REVIENSMEDIA.COM, BANDUNG – Taksi online berhenti tepat di depan deretan ruko tak terpakai di Jalan Tamblong No. 27 Bandung. Taksi tidak dapat berhenti lama, karena tidak ada lahan parkir yang tersedia yang bisa berpotensi menyebabkan kemacetan. Dari seberang jalan, terlihat jelas deretan ruko khas oriental, beberapa di antaranya dalam kondisi rusak, cat terkelupas, dan dinding yang berlumut. Namun, dari beberapa ruko tersebut, ada satu buah ruko yang mempunyai tampilan lebih mencolok. Warna merah dan emas mendominasi setiap sudut facade gedung. Langkah kaki semakin mantap untuk menyeberang jalan Tamblong. Inilah masjid yang menjadi simbol toleransi umat beragama, khususnya di Kota Bandung Raya. Masjid Lautze 2.

Oei Tjeng Hien adalah orang yang paling bertanggung jawab mengenai keberadaan masjid tersebut. Dia seorang peranakan yang menjadi mualaf dan kemudian mendirikan masjid Lautze 2 pada tahun 1992 sebagai simbol kerukunan umat beragama di kota Bandung. Masjid ini tidaklah sebesar dan semegah masjid Istiqlal ataupun masjid Agung Bandung, namun masjid ini besar karena rasa toleransi dan kerukunan umatnya. Sebagai bagian dari keragaman umat beragama, masjid ini hadir membawa pesan damai. Tidak banyak yang tahu mengenai masjid ini. Mungkin dari kita yang pertama kali melihatnya akan menyangka bahwa itu adalah sebuah wihara, namun jangan salah, itu hanya tampilannya saja. Apabila anda memasukinya, akan ada sebuah papan nama besar bertuliskan huruf Arab, “Assalamualaikum” di atas pintu masuk. Ruangan di dalam masjid tidaklah besar. Hanya berukuran 4 x 4 meter, selain itu ruangan hanya bisa menampung sekitar 20 orang. Cukup sempit untuk ukuran sebuah masjid.

Baca Juga  Situs Batu Kalbut di Kecamatan Ayah–Kebumen

Setiap bagian masjid dicat berwarna merah dan kuning emas, selain itu di atas mimbar masjid juga dihiasi beberapa buah lampion. Sangat identik dan berbau oriental. Nuansa ibadah seolah terbawa ke alam bawah sadar. Inilah yang ingin disampaikan oleh Oei Tjeng Hien sebagai pendiri Masjid Lautze. Keberagaman dalam balutan Indonesia harus tetap dijaga dan dirawat, termasuk dalam hal beribadah. Saling menghormati dan menjaga hak ibadah orang lain adalah landasan utama pluralisme. Konsekuensinya bermacam-macam, suguhan klasik berbagai tindakan skandal mengatasnamakan agama dan isu sara.

Baca Juga  Fakta di Balik Kegiatan Kerjabakti

Kehadiran masjid ini sangat dinantikan warga Bandung, bukan hanya bagi mereka yang beragama Islam dan Kong Hu Chu, namun hampir seluruh umat beragama di kota Bandung. Masjid ini merupakan wujud penerapan Bhineka Tunggal Ika di Indonesia yang saat ini tengah diuji keberadaannya. Diombang ambingkan oleh kepentingan segelintir orang yang ingin memecah belah bangsa. Salam Mas Awan Purworejo.

Penulis: Yuli Setyawan
Editor: Muh Khoirudin

Comments

SHARE
Previous articleIni Clip Soundtrack Sayap Garuda di Hargorojo
Next articleAngkringan Literasi, Perdana di Gelar SMK YPE Sawunggalih Kutoarjo
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
REVIENSMEDIA.COM hadir untuk menampung pemuda-pemuda kreatif, inspiratif se Indonesia. Keterbukaan, keragaman dan explorasi talenta adalah tujuan reviensmedia.com. Slogan kami adalah: Explorasi untuk Kebersamaan dan Harmoni. Selain web, media yang kita gunakan adalah media sosial lainya. Di media ini kami Bersama-bersama mengembangkan passion, dan karya yang kami hasilkan berupa tulisan dan audio visual. Kami tergabung dalam persahabatan dan karya di ajang Sahabat Reviens yang tersebar seantero nusantara seperti Jakarta, Kebumen, Pontianak, Bitung, Purworejo, Pekanbaru, Sumbawa, Bekasi, Depok dll.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here