Penyihir Pemilik Biji Kopi

0
134

Percaya tidak kopi mempunyai kekuatan magis, yang kekuatannya luar biasa tak terjelaskan?. Bahkan seseorang memanfaatkan kekuatan kopi ini untuk mewujudkan cintanya. Apa yang akan dirasakan oleh pemuja cinta andai kekaisaran Ottoman Turki tidak menyebarkan virus kopi ke sudut-sudut kota di konstantinopel hingga meluas ke seluruh dunia.

Ada yang terasa meremas jantungku saat kuteguk kopi pagi. Ada aliran kopi berseluncur bebas di tenggorokan dengan meninggalkan aroma yang memenuhi langit-langit mulut. Ada sesuatu yang jatuh dan luruh, saat aku melihatmu menempelkan bibir ke cangkir kopi. Dari kejauhan. Dan seperti ribuan air yang jatuh membanjiri hati ini, saat kamu tarik gurat senyum bak bulan sabit. Air itu semakin lama semakin menenggelamkan , membuat hatiku seperti didalam pusaran arus!. Aku seperti dibawa secara paksa menuju suatu pulau, ya pulau yang dimana aku bisa menikmati arti pagi.

Hangat udara pagi membuat aroma kopi semakin kental. Tak akan pernah kulupakan harum kopi yang menentramkan ini, seolah aroma itu dicuri dari surga. Kubawakan padamu beberapa biji kopi yang ku masukkan dalam kotak pensil dari kayu jati. Apakah kamu menerimanya dalam keadaan utuh? Seperti tumbuhan kopi di setiap negara tropis, tentu ketika kamu membuka kotak pensil dari kayu jati itu kamu tidak hanya melihat biji kopi yang tergantung didahannya tentu didalamnya ada juga pohon suren, pohon lamtoro, dan tumbuhan perdu. Sepintas, aku tidak cermat dalam mengawasinya satu persatu, mestinya ada burung jalak, burung gereja, burung murai batu dan ada juga luwak yang sedang mengintai biji kopi yang sudah memerah dan Sang Penyihir yang senantiasa mengawasi kebun kopi ajaibnya.

Akan kukirimkan segenggam biji kopi itu untukmu karena aku terpesona olehnya, yang membuatku mengangankan untuk memilikinya dan menikmatinya bersamamu. Meskipun aku tak tahu akan bisa mendapatkannya atau tinggal sebagai kemungkinan tuk mewujudkannya.

Kukirimkan segenggam biji kopi ajaib. Pagi itu aku duduk seorang diri di atas sebuah bukit tepatnya di atas rumah pohon alami, memandang hamparan tanah surgawi. Memandang kumpulan keindahan yang merangkai menyajikan sebuah hidangan untuk mata. Embun yang membelai kelopak melati, angin yang menggerakan ranting seolah ingin mengajak menyambut datangnya pengusa siang yang bernama Mentari, dan kabut yang ditarik kuskus untuk menyelimuti rumahnya karena ia tidak ingin ada yang mengganggu tidurnya, yang hampir malamnya ia gunakan untuk begadang bersama tetangganya yang bernama kukang dan lemur.

Baca Juga  DAWET IRENG SRI

Kemudian tanganku merangsek kedalam tas dan mengeluarkan seperangkat alat buat mengabadikan potret indah ini dalam sebuah sketsa di atas kertas. Kugoreskan pensil membentuk sebuah pegunungan, pepohonan, perkebunan, dan sentuhan pencahayaan dari pancaran yang ditimbulkan rona mentari. Tiba-tiba sorot mataku dari kejauhan dibuai oleh hamparan kebun kopi yang berbeda dengan yang lainnya, letaknya menyendiri. Pohonnya lebih merendah dari biasanya. Dan di tepinya dikelilingi oleh pagar hidup tumbuhan perdu, seolah pemiliknya mengistimewakan kebun ini, dengan menjaganya sedemikain rupa. Aroma menyeruak menusuk hidung dan seketika itu aku ingat kepadamu. Barangkali kopi ini kau sukai, pikirku. Maka kusudahi sketsaku, aku turun dari rumah pohon dan berjalan mendekati kebun kopi itu. Kuambil beberapa biji kopi yang merah sebelum diambil oleh luwak. Kubersihkan dari rantingnya lantas kumasukkan kedalam kotak pensil yang sebelumnya sudah kukeluarkan isinya. Dengan begitu kesegaran kopi bisa terjaga sampai nantinya dihadapanmu.

Setelah itu aku berjalan pulang dengan perasaan senang. Aku tahu kamu akan menyukainya karena aku tahu itulah kopi yang menjadi seleramu. Aku tahu kamu selalu mencari kopi di setiap tempat yang kamu singgahi ketika berlibur.

