Sang Singa Podium Kasman Singodimejo

0
652
Foto oleh kanigoro.com

“Namanya memang Singodimejo, kenyataannya Dia singa di mana-mana,” kata Mohammad Roem mengenai sahabatnya yang sosok pahlawan nasional berjiwa religius dan merupakan putera asli Purworejo ini. Menjadi sebuah kenangan mengesankan ketika suatu hari seusai berceramah di Ternate (Maluku), Kasman harus menyeberang ke Bitung (Sulawesi Utara) untuk memenuhi undangan di sana. Begitu sampai di tepi laut, tiba-tiba cuaca buruk melanda. Angin berhembus teramat kencang dan gelombang ombak semakin tinggi. Seperti biasa, tak ada pemilik perahu yang berani berlayar di saat kondisi seperti itu. Mereka memilih menunggu cuaca membaik kembali, meski tak tahu kapan waktunya. Dalam ketidak-pastian tersebut, Kasman keluar singanya. Dia berteriak, ”Apakah ada nahkoda Muslim yang percaya bahwa hidup dan mati di tangan Allah? Siapa yang bersedia mengantarkan saya ke Bitung dalam keadaan ini?” Teriakan itu mengugah keberanian di hati para pemilik perahu. Beberapa orang mengacungkan tangan. Kasman memilih salah satu di antara mereka. Tak lupa dia berterima- kasih kepada yang lainnya dan berucap, ”Kalian juga sudah mendapat pahala.”

Begitulah Mr. Kasman Singodimejo. Dari satu tempat ke tempat lain, dari satu podium ke podium lain, kata-katanya lantang berkumandang menggelorakan spirit keagamaan dan semangat perjuangan. Tak hanya pandai bicara, tetapi dia benar-benar bertindak nyata. Sedari muda aktif mengusahakan kemerdekaan RI melalui berbagai organisasi pergerakan, maupun perang fisik berbekal kemampuan militer yang dimilikinya. Sesudah republik ini tegak berdiri, dia giat berkarya mengisi kemerdekaan dengan menduduki sejumlah jabatan penting di dalam pemerintahan. Sebenarnya dia sejajar dengan sang proklamator, Ir. Soekarno yang juga dikenal sebagai orator ulung. Hanya kalah popularitas saja. Mungkin karena penampilan Kasman yang bersahaja dan tidak banyak neko-neko.

Terlahir 25 Februari 1904 di desa Kalirejo, kecamatan Bagelen dari keluarga seorang Lebai atau pamong desa urusan keagamaan yang sangat sederhana. Namun, berkat kegigihanya Kasman kecil mampu menerobos hambatan berdasar keturunan yang diciptakan oleh kolonial Belanda dan menapaki jenjang pendidikan setinggi-tingginya. Bermula dari sebuah Volk School atau sekolah desa di Purworejo. Berikutnya Dia belajar di Hollanda Indische School (HIS) Kwitang, Jakarta tetapi kemudian pindah ke HIS Kutoarjo. Selanjutnya ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) Magelang pada 1923 dan School Tot Opleiding Voor Indische Artsen (STOVIA) Jakarta selama 4 tahun. Setelah itu di AMS Afdeeling B berlanjut ke Genesskundige Hoge School (GHS) Jakarta. Lalu pindah ke Rechts Hoge School (RHS) Jakarta dan meraih gelar sarjana hukum di tahun 1939.Selain menuntut ilmu umum, Kasman juga belajar tentang Islam kepada K.H. Ahmad Dahlan dan K.H. Abdul Aziz, dua tokoh organisasi keagamaan Muhammadiyah.
Langkah perjuangannya dimulai ketika masih belajar di MULO atau sekolah menengah pertama. Dia bergabung dengan organisasi pemuda, Jong Java yang memiliki andil besar pada gerakan kebangkitan nasional. Karena menyadari bahwa para pemuda Muslim perlu mempelajari dan mengamalkan ajaran agama Islam, maka bersama beberapa rekannya yang berpandangan serupa, Kasman mendirikan organisasi pemuda pelajar Muslim, Jong Islamieten Bond (JIB). JIB inilah yang melambungkan namanya. Kasman pun menjadi ketua JIB periode ketiga (1930-1935) saat dia masih berstatus sebagai pelajar STOVIA. JIB sendiri meski bercorak keislaman, tetapi gagasan solidaritas Islam bagi para anggotanya tidak bertentangan ide solidaritas nasional dan tidak mengurangi keterikatan mereka pada tujuan pembentukan suatu blok persatuan nasional. Semangat kebangsaan JIB nampak kentara ketika membentuk unit organisasi dengan nama National Indonesische Paviderij (Natipij, Gerakan Pandu Nasional). Unit organisasi ini adalah salah satu organ pelopor gerakan kepanduan (Pramuka) Indonesia dan yang pertama kali menggunakan kata-kata “nasional Indonesia”. Semangat kebangsaan JIB semakin nyata dengan mengirim perwakilan yang aktif terlibat dalam penyelenggaraan Kongres Pemuda Indonesia II pada Oktober 1928. Selanjutnya di bulan Desember 1934 berdiri organisasi bertajuk Studenten Islam Studieclub (SIS) yang merupakan kelanjutan dari JIB di lingkungan perguruan tinggi atau perhimpunan Islam bagi kalangan mahasiswa. Kasman adalah salah seorang dari sekian mahasiswa RHS yang menjadi tokoh penting dalam SIS tersebut meski tidak pernah menjabat sebagai ketuannya.

