intinya berfokus pada pembinaan kepribadian dan pembinaan kemandirian agar mereka menjadi sosok-sosok yang lebih baik lagi setelah bebas nanti. Kami berusaha sebisa mungkin membuat anak-anak binaan merasa nyaman, tetap semangat beraktifitas layaknya anak-anak lain yang menjalani kehidupan normal di dunia luar LPKA.” Demi mencapai tujuan pembinaan yang dilaksanakannya, LPKA Kutoarjo menjalin kerjasama dengan berbagai pihak yang konsen terhadap nasib anak-anak. Karena disadari bahwa semakin lama permasalahan anak semakin kompleks dan memerlukan penanganan secara menyeluruh atau lintas sektor. Kerjasama yang sudah terjalin erat dan berkesinambungan, antara lain dengan Yayasan Sahabat Kapas. Pihak dari LSM yang berkedudukan di Solo ini rutin berkunjung setiap dua minggu sekali untuk memberikan bimbingan konseling atau psikologi kepada anak-anak binaan LPKA Kutoarjo.

Selain pembinaan bersifat umum yang diikuti secara bersama-sama oleh semua anak binaan, LPKA Kutoarjo juga menerapkan sistem perwalian. Dalam sistem perwalian, anak-anak binaan yang ada dibagi menjadi beberapa kelompok dan masing-masing kelompok anak diampu oleh seorang petugas LPKA yang berfungsi sebagai wali mereka. Wali ini yang di samping melakukan pembinaan lebih khusus juga memfasilitasi kebutuhan setiap anak di dalam kelompok yang diampunya tersebut. Semisal ada anak ingin berkomunikasi dengan keluarganya via telepon, maka wali si anak itu yang menghubungkannya. Pun demikian ketika ada anak yang butuh curhat tentang problem-problem yang membebaninya.Wali sigap mendengarkan dan memberi solusi. Tetapi pada prakteknya dibuat fleksibel saja dalam artian setiap anak binaan bebas curhat kepada petugas LPKA, siapapun orangnya yang lebih dia sukai dan tak harus selalu dengan wali masing-masing. Yang terpenting tercipta suasana kondusif bagi perkembangan mental anak binaan.”Semua anak binaan di sini saya perlakukan sama sebagaimana saya memperlakukan anak-anak saya sendiri di rumah,” kata Wahyu, salah seorang wali.

Baca Juga  Anak Muda Indonesia, Harus Meresapi Pesan Wakil Ketua MPR RI ini

Meski pihak LPKA Kutoarjo telah berupaya memberikan pembinaan semaksimal mungkin, tidak ada jaminan pasti bahwa begitu keluar dari lembaga ini anak binaan akan benar-benar menjadi pribadi yang baik dan tidak mengulang kembali perbuatan melanggar hukum. Bahkan beberapa anak binaan ada yang menjadi residivis Tak lain karena kehidupan di luar LPKA yang begitu dinamis dan sukar diprediksi. Tak jarang penyebabnya justru datang dari orang tua atau keluarga sendiri, maupun masyarakat sekitar yang rata-rata masih memberi respon negatif terhadap anak-anak eks binaan LPKA. Kebanyakan orang menganggap bahwa anak-anak eks binaan LPKA sudah terlanjur rusak dan tidak mungkin berubah menjadi baik, sehingga menolak kehadiran kembali anak-anak tersebut di tengah-tengah mereka. Bagi yang tidak siap mental akan mudah terjerumus lagi pada perbuatan-perbuatan menyimpang sebagai bentuk pelampiasan kekecewaan atas penolakan masyarakat terhadap dirinya. Tentu hal ini harus menjadi perhatian kita semua. Bahwa tanggung jawab pembinaan anak-anak yang mengalami masalah hukum tidak bisa dibebankan sepenuhnya kepada pihak LPKA semata. Masyarakat secara umum memiliki peranan penting. Minimal menciptakan kondisi yang ramah bagi anak-anak, sehingga mereka merasa dihargai, termotivasi untuk mencontoh prilaku-prilaku yang baik dan mengindari hal-hal yang buruk.

