Sepasang Mata Takdir Tuhan

0
328

Karya: Pinott Abalard

Senja mungkin tak lagi bersahabat denganku. Sederet kata-kata itu menamparku begitu keras, hingga pergantian hari itu pun terasa menyesakkan dada. Aku hanya bisa diam sembari mencari apa yang salah dengan diriku. Perbincangan ke dua orang tuaku yang tak sengaja ku dengar begitu melebamkan hatiku.
“Mau jadi apa anak kita itu, kerjanya cuma keluyuran nggak jelas. Dia kan lulusan sarjana pendidikan, mbok ya ngajar-ngajar dulu latihan.” Kata ibuku kepada bapak.

“Masa bodohlah mau jadi apa, terserah.” Balas bapakku dengan nada bicara tinggi.

Sungguh mengerdilkan hidupku rasanya perkataan mereka. Memang kehidupanku terlihat berantakan, karena jarang di rumah dan hanya keluyuran. Tapi apakah mereka tahu sampai mana usahaku untuk menjadi seperti apa yang mereka inginkan. Beberapa sekolah telah aku datangi untuk menitipkan ijazahku, tak ketinggalan lamaran kerja aku kirim via email ke dinas pendidikan yang membuka lowongan kerja. Berjalannya waktu teleponku belum pernah berdering untuk memenuhi panggilan kerja dari sekian banyak instansi yang aku lamar.

Baca Juga  Bukan Karena Mereka, Tapi Karena Kita

Mengisi waktu penantianku itu aku tak hanya diam. Aku membangun usaha kecil-kecilan yang memang tidak semua orang mengetahuinya. Selain itu aku juga kerja serabutan demi mencukupi kebutuhanku sehari-hari. Aku sadar diri, aku bukanlah anak kecil yang apa-apa minta kepada orang tuanya. Aku sadar betul itu. Entah dari sudut mana ke dua orang tuaku menyalahkan diriku. Apa jalanku ini benar-benar salah, sehingga bapakku begitu mengacuhkan diriku gara-gara pekerjaanku sementara ini bukanlah guru. Aku sudah berusaha namun memang Tuhan belum berkehendak.

Banyak jalan hidup yang ku pilih memang unsur sosial, tak ada berharap imbalan untuk pekerjaanku. Niatku tulus untuk menolong orang lain. Harapanku semoga keringat-keringat yang terkucur ini dapat menjadikan senyum untuk mereka. Cukup untuk mereka doakan saja aku, agar menjadi orang yang lebih bermanfaat untuk orang lain.

Baca Juga  TEMAN BUKAN TEMAN

Tidak mudah bagiku untuk menjalani semua ini. Dari berbagai sudut aku hanyalah seonggok sampah yang layak untuk dibakar. Aku seperti tak berguna, semua mata menuduhku suram. Tapi aku percaya dari sekian banyak pasang mata ada yang menatapku tegar. Mata itu percaya, aku bukanlah manusia yang pantas untuk dikerdilkan. Mata itu percaya, aku adalah orang paling hebat di dunia. Mata itu percaya, aku adalah bulan di antara bintang-bintang. Mata itu percaya, aku adalah seorang yang tidak takut dengan badai. Mata itu membara menatapku, seraya berkata engkaulah yang sempurna.

Tiada aku bersimpuh rapuh karenanya, dialah sepasang mata yang kerap membangunkanku di antara keluh. Sorot matanya yang menegarkanku di kala pundakku terasa berat. Dari sinilah aku menorehkan cita. Dengan pandangan matanya aku berdiri tegar. Dengan kerlipnya aku bangga. Karena engkaulah sepasang mata yang ditakdirkan Tuhan untuk memandangku dari hati yang tulus.

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here