Makam Unik Nisan Batik

0
261

“Makam itu seram, jendral…”. Begitulah kata sebagian orang yang sering berjalan super tergesa-gesa serta berraut muka pucat pasi ketika melewati area pemakaman karena ngeri arwah-arwah bergentayangan menghampiri. Ya, makam seperti sudah identik dengan tempat yang penuh kesunyian nan menakutkan dan tidak menarik samasekali. Maklum, makam adalah tempat menguburkan jasad-jasad manusia yang telah meninggal dunia. Namun makam yang berlokasi di desa Mirit, Kebumen ini akan mengubah stereotype tersebut. Ya inilah makam Kyai Lancing dengan tampilan unik yang sungguh berbeda, tidak sebagaimana makam-makam lain karena nisannya berupa tumpukan berlembar-lembar kain batik .

Kyai Lancing sendiri adalah seorang ulama yang diutus oleh pihak kesultanan Mataram pada era pemerintahan Sultan Agung Hanyokrokusumo untuk menyebarkan agama Islam di wilayah yang kini termasuk dalam lingkup kabupaten Kebumen dan kabupaten Purworejo. Kyai Lancing memiliki nama asli Kyai Sirad. Ada juga sebagian orang yang menyebutnya Kyai Bayi. Sepanjang hidupnya Kyai Sirad gemar mengenakan kain batik yang dalam bahasa masyarakat setempat pada waktu itu dikenal dengan istilah “Lancing”. Oleh karenanya Kyai Sirad kemudian dijuluki sebagai Kyai Lancing. Selain konsisten mendakwahkan ajaran Islam, Kyai Lancing juga gigih melakukan perlawanan terhadap kesewenang-wenangan penjajah Kompeni Belanda. Maka ketika beliau wafat, untuk tanda penghormatan atas jasa-jasanya, masyarakat menutup makam Kyai Lancing dengan kain batik yang khusus dibuat sesuai motif kesukaannya semasa hidup. Karena keunikan bentuk nisannya yang menonjolkan kain batik ciri khas Indonesia tersebut, maka pemerintah kabupaten Kebumen menetapkan makam Kyai Lancing sebagai benda cagar budaya. Di samping makam Kyai Lancing terdapat satu makam berselubung kain putih. Itu makam Kyai Ketijoyo yang tak lain adalah ayah Kyai Lancing.

Baca Juga  Landscape Kebudayaan & Humanisasi Sebagai Patron

Hingga kini kegiatan menutup makam Kyai Lancing dengan lembaran kain batik terus dilakukan oleh para peziarah yang merasa mendapat keberkahan setelah menziarahinya. Namun mereka tidak bisa sembarangan melakukan hal itu. Mereka harus memesan kain batik dengan motif yang menjadi kesukaan Kyai Lancing kepada juru kunci makam. Adapun kain batik yang dimaksud adalah kain mori yang diberi warna biru. Di bagian tepinya terdapat variasi gambar berupa tumpal berbentuk mancungan-mancungan dengan warna coklat dan hitam. Alternatif lain, yakni batik bergambar bunga dan daun berlatar motif gringsing. Salah seorang juru kunci makam, Ahmad Kamdi berujar,” Yang boleh membuat kain batik untuk menutup makam ini hanyalah wanita yang masih keturunan Kyai Lancing. Dia juga harus benar-benar suci, siklus menstruasinya telah berhenti atau sudah menopause. Ketika hendak membatik, dia berwudhu terlebih dahulu.” Sebenarnya ada pedagang di pasar Grabag, Purworejo yang mengkomersilkan kain batik motif kesukaan Kyai Lancing atau yang lebih terkenal dengan nama batik Jalak Mure. Tetapi karena persyaratan pembuatannya itu menyebabkan stok batik Jalak Mure di pasaran menjadi terbatas, tidak bisa sebanyak stok batik jenis lainnya.

Baca Juga  Jelajah Spiritual Situs Makam Syekh Baribin Kebumen

makam kyai lancing2

Sayang eksistensi makam nisan batik Kyai Lancing sempat terusik oleh tangan-tangan jahil. Pada akhir bulan Januari lalu, ada sekelompok peziarah dari luar kota berusaha memindahkan tumpukan kain batik yang menutupi makam Kyai Lancing tanpa seizin juru kunci makam. Ketika diperingatkan, salah satu dari mereka justru marah dan mengancam akan membakar makam Kyai Lancing. Sikap arogan itu kontan menyulut emosi warga sekitar dan nyaris terjadi bentrokan massa. Beruntung pihak aparat begitu sigap menangani insiden tersebut, sehingga kericuhan tidak berlanjut. Oknum-oknum peziarah yang seenaknya sendiri, tanpa izin memindah-mindahkan tumpukan kain batik di makam Kyai Lancing itu akhirnya meminta maaf kepada para warga. Mereka juga menjalani proses hukum yang berlaku karena tindakan mereka masuk kategori melanggar undang-undang nomer 5 tahun 1992 pasal 26 tentang pengrusakan benda cagar budaya.

Terlepas dari apapun, berziarah atau mengunjungi makam itu berfungsi untuk mengingatkan bahwa tak ada yang abadi di dunia ini. Sesungguhnya setiap jiwa akan mengalami kematian dan makam adalah rumah masa depan yang pasti. Harta dunia menjadi tak berarti apa-apa. Tahta demikian pula adanya. Karena bekal di akhirat nantinya hanyalah iman dan taqwa.

Penulis: Sri Widowati Retno Pratiwi
Editor: Muh Khoirudin

Comments

BAGIKAN
Berita sebelumya5 Trik Olahraga Buat Kamu Yang Sibuk Bekerja
Berita berikutnyaRiwayat Pilkades: Pesta Demokrasi Ala Desa
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
REVIENSMEDIA.COM hadir untuk menampung pemuda-pemuda kreatif, inspiratif se Indonesia. Keterbukaan, keragaman dan explorasi talenta adalah tujuan reviensmedia.com. Slogan kami adalah: Explorasi untuk Kebersamaan dan Harmoni. Selain web, media yang kita gunakan adalah media sosial lainya. Di media ini kami Bersama-bersama mengembangkan passion, dan karya yang kami hasilkan berupa tulisan dan audio visual. Kami tergabung dalam persahabatan dan karya di ajang Sahabat Reviens yang tersebar seantero nusantara seperti Jakarta, Kebumen, Pontianak, Bitung, Purworejo, Pekanbaru, Sumbawa, Bekasi, Depok dll.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here