Realitas Sosial & Ekonomi dalam Sajak-sajak Aren

0
316

Oleh: HD Asrul
(Penulis puisi, esay dan aktivis di lembaga perekonomian GP. Ansor)

  Saya memang tidak produktif dalam membuat puisi, dan peryataan itu di amini oleh beberapa teman penulis, yang kebetulan kenal dengan saya. Mas Ilhan Erda sampai bosan menasehati. Lebih tepatnya memarahi- “ Mas kapan terbit lagi puisinya?”, bahkan ia sering menyindir ketika ketemu atau pas kebetulan jalan bareng.
Mas Budhi setyawan pun sampai menasehati, dengan nada menekan “ Terbitkan ulang dengan revisi.!”

Walaupun tidak disampaikan secara langsung lewat lisan. Artinya memang mereka secara moril telah mendukung saya untuk menerbitkan lagi kumpulan buku puisi.
Puisi bagi saya bukan sekedar imajinasi yang ditulis dengan kedaan sesadar-sadarnya, dengan mempertimbangan metaforis, diksi, nilai estetika dsb. Tapi perenunganlah yang membuat saya jarang dan tidak produktif, proses kreatif memang saya akui terjadi kelambatan, ketidakseriusan mungkin atau kurang konsen adalah hal yang selama ini jadi penghambat utama.

Pekerjaan yang berpindah-pindah, dari teknik ke travel, pemberdayaan ekonomi pedesaan sampai organisasi, terlebih lagi ketika saya kurang bisa menata jadwal, manajemen waktu yang amburadul turut menyumbang. Ah, ini hal yang harus diperbaiki ketika saya sudah konsen mau nulis.

Beruntung beberapa karya saya masih terselamatkan karena selama ini saya nulisnya pinjam laptop milik teman. Ada 13 puisi yang saya tulis di tahun 2013 terselamatkan di folder  laptop seorang teman.
Dari 13 puisi itu ada sebuah puisi yang membuat saya menjadi lega, karena puisi itulah dasar pemikiran saya dalam mengembangkan usaha Gula Aren Kristal. Disinilah benang merah antara imajinasi, puisi dan penghayatan, langsung saja simak puisinya:

Baca Juga  Kenapa Hari Kartini Diistimewakan?

PAGI BUNGA AREN

Subuh menyapa lewat embun yang luruh
di  daging daging daun.
dikokok ayam yang melarutkan  waktu fajar.
disaat bumbung di pundak, pisau penyadap lindap dalam pinggang,
diwangi nira semarakkan pagi yang masih berwarna tembaga
diwaktu musim bunga aren  yang dijamah lebah madu,
adalah irama palu palu yang bertalu rindu
saat nadi jelata yang berdegup dalam periuk dapur.
diatas tungku pembakaran mereka kunyah manis gula
dalam senyum dan tawa

Desember 2013

Puisi ini lahir pada penghujung tahun 2013, ketika para petani masih saya gambarkan dengan imajinasi datar, sentausa dan bahagia. Walaupun saya juga meminjam diksi “jelata”. Jelata dalam diksi itu bukan bermaksud jelata yang tidak bahagia dan sentosa, melainkan jelata dalam arti “rakyat biasa”.

Kehidupan petani gula kala itu memang masih relatif bahagia, tidak seperti kehidupan petani dan penggrajin gula saat ini. Dengan harga gula aren yang nasibnya tidak menentu bak perjudian maka, puisiku adalah kemaran bahkan kalau menurut beberapa teman saya itu “serapah”, dan mungkin kau terlalu banyak mengkonsumsi karya mas Wiji Thukul.

Baca Juga  Riwayat Pilkades: Pesta Demokrasi Ala Desa

Maka tak heran bila puisi ini dipuji oleh seorang pengulas, penulis dan aktivis puisi, juga sebagai Founder Kopi Sisa, Soekoso DM. Berikut tulisan singkat beliau:

“Pada sajak Pagi Bunga Aren, yang nampak runtut larik-lariknya, dan tersusun saling mendukung antara larik satu dengan larik – larik berikutnya. Sajak ini sederhana, menggambarkan kesederhanaan hidup pemetik nira pohon aren”

di waktu musim bunga aren yang dijamah lebah madu / adalah irama palu-palu yang bertalu rindu / saat nadi jelata yang berdegup dalam periuk dapur / di atas tungku pembakaran mereka kunyah. manis gula dalam senyuim dan tawa

Disadari atau tidak sekarang puisi saya adalah pemberontakan, karena realita dilapangan yang memang mengharuskan saya menulis puisi dengan lantang. Bukan karena saya sebagai perintis usaha Gendhis Aren, tapi melainkan puisi saya adalah wakil dari lidah para petani yang papa:

Kalau menulis sebuah karya hanya mau dipuja, tanpa ada efek moral dan penghayatan, juga sebagai kontrol untuk kebudayaan, politik dan berbangsa kita ini, lantas fungsi karya sastra sendiri mau dibawa kemana?. Jangan-jangan karya sastra menjadi berhala yang menyesatkan, atau lebih parah lagi ia tidak berdiri di kaki sendiri tapi sesuai pesanan.

Salam sastra, dan Aren jaya.

Comments

BAGIKAN
Berita sebelumyaPEMUDA SEKARANG MANA TAHU AYAM TALIWANG
Berita berikutnyaIni Clip Soundtrack Sayap Garuda di Hargorojo
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
REVIENSMEDIA.COM hadir untuk menampung pemuda-pemuda kreatif, inspiratif se Indonesia. Keterbukaan, keragaman dan explorasi talenta adalah tujuan reviensmedia.com. Slogan kami adalah: Explorasi untuk Kebersamaan dan Harmoni. Selain web, media yang kita gunakan adalah media sosial lainya. Di media ini kami Bersama-bersama mengembangkan passion, dan karya yang kami hasilkan berupa tulisan dan audio visual. Kami tergabung dalam persahabatan dan karya di ajang Sahabat Reviens yang tersebar seantero nusantara seperti Jakarta, Kebumen, Pontianak, Bitung, Purworejo, Pekanbaru, Sumbawa, Bekasi, Depok dll.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here