FILSAFAT LOGIKA SEBAGAI MATA PELAJARAN ‘PENYELAMAT’ DI ERA DIGITAL

0
207

Suatu kontradiksi memang dilihat dari kalimat diatas. Penggalan bagian pertama judul menggambarkan masa dahulu kala, dimana filsafat adalah ilmu pengetahuan tertua di dunia (Mater Scientiarium : Ibu dari segala pengetahuan). Sebaliknya, penggalan akhir kalimat judul menggambarkan masa moderen, serba hi-tech. Apa korelasi dua jaman ini (ancient vs modern) terhadap ‘keselamatan’ generasi NET? Berikut paparan-nya.

Apa artinya Logika berpikir?

Logika artinya menalar, artinya bertujuan untuk mencari KETEPATAN atau AKURASI. Logika ada yang bersifat alamiah dan ada yang bersifat ilmiah.

Logika alamiah dibawa sejak lahir dan bersifat spontan (mengandalkan common sense). Biasanya digunakan untuk permasalahan sepele sehari-hari.

Namun logika ilmiah perlu pembelajaran dan digunakan untuk permasalahan yang kompleks dan pelik atau pengambilan keputusan yang tidak mudah.

Contoh informasi:

Semua orang berambut keriting adalah berasal dari Papua

Toni berambut keriting

Kesimpulannya, Toni adalah orang Papua

Secara formal kesimpulan diatas adalah sahih (benar), tapi secara materi (konten) tidak benar. Lah kenyataannya ada orang yang berambut keriting bukan berasal dari Papua, contohnya saja etnis dari Afrika.

Mengapa keahlikan Logika/Bernalar SANGAT diperlukan di era digital saat ini?

Nah, seringkali masyarakat Indonesia mudah percaya informasi hoax biasanya dikarenakan materi datanya tidak benar atau juga palsu. Permainan editorial tulisan, editing video, pemalsuan data paling sering dilakukan oleh oknum-oknum yang dengan sengaja menggiring masyarakat kedalam opini yang salah.

Baca Juga  Menistakan Agama

Permasalahannya, nilai nilai dalam ilmu logika seringkali tidak diajarkan di sekolah. Proses penalaran, ketepatan berpikir, pola pikir kritis bukanlah nilai-nilai yang tidak diajarkan dalam pendidikan formal dan non-formal di Indonesia. Ilmu pengetahuan ditransfer kepada nara didik melalui satu arah saja. Argumentasi bukan dianggap sebagai proses penalaran, namun dianggap sebagai bentuk pembangkangan.

Dalam kultur budaya sekolah, guru dianggap pemilik pengetahuan tertinggi dan mempertanyakan pertanyaan beliau sering dianggap sebagai perilaku tidak hormat. Ironisnya, ilmu pengetahuan berubah seiring berjalannya waktu. Pengembangan ilmu pengetahuan menjadi lebih lengkap, lebih kompleks dapat saja terjadi. Perubahan ilmu pengetahuan juga dapat saja terjadi seperti misalnya penghapusan Pluto dalam daftar jajaran planet tata surya bumi. Pengetahuan baru tersebut diketahui dikarenakan pemeriksaan ulang dan teknologi yang semakin canggih sehingga informasi mengenai luar angkasa lebih akurat dari tahun tahun sebelumnya.

Sedangkan dalam kultur organisasi, suatu “kebenaran” umumnya dimiliki oleh mereka yang lebih berpengalaman dalam bidangnya, a.k.a senior. Padahal perubahan jaman berdampak pada perubahan perilaku manusianya. Masuk dalam era digital, populasi terbesar adalah milik generasi muda yang memiliki pola pikir yang berbeda degan generasi sebelumnya. Generasi Y dan milenial-lah yang paling memahami kebutuhan populasi era ini. Adanya kolaborasi antara pengetahuan terdahulu dan pengetahuan baru memberikan ‘kebenaran’ yang lebih baik.

Baca Juga  MENANGKAL RADIKALISME DAN MENANAMKAN NILAI TOLERANSI SARA (SUKU, AGAMA, RAS, ANTAR-GOLONGAN) KEPADA ANAK DAN REMAJA

Apa saja yang dapat dilakukan untuk menanggulangi berbagai informasi yang masuk melalui media elektronik?

3V (Validitas, Verifikasi, Verbal)

1. Validitas. Maksudnya apa? cek terlebih dahulu ke-akuratan (ketepatan) data-data awal proporsisi argumentasi, jangan terburu-buru cek kesimpulannya. Khususnya akurasi premis mayor WAJIB diperhatikan.

Fokus pada kebenaran isi pernyataan informasi.

2. Verifikasi. Cek sumber pernyataan. Apakah berasal dari blog pribadi, website yang tidak kredible, atau dari website resmi yang reliabel dan terpercaya?

3. Verbal. Sebelum memberikan opini, pernyataan, feedback, hati-hati dengan formasi kata-kata yang anda posting. Beda pengunaan kata, beda arti. Niat baikpun jika kemampuan berbahasa lemah, malah dapat menjadi bumerang untuk diri sendiri.

Contoh: Kamu mengacuhkan diriku. Sebagian orang mengartikan kata acuh sebagai “tidak peduli”, padahal artinya sebaliknya yaitu “peduli”

Pay attention on interpretation everyone!

Jangan salahkan teknologi dan tsunami informasi di era digital. Semua tergantung dari kesiapan dan kualitas logika penggunanya. Choose wisely!

Penulis: Elizabeth T Santosa (Praktisi Psikolog & Akademisi)

Comments

SHARE
Previous articleSCREENING FILM DAN YOUNG LEADER AWARD MEWARNAI FAKULTAS HUKUM UNNES
Next articleWayang Beber Metropolitan: Menajaga Peninggalan Budaya Nusantara
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
REVIENSMEDIA.COM hadir untuk menampung pemuda-pemuda kreatif, inspiratif se Indonesia. Keterbukaan, keragaman dan explorasi talenta adalah tujuan reviensmedia.com. Slogan kami adalah: Explorasi untuk Kebersamaan dan Harmoni. Selain web, media yang kita gunakan adalah media sosial lainya. Di media ini kami Bersama-bersama mengembangkan passion, dan karya yang kami hasilkan berupa tulisan dan audio visual. Kami tergabung dalam persahabatan dan karya di ajang Sahabat Reviens yang tersebar seantero nusantara seperti Jakarta, Kebumen, Pontianak, Bitung, Purworejo, Pekanbaru, Sumbawa, Bekasi, Depok dll.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here