PENGAJARAN BAHASA INGGRIS UNTUK MENDUNIAKAN KEARIFAN LOKAL

0
202

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa bahasa Inggris telah menjadi bahasa pengantar dalam penyebar-luasan ilmu pengetahuan dan teknologi dari sejak abad ke XX. Bahasa Inggris pun dipakai masyarakat dibanyak negara sebagai bahasa ibu. Alhasil di era globalisasi saat ini di mana tuntutan kompetensi semakin tinggi dan intensitas interaksi antarwarga lintas negara semakin meningkat membuat bahasa Inggris terasa sangat penting dikuasai. Bukan hanya demi memperlancar hubungan komunikasi pada skala internasional semata. Bahasa Inggis juga bisa dioptimalkan penggunaannya dalam mengembangkan ragam potensi di segala aspek kehidupan. Oleh sebab itu, penguatan pengajaran bahasa Inggris perlu terus dilakukan, sehingga standar kemampuan berbahasa Inggris yang sesuai dengan kebutuhan zaman dapat tercapai.

Berbagai hal terkait upaya penguatan pengajaran bahasa Inggris dikaji pada gelaran The 2nd ELTiC National Conference bertema “ Revitalizing English Teaching Learning Beyond The 21st Century: Challenges, Paradigms And Implications” di kampus Universitas Muhammadiyah Purworejo (UMP) beberapa waktu lalu. Salah satu keynote speaker, Professor Junaedi Setiyono mengungkapkan gagasan menarik tentang pemanfaatan pengajaran bahasa Inggris sebagai sarana untuk menduniakan kearifan lokal para siswa. Menurutnya perlu diketahui terlebih dulu mengenai permasalahan Native English Teachers (NET) dan Non Native English Teachers (NNET). NET adalah guru bahasa Inggris yang memang penutur asli bahasa tersebut dalam kesehariannya. Sedangkan NNET kebalikan dari NET, yakni guru bahasa Inggris yang bukan penutur asli bahasa itu.

Baca Juga  KPSI Apresiasi Pelayanan RSUD Arjawinangun

Dosen UMP ini berujar, ”Baik NET, maupun NNET memiliki keunggulan masing-masing. NET yang orang asing memiliki kemampuan bahasa Inggris lebih baik, terutama soal pengucapan bahasa Inggris serta pemahaman budaya yang menyertai bahasa tersebut dan lebih mampu memfasilitasi proses pembelajaran siswa. Sebaliknya NNET, dalam hal ini guru bahasa Inggris yang orang Indonesia memiliki kemampuan dalam memahami tingkat pengetahuan siswa dan tentang kesulitan-kesulitan belajar yang dialami para siswanya. Siswa pun lebih mudah memahami pengajaran NNET yang umumnya mengunakan dua bahasa (bilingual) ketika mengajar.” Pada kenyataannya pengajaran bahasa Inggris oleh NET di universitas dianggap lebih menarik bagi para mahasiswa ketimbang pengajaran bahasa Inggris oleh NNET. Meski demikian perlu ada sinergi antara NET dengan NNET, sehingga pengajaran Inggris menjadi semakin efektif .

“NNET dapat mengambil peranan penting, yakni mengarahkan siswa-siswanya untuk mengangkat potensi kearifan lokal di lingkungan tempat tinggal mereka masing-masing melalui kelas penerjemahan bahasa Indonesia-Inggris yang menerapkan Pengajaran Bahasa Berbasis Tugas (TBLT) Ada tiga langkah dalam pelaksanaan kegiatan kelas penerjemahan bahasa Indonesia-Inggris menggunakan TBLT itu. Pertama, NNET menetapkan atau meminta siswa untuk menulis esai naratif berbahasa Indonesia tentang pengalaman mereka berkaitan dengan kearifan lokal. Kedua, siswa menerjemahkan esai bahasa Indonesia mereka sendiri ke dalam bahasa Inggris. Kemudian NNET memberikan diskusi dan bimbingan guna memperbaiki esai bahasa Inggris siswa tersebut, baik dari segi leksikal (makna), maupun struktural (susunan) bahasa. Ketiga, NNET berkolaborasi dengan NET untuk memperbaiki esai bahasa Inggris para siswa secara idiomatically, yaitu supaya diterima secara kultural (budaya) oleh penutur asli bahasa Inggris, urai Prof Junaedi panjang-lebar.

Baca Juga  Polsek Kemayoran Ungkap dan Tangkap Pengedar Narkoba Bungkus Permen

Memang kegiatan penerjemahan bahasa secara tertulis bukan perkara mudah. Selain harus menguasai bentuk tata bahasa baku, juga harus dapat menafsirkan apa yang terlihat disampaikan dan apa yang sebetulnya disampaikan. Hal yang masih menjadi kelemahan bagi sebagian besar pelajar atau mahasiswa kita. Namun NNET perlu konsisten mengajarkan bahasa Inggris dengan cara ini sebagai salah satu alternatif untuk memperkenalkan dan mengembangkan potensi kearifan lokal ke kancah internasional. “Karena seorang intelektual tidak dinilai dari apa latar belakang pendidikannya. Tetapi bagaimana dia mampu memberi manfaat, berkontribusi bagi peradaban dunia.” Demikianlah yang Prof Junaedi tekankan.

Penulis: Sri Widowati Retno Pratiwi
Editot: Muh Khoirudin

Comments

SHARE
Previous articleHeboh !!! Kemeriahan Pemutaran Film “Negeri Dongeng”
Next articleSCREENING FILM DAN YOUNG LEADER AWARD MEWARNAI FAKULTAS HUKUM UNNES
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
REVIENSMEDIA.COM hadir untuk menampung pemuda-pemuda kreatif, inspiratif se Indonesia. Keterbukaan, keragaman dan explorasi talenta adalah tujuan reviensmedia.com. Slogan kami adalah: Explorasi untuk Kebersamaan dan Harmoni. Selain web, media yang kita gunakan adalah media sosial lainya. Di media ini kami Bersama-bersama mengembangkan passion, dan karya yang kami hasilkan berupa tulisan dan audio visual. Kami tergabung dalam persahabatan dan karya di ajang Sahabat Reviens yang tersebar seantero nusantara seperti Jakarta, Kebumen, Pontianak, Bitung, Purworejo, Pekanbaru, Sumbawa, Bekasi, Depok dll.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here