REVIENSMEDIA.COM, PONTIANAK – Tim Reviens sukses memutar film dokumenter ini pada Minggu, 27 Agustus 2017, di Kantor Wilayah Kementerian Agama Kalimantan Barat.

“Masalah kegotongroyongan dan bersatu padu itu membutuhkan Pancasila. Sedangkan masalah agama itu sifatnya pribadi.”

Film Sayap Garuda di Hargorojo yang disutradarai oleh Muh Khoirudin menceritakan tentang kerukunan hidup umat beragama di Hargorojo, membuka tabir bahwa masyarakat Indonesia masih menjunjung tinggi kebhinekaan yang akhir-akhir ini menjadi polemik negara. Adanya beragam agama dan keyakinan yang tumbuh di tengah-tengah masyarakat, tidak menjadi halangan bagi mereka untuk hidup berdampingan di tanah Purworejo, Jawa Tengah. Bahkan perbedaan itu menjadikan mereka semakin kompak, hal ini bisa terlihat dari rumah ibadah yang berjejer rapi tanpa menimbulkan persoalan. Begitu pula saat perayaan hari besar agama, mereka bahu membahu agar bisa menyukseskan agenda rutin tahunan tersebut.

Baca Juga  Membangun Bisnis di Kalangan Anak Muda

Salah satu penonton film dokumenter, Imanah, menyebutkan bahwa kebhinekaan yang diangkat sebagai cerita, sangat sesuai dengan situasi yang dialami oleh Bangsa Indonesia saat ini. Beliau menambahkan, jika kebhinekaan pun juga sangat terasa di Pulau Kalimantan, khususnya Pontianak, dengan adanya beragam suku, budaya, agama, dan kepercayaan.

Nusantara memang tak bisa lepas dari Bhinneka Tunggal Ika yang tergantung di kaki Garuda. Keberagaman sudah ada tertulis dalam Kitab Sutasoma karangan Mpu Tantular di era Majapahit berkuasa. Sejak sebelum Bangsa Indonesia merdeka, nusantara sudah berbeda. Bagaimanapun, perbedaan ini yang mengindahkan Indonesia. Memberi warna dalam setiap jengkal tanah dari Sabang sampai Meraukenya. Menjadikan semarak dalam beragam bahasanya.

Baca Juga  Kenikmatan Itu Bernama Mundur

Penulis: Aila Nadari
Editor: Muh Khoirudin

Comments

SHARE
Previous articleMENGEPAKKAN SAYAP GARUDA DARI HARGOROJO
Next articleKeren Ni!! Wisata Alam Watu Salang Purworejo
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
Penulis yang bernama asli Miladani Iing Nadari ini tengah menikmati tugas barunya sebagai aparatur sipil negara (ASN) di Bumi Khatulistiwa. Sudah ada 14 karya yang lahir dari tarian jemarinya, antara lain Bintaro Spring Tide (Metamind, 2014), Padamu, dengan Sepenuh Hati (Mazaya Publishing, 2015), Sweet Pain of Horoscope (Pustaka Jingga, 2014), dll. Sangat senang bila disapa di FB, Instagram, atau Path dengan akun Miladani I. Nadari.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here