Di luar aktivitas organisasi pergerakan nasional, Kasman juga berjuang melalui jalur pendidikan. Dia menjadi guru di MULO Kesatriaan (1932-1933) dan MULO Pendidikan Islam Pondok Rotan, Jakarta. Selain itu, Kasman menjadi asisten dosen ilmu hukum bagi Prof. Van Der Kolf di almamaternya, RHS Jakarta. Selain itu, Kasman mulai terlibat dalam pergerakan politik kepartaian. Tahun 1938 Kasman ikut mendirikan Partai Islam Indonesia di Surakarta bersama KH. Mas Mansur, Farid Ma’ruf, Soekiman dan Wiwoho Purwohadidjojo. Kasman pun aktif berkiprah di organisasi Islam, Muhammadiyah. Keaktifannya itulah yang membuka lebar jalan bagi Kasman untuk mengabdi dengan mengajar pada beberapa sekolah di bawah naungan organisasi Muhammadiyah, seperti Mu’allimien, Mu’allimat, HIK dan AMS dari sejak 1936. Bahkan di Muhammadiyah pula Kasman menampakkan kepahlawanannya. Dia yang menjabat sebagai ketua Muhammadiyah untuk wilayah Jakarta dan Bogor (1939-1941) menyerukan kemerdekaan Indonesia dalam ceramah umumnya pada acara Muktamar Muhammadiyah cabang Jawa Barat tahun 1940. Tak pelak, Dia sempat ditangkap dan dipenjarakan oleh pemerintah kolonial Belanda.
Selepas keluar dari penjara, Kasman kembali giat berorganisasi. Dia kemudian menjabat ketua Majelis Islam Indonesia (MIAI) . Di samping itu, Kasman menjadi agronom pada Dinas Penerangan Pertanian dari tahun 1941 sampai 1943 ketika era kolonialisme Belanda beralih ke era pendudukan militer Jepang. Ternyata pemerintah pendudukan Jepang sangat mendukung segala kegiatan MIAI. Namun, ini semata-mata hanya untuk menarik simpati masyarakat pribumi yang mayoritas beragama Islam supaya mereka mudah dikerahkan untuk membantu Jepang dalam romusha atau sistem kerja paksa. Dengan kata lain, pemerintah pendudukan Jepang ingin memanfaatkan MIAI demi kepentingannya sendiri. Oleh sebab itu, MIAI dibubarkan dan selanjutnya dibentuklah Majelis Syuro Muslimin (Masyumi). Tetapi lagi-lagi pemerintah pendudukan Jepang getol mempengaruhi Masyumi agar mau bekerjasama. Karena mengetahui para tokoh Muslim terutama yang ada di Masyumi termasuk Kasman berkehendak memiliki sebuah perguruan tinggi Islam, maka pemerintah pendudukan Jepang membantu merealisasikannya. Pada 8 Juli 1945 berdirilah Sekolah Tinggi Islam (STI) yang kini kita kenal sebagai Universitas Islam Indonesia (UII). Kasman menjadi anggota senat perguruan tinggi ini.