Apapun, manfaat pembinaan yang dilakukan pihak LPKA Kutoarjo telah dirasakan oleh para anak binaannya. Salah satu di antara mereka adalah sosok bernama Alif yang menghuni LPKA Kutoarjo sejak September 2016 lalu. Miris adalah kata yang tepat untuk mengomentari kisah si Alif sehingga dia bisa masuk dan menjalani hukuman di tempat ini. Remaja polos berparas manis tersebut harus merasakan kejamnya dunia karena sebuah ketidak-tahuan. Maklum saja! Alif hanyalah lulusan SD. Dahulu sebenarnya bila dia mau, dia bisa melanjutkan sekolah. Namun pergaulan di lingkungan sekitar tempat tinggalnya begitu mempengaruhi Alif dan menyebabkannya enggan bersekolah. Ketika itu Alif sering bergaul dengan teman-teman sekampung yang berusia lebih di atasnya. Nah kebanyakan dari mereka sudah bekerja sebagai nelayan. Kebetulan kampung halaman Alif memang merupakan daerah pesisir pantai. Karena melihat teman-temannya sudah pada bekerja dan tentu memperoleh penghasilan lumayan buat mencukupi kebutuhan pribadi, maupun membantu perekonomian keluarga masing-masing, Alif serta merta tergerak untuk mengikuti jejak mereka. Tahun 2012 Alif resmi menekuni profesi nelayan. Hari-harinya pun sibuk dengan aktifitas berlayar, menjaring ikan dan mengumpulkan pundi-pundi rupiah. Namun ternyata keputusan Alif untuk tidak melanjutkan pendidikanya dan memilih melaut yang dirasa lebih menguntungkan secara hitung-hitungan ekonomi justru menjadi boomerang yang balik menghantam dirinya sendiri. Pendidikannya yang rendah membuat Alif kurang informasi dan pengetahuan, terutama terkait masalah hukum. Tak pelak dia begitu mudah diperalat dan dijadikan tumbal oleh suatu sindikat kejahatan.

Hari itu ada teman sekerja mengajak Alif supaya membantunya mengantar paket berisi ganja kepada pembeli, seorang teman juga yang belum terlalu lama mereka kenal. Belum sempat berfikir panjang, si teman memberi pilihan yang membuat Alif bimbang. Jika Alif menolak ikut mengantarkan paket ganja tersebut, maka motornya akan dipinjam dan dipakai untuk berpergian luar kota. Khawatir motor kesayanganya rusak atau hilang dibawa kabur, akhirnya Alif mengiyakan ajakan itu walau tanpa ada imbalan. Toh sesama teman kan sudah seharusnya saling membantu. Yang jelas saat itu Alif samasekali tidak tahu jika ganja adalah barang terlarang menurut hukum yang berlaku di negeri ini. Ketika sampai di lokasi transaksi, ternyata si pembeli hanya muncul sekilas saja. Orang itu lalu pamit pergi sebentar untuk mengambil paket ganja yang lain dan membuat Alif menunggu di lokasi tersebut. Tak dinyana datanglah seorang polisi yang langsung menangkap Alif. Teman yang mengajak Alif mengantarkan ganja pun tertangkap. Ironis karena peristiwa naas itu terjadi pada hari dimana seharusnya Alif berbahagia merayakan ulang tahunnya yang ke 17. Alif mengungkapkan, “Sakit hati pastilah. Saya kecewa sama teman saya itu. Saya bertanya apa salah saya kepadanya, kok dia tega menjerumuskan saya seperti ini? Dia hanya bisa bilang kalau dia sendiri juga kena jebak”. Namun apalah daya, nasi telah menjadi bubur. Mau tak mau Alif harus menjalani vonis 2 tahun di LPKA . Sementara temannya mendekam di LP Dewasa.

Baca Juga  Menistakan Agama

Tiga bulan awal berada di LPKA Kutoarjo adalah hari-hari berat bagi Alif. Dia mengaku depresi karena memikirkan banyak hal. Sedih terpisah jauh dari keluarga; marah mengingat penghianatan teman yang menjebloskannya ke dalam sel LPKA ; khawatir akan bagaimana masa depannya kelak; dan tertekan dengan kondisi kehidupan di LPKA yang serba terbatas, tidak senyaman kehidupan di luar yang dia lakoni sebelumnya. Beruntung Alif memiliki kedua orang tua yang begitu menyayanginya. Meski harus berulang-ulang menempuh perjalanan PP selama total 19 jam, mereka selalu menyempatkan waktu untuk membezuk Alif. Setiap kali berkunjung, mereka tak bosan-bosannya memotivasi supaya Alif bisa sabar dan ikhlas menghadapi kenyataan pahit dalam hidupnya ini. Mereka mempercayai Alif dan tidak pernah menyalahkannya atas segala yang telah terjadi. Itulah kekuatan cinta yang menjadikan Alif sosok yang tegar.