Ketika aku melangkah beberapa langkah dari kebun kopi itu. Kulihat luwak-luwak berjajar diatas pohon. Melihat tajam kearahku. Ternyata mereka mencium bau kopi di dalam tasku. Dan salah satu dari mereka mengetahui aku yang memetik biji kopi dari kebun itu. Kulihat kebelakang sekejap kebun kopi itu meredup tidak seperti tadi ketika aku mensketsanya di atas rumah pohon. Kutambah kecepatan langkahku, aku melejit menjahui kebun kopi. Tak boleh seekor luwak pun untuk mengambil biji kopi ini dariku. Aroma biji yang harum itu menyeruak keluar dari tasku tentu cukup untuk seekor luwak mengendus dari kejauhan. Dan ternyata aroma biji kopi itu mengepul membentuk seperti kabut sehingga pengelihatku kedepan sedikit tertutupi.

Dari belakang terdengar suara orang tua menyeringai berkali-kali. Dan suaranya semakin mendekat, mendekat, dan mendekat. Dari mulut burung ke burung, berita tentang hilangnya biji kopi ajaib tersebar, sampai ke telinga orang tua yang menyeringai itu. Aduh baru segenggam biji kopi aja hilang satu hutan bisa gempar, apa tidak bisa nunggu musim panen berikutnya? Bagaimana kalau aku ambil semua biji kopi di kebun misterius itu? Pasti semua penghuni hutan ini menyerangku. Barangkali perlu dibuatkan ekstrak kopi yang dibungkus dalam sachet dengan varian rasa yang dijual di warkop-warkop. Sehingga luwak pun tidak perlu merasa dikibuli manusia dengan harus memakan biji kopi utuh kemudian disuruh mengeluarkan lagi dengan dalih mengeluarkan rasa pahit dalam kopi dan dijual dengan harga yang fantastis.

Baca Juga  Sepasang Mata Takdir Tuhan

Di dalam hutan satu dua meter aku berlari tiga empat kali aku meloncat menghindari pohon mati yang mati tumbang dan akar pohon yang menjulang ke atas. Aku harus berhati-hati karena semua penghuni hutan ini sedang mencariku. “kembalikan biji kopiku” suara itu bergema. Bulu kudu di tengkuk leherku bergidig, tapi tak kuhentikan pelarianku. Sampai dititik tidak kewaspadaanku aku terperosok ke jurang, bergelinding, memutar, dan terpelanting. Sampai ke dasar jurang yang basah dan berlumut, ku ketahui itu adalah aliran air sungai. Ku ikuti arah arus sungai, dengan berjalan sedikit pincang, luka di lutut dan lengan serta pelipisku terkoyah mengeluarkan darah segar. Sampai ketika aku bertemu dengan seorang nelayan yang sedang mencari ikan, nelayan itu membantuku dan memasukkanku ke dalam palka, kemudian palka ditutup sebagian. Dengan posisi jongkok kulihat di dalam palka ada banyak ikan hasil tangkapan, baunya amis. Kutengok kebawah berjejer bongkahan es batu, menjadi pijakanku. Aku mulai takut dan kedinginan. Namun desingan suara orang tua yang menyeringai, yang kutahu kemudian adalah seorang penyihir sudah lambat hilang. Ternyata bau amis ikan menyamarkan aroma kopi yang kubawa.

Terimalah segenggam kopi yang kutaruh dalam kotak pensil dari kayu jati. Nikmatilah kopi itu dengan perpaduan tiga sendok gula dua sendok kopi ajaib dan satu cinta. Awas, hati-hati ketika menyedu kopi itu, salah-salah bau kopi yang menyebar keluar dan terbawa oleh angin itu bisa sampai ke hidung Sang Penyihir Pemilik Biji Kopi.

Penulis: den djazuli
Editor: Muh Khoirudin

Comments

SHARE
Previous articleRIWAYAT PILKADES PESTA DEMOKRASI ALA DESA
Next articlePelangi Warna Purworejo Satukan Visi Pelukis Purworejo
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
REVIENSMEDIA.COM hadir untuk menampung pemuda-pemuda kreatif, inspiratif se Indonesia. Keterbukaan, keragaman dan explorasi talenta adalah tujuan reviensmedia.com. Slogan kami adalah: Explorasi untuk Kebersamaan dan Harmoni. Selain web, media yang kita gunakan adalah media sosial lainya. Di media ini kami Bersama-bersama mengembangkan passion, dan karya yang kami hasilkan berupa tulisan dan audio visual. Kami tergabung dalam persahabatan dan karya di ajang Sahabat Reviens yang tersebar seantero nusantara seperti Jakarta, Kebumen, Pontianak, Bitung, Purworejo, Pekanbaru, Sumbawa, Bekasi, Depok dll.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here