REVIENSMEDIA.COM, ARAB SAUDI – Inilah Kabah, bangunan baitullah atau rumah Allah yang berlokasi di kota Mekkah, negeri Arab Saudi. Tempat suci idaman bagi setiap muslim yang bertaqwa untuk dikunjungi dalam rangka menunaikan ibadah haji dan umroh. Saking rindunya ingin ke tempat tersebut, tak jarang sampai hilang kewaspadaan, sehingga puluhan, bahkan ribuan orang kena jerat penipuan oknum —oknum pengusaha biro travel haji dan umroh yang tak bertanggung jawab. Demi menggapai cinta Allah yang berujung pada kebahagiaan dunia akhirat memang butuh perjuangan sangat keras. Tak lain karena pasti akan ada kendala, rintangan, dan cobaan yang mesti dilalui terlebih dahulu. Seperti pepatah: “No pain, no gain.” Suatu pencapaian tujuan atau hasil tidak pernah menghianati usaha-usaha yang sudah dilakukan.

Terlepas dari apapun, sungguh banyak hal-hal unik dan menarik yang dialami oleh orang-orang Indonesia yang pernah berkunjung atau menetap di Arab Saudi untuk berbagai keperluan. Salah satunya adalah pengalaman ustadz Lalu Syafieq Al Badrien, ustadz muda asal pondok pesantren Anas Bin Malik, Lombok Timur, NTB yang setahun lalu bermukim dan menuntut ilmu agama di negri berlandaskan syariat Islam itu.Ustadz Syafieq mengungkapkan bila pada sepanjang bulan puasa di masjid Nabawi, kota Madinah Al Munawaroh rutin diselenggarakan acara buka bersama yang merupakan buka puasa terbesar di dunia dengan sponsor para orang kaya shalih nan dermawan. Lebih dari 12.000 meter taplak meja tergelar di masjid itu untuk memfasilitasi buka puasa sekitar 300.000 muslim setiap harinya. Hidangan yang disajikan meliputi130.000 liter air zamzam, 50.000 liter kopi Arab, 50 000 liter jus buah, 300.000 roti gulung, 40 ton buah kurma, 50.000 liter yoghurt dan susu dengan total pengeluaran biaya sekitar 1 juta riyal atau 3 milyar per hari. Acara buka puasa di masjid Nabawi itu berlangsung kurang dari 15 menit. Namun yang mengagumkan adalah 15 menit setelah buka puasa, di seluruh penjuru masjid tersebut tidak ada tanda-tanda bekas makanan atau minuman apapun dan kemudian berjibun-jibun jamaah bisa segera melaksanakan shalat magrib bersama-sama. Padahal sewaktu berbuka, jumlah kurma yang disantap di masjid ini dalam sehari saja diperkirakan habis 5 juta butir lebih.

Namun ustadz Syafieq mengaku jika pengalaman yang paling mengesankan baginya adalah ketika mengerjakan ibadah haji. Dia bertutur, “Saat di Arafah jutaan muslim dari berbagai bangsa berkumpul bersama. Yang berkulit hitam, yang berkulit putih, yang matanya sipit, maupun yang bermata bulat semua bersatu dan berdzikir hanya kapada Allah. Selanjutnya beranjak beriringan dari Arafah menuju Muzdalifah dengan serempak mengucapkan kalimat talbiah Labbaik Allaahumma Labbaik. Dalam perjalanan dari Arafah ke Muzdalifah hingga menuju Mina, nampak para petugas keamanan yang sigap disepanjang jalan. Ada yang bertugas mengipasi jamaah; ada yang bertugas menyirami jamaah dengan air agar mereka merasa sejuk meski berada di tengah suhu wilayah Arab Saudi yang terkenal ekstrim; ada yang membagi-bagikan makanan dan minuman; ada yang menggendong jamaah yang sakit, maupun berusia renta; dan banyak lagi pengalaman yang tentunya tidak bisa saya ceritakan satu persatu di sini.” Bagi ustad Syafieq hikmah yang dapat di petik dari semua itu adalah betapa agungnya Sang Maha Pencipta ketika mengumpulkan seluruh hamba-hamba yang bertaqwa dalam satu ikatan iman kepada-Nya. Maasyaa Allah…!

Baca Juga  DASAMUKA MENJAWAKAN AMERIKA

Yang tak kalah mengesankan adalah antusiasme warga Arab Saudi dalam menjamu para jamaah haji. Setiap kali musim haji tiba, mereka senantiasa menghamparkan sufroh, yakni plastik panjang yang biasa digunakan oleh rumah-rumah makan sebagai alas tempat nasi. Di mesjid Nabawi, khususnya pada 10 hari dari bulan Dzulhijjah akan nampak pemandangan yang membuat hati berdecak kagum. Hamparan-hamparan sufroh memanjang dari utara mesjid sampai ke bagian selatan dan dari depan sampai belakang mesjid yang masing-masing sufroh berisi kurma-kurma muda, kurma sukkari, segelas zam-zam, the, kopi, sepotong roti dan lain-lain. Semua hidangan tersebut disedikan untuk jamaah yang sedang berpuasa sunnah. Bagi yang tidak berpuasa pun boleh ikut menikmatinya. Nah yang menarik dan seru adalah ketika para pemilik sufroh (shohib sufroh) saling berebut jamaah agar mau duduk di depan sufroh mereka masing-masing.

