REVIENSMEDIA.COM, PURWOREJO – Bulan Agustus adalah bulan spesial bagi masyarakat Indonesia karena memuat tanggal kemerdekaan negeri ini, yakni 17 Agustus . Dan sudah menjadi tradisi, pada setiap perayaan HUT RI digelar beragam kegiatan di berbagai pelosok tanah, seperti tirakatan, upacara bendera, karnaval dan pentas hiburan rakyat. Tak ketinggalan aneka perlombaan, dari yang serius hingga yang terkesan konyol dan mengundang gelak tawa. Intinya semua itu sebagai wujud rasa syukur dan kegembiraan akan pertambahan usia negeri tercinta. Selain juga untuk memupuk semangat nasionalisme, kebersamaan, dan persatuan kesatuan seluruh anak bangsa. Nah dalam semarak perayaan kemerdekaan RI yang ke 72 tahun ini, Reviensmedia turut ambil bagian dengan melakukan kegiatan yang tergolong istimewa. Ya pada 18 Agustus lalu, kami melaunching sebuah film dokumenter berjudul “Sayap Garuda di Hargorojo” yang menjadi sesi puncak acara pentas seni HUT RI di balai desa Hargorojo, kecamatan Bagelen, kabupaten Purworejo. Dan OMG…!!! Tanpa kami duga penonton membludak. Diperkirakan ada sekitar 400 an orang memadati pelataran balai desa Hargorojo. Mereka tetap antusias hingga pemutaran film tersebut selesai, meski sebagian besar harus berdiri berdesak-desakan dan menahan dinginya hawa larut malam.

Alhamdulillah, akhirnya bisa bernafas lega selega-leganya. Padahal sebelum itu harap-harap cemas begitu menyelimuti kami semua, terutama anggota kru yang terlibat produksi bertema pluralisme atau kebinekaan ini. Tak lain karena kami sadar karya yang kami buat itu bukanlah sesuatu hal yang populer di tengah masyarakat kita. Teori umum menyatakan kalau ingin membikin film dengan harapan memiliki berjuta-juta umat penggemar, maka bikinlah film fiksi yang menjual mimpi dan bernuansa baper, maupun yang lucu-lucu batok, batoke ela elo. Film dokumenter bertema kebinekaan??? Apalagi sudah muncul seorang Dzawata Afnan yang secara semena-mena menulis preview bertajuk ”Kesalahan Film Sayap Garuda di Hargorojo” dengan 10 poin uraian dan gawatnya termuat di koranpurworejo.id. “Waduuuhhh….!”, demikian status bos Iril ketika share tulisan tersebut. Saya yang tiba-tiba kena virus pajero (panas njobo njero) bergegas membacanya. Entah bagaimana kalau rekan-rekan yang lain. Tetapi kemudian saya jadi senyum-senyum geli seharian karena ternyata itu konspirasi gokil Dzawata Afnan dengan bos Iril yang seperti teknik roasting dalam seni stand up comedy. Beruntung, kenyataan lebih indah ketimbang bayangan. Dzawata Afnan pun termaafkan. Sedangkan bos Iril ya dimaklumi saja. Sebagai Dirut Reviensmedia dia punya hak prerogative untuk menggunakan segala cara demi memacu semangat kerja anak buahnya.

Baca Juga  SINERGIKAN KOTA, ETAWA OUTBOUND MUNCUL DI PURWOREJO

IMG_20170821_021138

Apapun, kesuksesan launching perdana film Sayap Garuda di Hargorojo juga tak lepas dari peran Pemdes beserta seluruh warga Hargorojo. Mereka telah bekerja semaksimal mungkin, saling bahu-membahu mempersiapkan tempat, panggung berikut fasilitas-fasilitas lain yang layak bagi kami. Mereka juga total menyajikan bermacam-macam pertunjukan seni tradisional, maupun modern yang tentu saja menjadi alat sangat efektif dalam menarik minat masyarakat luas untuk berbondong-bondong mendatangi pesta Agustusan nan berkesan ini. Tak ketinggalan pula kehadiran rekan-rekan seniman pengisi acara, seperti Langit Lensa Sore Band dan pelukis lumpur, Umar Faruq yang tampil begitu memukau, sehingga suasana semakin cetar membahana terpampang nyata. Tiada kata yang bisa diucapkan , selain terimakasih, terimakasih dan terimakasih.

IMG-20170819-WA0044

“Melihat kondisi warga desa Hargorojo yang meski terdiri dari beberapa pemeluk agama yang berbeda-beda, namun tetapi bisa hidup rukun , damai dan penuh dengan semangat gotong-royong, maka tercetuslah ide untuk mengangkat hal tersebut ke dalam format film dokumenter. Wajah keberagaman di Hargorjo yang harmonis itu sangat inspiratif karena jarang ditemukan di tempat lain,” ujar Muh Khoirudin selaku sang sutradara. Ya sejatinya Tuhan YME menciptakan Indonesia dalam wujud negeri yang prural, terbentuk dari aneka elemen suku bangsa, bahasa, budaya dan agama. Semua menyatu erat dalam semboyan Bhineka Tunggal Ika (berbeda-beda tetap satu juga) yang dicengkeram kuat dan diterbangkan oleh sang burung Garuda nan perkasa sebagai lambang negara dengan Pancasila, falsafah kehidupannya. Namun belakangan kebhinekaan negeri ini mulai terkoyak oleh ambisi kekuasaan dalam kontestasi pesta demokrasi Pilkada, khususnya di ibukota, Jakarta yang sarat akan kampanye hitam pengusung isu-isu Sara.Tak pelak hal ini menyebabkan konflik kebencian, bahkan pertumpahan darah di antara sesama anak bangsa yang jelas kontraproduktif bagi pembangunan masa depan Indonesia. Oleh sebab itu perlu upaya untuk mengingatkan dan menumbuhkan kembali atau memperbaharui ruh kebhinekaan negeri ini melalui berbagai cara.

