Foto Kemeriahan Launching Film Dokumenter Sayap Garuda di Hargorojo

0
381
Pemutaran perdana film dokumenter sayap garuda di Hargorojo
IMG-20170819-WA0063
Pertunjukan Umar Faruk melukiskan keberagaman di Desa Hargorojo sebelum acara pemutaran perdana film sayap garuda di Hargorojo
IMG_20170821_021138
Dihadiri oleh Camat dan Sekretaris camat Kecamatan Bagelen
IMG-20170819-WA0035
Antusias penonton saat pemuatran perdana film sayap garuda di Harhorojo
IMG-20170819-WA0043
Penampilan langit sore band dalam membawakan soundtrack film sayap garuda di Hargorojo
IMG-20170819-WA0026
Antusias penonton saat pemuatran perdana film sayap garuda di Harhorojo
IMG-20170819-WA0044
Membludagknya penonton pemutaran perdana film dokumenter sayap garuda di Hargorojo

Comments

Baca Juga  Santri Bodoh yang Hobi Memainkan Kamera
BAGIKAN
Berita sebelumya17 Agustus Untuk Para Veteran Indonesia
Berita berikutnyaSepasang Mata Takdir Tuhan
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
SINOPSIS: Ibukota riuh dengan masalah sentimen agama dan sara. Apalagi menjelang helatan pemilihan Gubernur. Sepertinya setelah Jakarta usai, ada beberapa pihak yang menginginkan peristiwa ini menjalar sepenjuru nusantara. Sementara di Hargorojo. Sebuah desa di tapal batas Jawa Tengah & Yogyakarta yang sangat natural dan berpencaharian rata-rata sebagai penderes gula semut ini realitasnya dengan 3 agama yang di anutnya yakni Islam, Buddha Theravada & Buddha Nichiren Shosyu di bawah Majelis Nichiren Shosyu Buddha Darma Indonesia (MNSBDI) , Katolik serta melakukan hidup sederhana & senyum, gotong royong ikhlas ala Jawani. Friksi-friksi kecil, dinamisnya persahabatan, atau canda tawa, dan masalah keseharian yang dialami masyarakat ini semakin mengukuhkan bahwa masalah agama, sentimentil lainnya sudah lewat di desa ini. Tingkatan dari segenap warga sudah sampai tertinggi dimana Bhinneka Tunggal Ika sudah menjadi nafas dan Pancasila sudah ada di dada mereka. Desa permai ini menyimpan satu kekuatan besar. Contoh kebhinekaan nyata di Indonesia. Dengan nilai lebih ada tambang emas tradisional, lokasi Perang Diponegoro karena termasuk di Gugusan Menoreh, dekat pula dengan Bandara baru Yogyakarta. Beberapa orang Denmark, Japan, Israel pun diam-diam berkunjung ke sini dengan misi dan tujuan berbeda.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here