Hari berganti hari. Perlahan-lahan Alif mulai terbiasa dengan pola kehidupan di LPKA Kutoarjo. Bahkan kemudian dia mengerti makna dari ungkapan: “Di balik musibah pasti ada hikmah.” Dengan penuh semangat, dia mengikuti semua kegiatan pembinaan yang diselenggarakan pihak LPKA Kutoarjo.”Saya menyesal dulu pernah malas sekolah, sehingga tidak tahu apa-apa dan gampang dipermainkankan orang lain.Tetapi di sini saya memperoleh banyak pengetahuan. Saya justru dapat melanjutkan sekolah SMP. Tadinya saya tidak bisa mengaji, sekarang jadi bisa. Saya tahu otomotif, sablon, perikanan darat dan lain-lain. Yang terpenting saya juga memahami persoalan hukum. Paham tentang aneka macam obat-obatan terlarang atau narkoba dan resiko mengedarkan, maupun memakainya. Itu membuat saya takut dan tak mau lagi terlibat urusan terkait hal tersebut. Bila sudah bebas nanti saya akan lebih berhati-hati dalam bergaul. Tidak sembarangan mengiyakan setiap ajakan orang tanpa mempertimbangkannya terlebih dulu secara matang,” tutur Alif panjang lebar.

Kini Alif sudah bisa mengikhlaskan hal buruk di masa lalunya dan tidak lagi bingung akan masa depannya. Karena telah menyadari bahwa pendidikan begitu penting, dia berencana setelah keluar LPKA nanti akan terus melanjutkan sekolah hingga jenjang yang memungkinkan dia capai , selain kembali bekerja melaut plus mengembangkan ketrampilan-ketrampilan lain yang diperoleh dari LPKA Kutoarjo. Dia pun sudah siap mental jika ada orang yang masih terus melontarkan stigma negatif dan memandang sebelah mata kepadanya. Dengan tegas Alif berujar,”Pada kasus ini saya tidak merugikan orang lain. Saya hanya merugikan diri sendiri karena ketidak-tahuan masalah hukum dan ketidakhati-hatian saya dalam bergaul. Jadi saya tidak perlu ambil pusing terhadap komentar orang yang jelek-jelek mengenai diri saya.” Alif berharap kisah kelam dalam hidupnya ini menjadi pelajaran setiap orang , terutama bagi teman-teman sebayanya. Bahwa jangan pernah mencoba-coba menyentuh, apalagi memakai narkoba! Sebab kesenangan yang didapat hanya untuk sesaat. Selebihnya penderitaan jiwa raga dalam jangka waktu lama, bahkan kemungkinan terburuk sampai terrenggut nyawa. Alif yang mengedarkan ganja tanpa sengaja saja mesti merana diganjar hukuman 2 tahun dan sesungguhnya sudah banyak contoh yang tak kalah memilukan ketimbang kasusnya tersebut.

Memang tiada satu pun manusia yang sempurna di muka bumi ini. Setiap orang tak akan luput dari kesalahan dan dosa. Jadi orang yang baik bukanlah orang yang tidak pernah melakukan kesalahan. Melainkan orang yang menyadari kesalahannya, bertaubat dan sungguh-sungguh berusaha memperbaiki kesalahan tersebut. Karena Allah Maha Pengampun, sebagaimana firman-Nya dalam Al Quran surah Az Zumar ayat 53 yang berarti: ”Katakanlah, Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah! Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

 
Penulis : Sri Widowati Retno Pratiwi
Editor : Muh Khoirudin

Comments

SHARE
Previous articleNawan SI Penggagas Kampung Dongeng Pakedai
Next article17 Agustus Untuk Para Veteran Indonesia
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
REVIENSMEDIA.COM hadir untuk menampung pemuda-pemuda kreatif, inspiratif se Indonesia. Keterbukaan, keragaman dan explorasi talenta adalah tujuan reviensmedia.com. Slogan kami adalah: Explorasi untuk Kebersamaan dan Harmoni. Selain web, media yang kita gunakan adalah media sosial lainya. Di media ini kami Bersama-bersama mengembangkan passion, dan karya yang kami hasilkan berupa tulisan dan audio visual. Kami tergabung dalam persahabatan dan karya di ajang Sahabat Reviens yang tersebar seantero nusantara seperti Jakarta, Kebumen, Pontianak, Bitung, Purworejo, Pekanbaru, Sumbawa, Bekasi, Depok dll.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here