“Jika Anda keluar mesjid setelah menunaikan sholat maghrib atau isya Anda kembali akan dikejutkan dengan antrian panjang para jamaah di pinggir-pinggir jalan menuju hotel untuk mengambil sebungkus nasi Bukhori plus Syawaya atau ayam panggang. Sebagian mahasiswa termasuk saya terkadang juga ikut mengantri untuk mendapatkan bungkusan nasi tersebut. Lumayan makan gratis… tis”, ujar ustad Syafieq. Selain antrian nasi, masih ada antrian makanan lain yang tak kalah panjang, yakni antrian jatah roti Tamis, roti bakar berbentuk bundar tipis.

Baca Juga  Pieniądze wyposażenie nadal stworzyli interesuje informacje.

Biasanya antrian roti Tamis ini dimeriahkan oleh jamaah asal India, Pakistan, Bangladesh, Indonesia dan jamaah dari negara lainnya yang ingin merasakan lezatnya perpaduan antara Tamis dengan daging sebagai lauknya. Kemudian antrian jatah sebotol Zabadi yang merupakan susu beku hasil fermentasi. Zabadi yang biasanya dibagikan di pintu keluar halaman mesjid, maupun di halaman Masjid Nabawi. Terkadang juga disandingkan dengan kurma atau roti dan yang lainnya di atas sufroh buat berbuka puasa tadi. Tak cukup hanya itu saja. Selalu terlihat tumpukan-tumpukan kardus berisi minuman kemasan yang dibagi-bagikan kepada jamaah yang melewati jalan tersebut. “Glek..glek..glek..aaah..” Tiga kali tegukan cukup untuk mendinginkan tenggorokan kering karena cuaca kota Madinah yang panas. Sebuah truk kontainer pun diparkir di depan halaman hotel tidak jauh dari mesjid Nabawi. Truk raksaksa milik almarhum raja Arab Saudi pendahulu raja Salman itu penuh memuat kotak-kotak berisi aneka macam roti yang spesial disediakan untuk para jamaah haji. Singkat cerita tidak ada istilah kelaparan kalau berada di seputar lingkungan masjid Nabawi.

“Masih banyak lagi kegila-gilaan lainnya yang akan Anda jumpai di Arab Saudi,” kata ustadz Syafieq menambahkan. Ya bagi kalangan mahasiswa, baik yang berstatus warga lokal, maupun perantau asing, Arab Saudi bisa dibilang surganya pendidikan. Di sana seluruh mahasiswa yang belajar di universitas negeri tidak perlu membayar biaya kuliah sepeser pun. Bahkan justru mendapat asrama gratis dan uang saku bulanan senilai 900 riyal atau kurang lebih 2,5 juta rupiah. Sedangkan para mahasiswa yang sudah menamatkan pendidikannya namun belum juga mendapat pekerjaan tetap selama 2 tahun setelah selesai kuliah, maka mereka berhak atas bantuan tunjangan sebesar 2.000 Riyal atau sekitar 6,8 -7 juta rupiahper bulan. Ustadz Syafieq sendiri meski bermukim hanya setahun saja di Arab Saudi sebagai seorang penuntut ilmu , nyatanya dia memperoleh kesempatan untuk menunaikan haji secara cuma-cuma. Jadi belajar dan berhaji ke Arab Saudi, mengapa tidak?

Penulis: Sri Widowati Retno Pratiwi
Editor: Muh Khoirudin

Comments

SHARE
Previous articleBung Karno Sang Proklamator RI
Next articleSaraba, Pengganti Kopi Saat Nongkrong
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
REVIENSMEDIA.COM hadir untuk menampung pemuda-pemuda kreatif, inspiratif se Indonesia. Keterbukaan, keragaman dan explorasi talenta adalah tujuan reviensmedia.com. Slogan kami adalah: Explorasi untuk Kebersamaan dan Harmoni. Selain web, media yang kita gunakan adalah media sosial lainya. Di media ini kami Bersama-bersama mengembangkan passion, dan karya yang kami hasilkan berupa tulisan dan audio visual. Kami tergabung dalam persahabatan dan karya di ajang Sahabat Reviens yang tersebar seantero nusantara seperti Jakarta, Kebumen, Pontianak, Bitung, Purworejo, Pekanbaru, Sumbawa, Bekasi, Depok dll.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here