REVIENSMEDIA.COM, MAKASSAR – Kala itu malam tiba, setelah sholat Isa dan setidaknya meluruskan tulang punggungku yang kira-kira sudah 4 jam duduk di kursi ekonomi Boeng 737nya milik anak perusahaan Garuda Indonesia. Aku dan Bang Jek, sapaan akrab sobatku yang bernama asli Dwi Joko ini memutuskan untuk menikmati malam di pinggiran pantai Losari.

Keindahan Losari di malam hari cukup menyejukkan hati namun sayangnya kesejukkan tersebut telah dicemari oleh oknum-oknum masyarakat yang tidak bertanggung jawab, bau “sengak” dari air kencing makhluk pemakan segala itu sangat menusuk di hidung terlebih sampah-sampah yang dibuang di laut Losari menumpuk hingga ikan pun enggan untuk bernafas.

Ya sudahlah namanya saja manusia, karena tak tahan dengan baunya kita memutuskan untuk mencari tempat nongkrong lain namun masih di kawasan pinggiran pantai Losari. Lucu banget pikirku, saat kita melewati kawasan food court pantai Losari kita akan mendengar pedagang-pedagang memanggil kita dengan cara menepuk-nepuk tangan dan melambaikan tangan, “Pisang Epe, Saraba, Jus pun ada” rayuan singkat para pedagang terhadap calon pembelinya.

Baca Juga  Nikmatnya Menyantap Laksa Tangerang

Finally, mata lelaki tak bisa dibohongi, kita tertuju pada seorang ibu muda yang tengah hamil memanggil-manggil hati seorang jomblowan. Tak kuasa kami pun bertandang ke warungnya, sedikit ngobrol dengan ibu muda tersebut, kita memesan pisang epe dan saraba.

IMG-20171009-WA0123

Info yang didapat, uniknya para pedagang di pinggiran losari ini menjajakan barang yang sama, yaitu pisang epe dan saraba, kalau kopi, jus, kue mungkin hanya sebagai pemanis saja. Dan rata-rata pembeli juga memesan pisang epe dan saraba, yang menurut saya aneh adalah kalau saya biasa nongkrong ditemani oleh secangkir kopi, namun beda kalau kita di Makasar secangkir kopi diganti dengan secangkir saraba untuk menemani malam kala itu.

Memang tergolong nikmat minuman khas Makassar ini bro, segar saat panas dan hangat pula di badan. Omong punya omong, komposisi dari saraba ini adalah gula merah yang dilarutkan ditambah jahe dan santan kelapa. Nah bukan mainnya, rasa jahe yang kuat bisa menghalau dinginnya malam pantai Losari bro, sedangkan gula merah menambah kadar glukosa kita supaya nongkrong lebih lama, nah klo protein nabati dari santan ini kayaknya baik untuk memperkuat otot biar nggak loyo kali ya hahhaha…skip deh soal ini..

Baca Juga  Cara Menyeduh Kopi Munthu dan Citarasa Tersembunyi dari Purworejo

Eh tapi katanya, ada beberapa teman asli Makassar kalau saraba ini sebenarnya cuma terbuat dari campuran air jahe dan santan saja, sedangkan gula merah atau pun susu itu merupakan inovasi dari para pedagang saja. Saraba pun menemani kita ngobrol hingga jarum jam menunjukkan pukul 00.00 waktu Indonesia tengah. Minuman pengganti kopi untuk menemani kita ngobrol sampai larut malam, saraba.

Penulis: Budi Cesar
Editor: Muh Khoirudin

Comments

SHARE
Previous articleYANG UNIK DI ARAB SAUDI
Next articleGreeting Pemutaran Film Dokumenter Sayap Garuda di Univ. Negeri Semarang
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
REVIENSMEDIA.COM hadir untuk menampung pemuda-pemuda kreatif, inspiratif se Indonesia. Keterbukaan, keragaman dan explorasi talenta adalah tujuan reviensmedia.com. Slogan kami adalah: Explorasi untuk Kebersamaan dan Harmoni. Selain web, media yang kita gunakan adalah media sosial lainya. Di media ini kami Bersama-bersama mengembangkan passion, dan karya yang kami hasilkan berupa tulisan dan audio visual. Kami tergabung dalam persahabatan dan karya di ajang Sahabat Reviens yang tersebar seantero nusantara seperti Jakarta, Kebumen, Pontianak, Bitung, Purworejo, Pekanbaru, Sumbawa, Bekasi, Depok dll.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here