IMG-20170819-WA0060

Maka sebuah tim Reviensmedia segera terjun ke Hargorojo demi mengungkap satu kisah nyata bahwa sesungguhnya masih ada tersisa spirit kebhinekaan itu meski secuil sekalipun. Tinggal bagaimana kita menyalurkannya ke seluruh penjuru negeri, sehingga bisa menjadi gerakan moral untuk mengutuhkan kembali jalinan persatuan dan kesatuan segenap elemen bangsa yang tentu mengarah pada kejayaan di masa-masa mendatang. Proses syuting selama 5 bulan dengan peralatan terbatas bukanlah perkara mudah. Semangat dan kerja keraslah yang membuat film dokumenter Sayap Garuda di Hargorojo dapat hadir di hadapan khalayak luas.

Baca Juga  David Darmawan: Bangsa Ini Butuh Ketauladanan dan Ethos Kerja !

“Luar biasa”, komentar camat Bagelen, Bambang Setiyo Hudoto selepas penayangan perdana film ini. Dia begitu bangga bisa menyaksikan gambaran gamblang tentang romantisme keberagaman di Hargorojo, salah satu desa yang termasuk dalam lingkup wilayah kecamatan yang dipimpinnya itu. Baginya hal tersebut adalah modal berharga bagi pembangunan daerah pada khususnya dan pembangunan nasional pada umumnya. Sedangkan Prajoko dari Paguyuban Warga Bagelen (PWB) mengaku sangat senang mengingat film Sayap Garuda di Hargorojo tidak hanya menyorot masalah pluralisme saja. Film ini semakin bernilai lebih karena juga menonjolkan potensi-potensi lokal, misalnya keseharian warga Hargorojo yang rata-rata bermata-pencaharian sebagai penyadap nira kelapa atau penderes gula semut dan frame keindahan obyek wisata Gunung Ijo. Sementara itu Junaidi Setiyono ,dosen Universitas Muhammadiyah Purworejo (UMP) sekaligus novelis yang belum lama ini telah go internasional menyatakan bahwa Sayap Garuda di Hargorojo sudah cukup bagus sebagai film dokumenter untuk konsumsi komunitas-komunitas tertentu, semisal kalangan budayawan dan pemerhati sosial. Namun jika diharapkan menjadi suatu pesan yang menggerakkan seluruh lapisan masyarakat, terutama generasi muda, film tersebut masih terasa gagu. ”Perlu ada penambahan narasi yang cerdas, proporsional dan tidak menggurui,” ujarnya.

IMG-20170819-WA0063

Apapun masukan kritik dan saran kami terima sebagai bahan evaluasi demi peningkatan kualitas karya-karya kami mendatang. Kami juga sudah berancang-ancang untuk menggelar event pemutaran film Sayap Garuda di Hargorojo di berbagai daerah. Yang baru-baru ini adalah di Pontianak dan disusul Jambi pada 10 September 2017, serta daerah-daerah lain di Indonesia. Semoga saja kepakan sayap Garuda dari Hargorojo mampu melambungkan keberagaman nusantara yang harmonis dan damai menuju puncak peradaban dunia tertinggi. Amien

Penulis: Sri Widowati Retno Pratiwi
Editor: Muh Khoirudin

Comments

SHARE
Previous articleKeren!!! Juara 1 dan 2 makanan ter “enak” di dunia diraih Indonesia. Rendang dan nasi goreng. Sate nomor…
Next articlePemutaran Film Dokumenter Sayap Garuda di Hargorojo Menuai Banyak Pujian, Salah Satunya di Kota Pontianak
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
SINOPSIS: Ibukota riuh dengan masalah sentimen agama dan sara. Apalagi menjelang helatan pemilihan Gubernur. Sepertinya setelah Jakarta usai, ada beberapa pihak yang menginginkan peristiwa ini menjalar sepenjuru nusantara. Sementara di Hargorojo. Sebuah desa di tapal batas Jawa Tengah & Yogyakarta yang sangat natural dan berpencaharian rata-rata sebagai penderes gula semut ini realitasnya dengan 3 agama yang di anutnya yakni Islam, Buddha Theravada & Buddha Nichiren Shosyu di bawah Majelis Nichiren Shosyu Buddha Darma Indonesia (MNSBDI) , Katolik serta melakukan hidup sederhana & senyum, gotong royong ikhlas ala Jawani. Friksi-friksi kecil, dinamisnya persahabatan, atau canda tawa, dan masalah keseharian yang dialami masyarakat ini semakin mengukuhkan bahwa masalah agama, sentimentil lainnya sudah lewat di desa ini. Tingkatan dari segenap warga sudah sampai tertinggi dimana Bhinneka Tunggal Ika sudah menjadi nafas dan Pancasila sudah ada di dada mereka. Desa permai ini menyimpan satu kekuatan besar. Contoh kebhinekaan nyata di Indonesia. Dengan nilai lebih ada tambang emas tradisional, lokasi Perang Diponegoro karena termasuk di Gugusan Menoreh, dekat pula dengan Bandara baru Yogyakarta. Beberapa orang Denmark, Japan, Israel pun diam-diam berkunjung ke sini dengan misi dan tujuan berbeda.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here