Di sisi lain, pemerintah pendudukan Jepang juga bekerjasama dengan tokoh empat serangkai yang menjadi pimpinan organisasi Pusat Tenaga Rakyat (PUTERA), yaitu Sukarno, Muhammad Hatta, Ki Hadjar Dewantara dan Mas Mansur. Kemudian pada September 1943 pemerintah pendudukan Jepang membentuk pasukan bersenjata, yakni Pasukan Pembela Tanah Air (PETA) yang merupakan sebuah kekuatan gerilya cadangan dan statusnya berada di bawah naungan PUTERA. Kasman terpilih sebagai Daidancho atau komandan batalyon PETA untuk wilayah Jakarta I. Menjelang momen kemerdekaan Indonesia, Daidancho Kasman bersama Daidancho se-Jawa –Madura tengah dipanggil ke Bandung oleh pimpinan militer pendudukan Jepang. Saat di Bandung, Kasman mendengar bahwa pasukan Jepang telah menyerah pada pasukan Sekutu dalam Perang Dunia II dan para tokoh pergerakan nasional lainnya telah berencana memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Dia langsung mengadakan rapat dengan semua Daidancho yang tengah berada di Bandung dan bersepakat bahwa mereka mendukung sepenuhnya rencana proklamasi kemerdekaan Indonesia. Sayang rapat tersebut diketahui oleh pimpinan militer pendudukan Jepang dan Kasman diinterogasi pada malam itu juga. Namun, karena sikap Kasman yang tegas berterus terang, maka Dia dibebaskan.

Pada pagi harinya tanggal 17 Agustus 1945 ketika proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia dikumandangkan, Kasman masih berada di Bandung. Begitu mendengar kabar bahagia tersebut, Dia bersama Daidancho-Daidancho lainnya segera pulang kembali ke Jakarta karena sejumlah tugas penting telah menanti mereka. Kasman yang sarjana hukum itu ditunjuk sebagai anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) dan diminta secepatnya hadir pada sidang PPKI yang di antaranya bertujuan untuk menyusun undang-undang dasar negara. Setibanya di Jakarta, Kasman mendapati sidang PPKI tengah memanas karena kontroversi tujuh kata pada sila pertama atau sila Ketuhanan dalam Piagam Jakarta yang berbunyi: ”Dengan kewajiban menjalankan Syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.” Tercantumnya tujuh kata ini menimbulkan ketidak-puasan bagi pihak non muslim. yang merasa dianak-tirikan. Mereka mengancam untuk memisahkan diri dari Republik Indonesia dan mendirikan negara Indonesia Timur. Sementara itu tokoh-tokoh Islam kekeuh mempertahankan tujuh kata tersebut meski tokoh-tokoh dari kalangan nasionalis, seperti Sukarno, Hatta dan lain-lain telah melakukan lobi-lobi. Salah satu tokoh Islam yang paling alot dilobi adalah Ki Bagus Hadikusumo.

Beruntung bagi semua pihak di PPKI karena Kasman muncul di waktu yang tepat. Dia yang berpikir praktis dan moderat ternyata menyetujui penghapusan tujuh kata dalam Piagam Jakarta yang dipermasalahkan itu. Bahkan dengan gaya diplomasi lembutnya, Kasman berhasil membujuk semua anggota PPKI perwakilan dari umat Islam, termasuk Ki Bagus Hadikusumo, sehingga akhirnya sepakat soal penghapusan tujuh kata tersebut. Untuk meyakinkan Ki Bagus Hadikusumo, Kasman berkata, ”Kyai, kemarin proklamasi kemerdekaan Indonesia telah terjadi. Hari ini harus cepat-cepat UUD dijadikan dasar kita bernegara, dan harus ditetapkan siapa presidennya, dan lain sebagainya untuk melancarkan roda pemerintahan. Kyai, sekarang bangsa Indonesia di antara yang tongol-tongol dan tingil-tingil. Kyai, tidakkah bijak jikalau kita sekarang sebagai umat Islam yang mayoritas ini sementara mengalah, yakni menghapus tujuh kata yang dimaksud demi kewenangan cita-cita kita bersama, yaitu tercapainya Indonesia merdeka sebagai negara berdaulat, adil, makmur, tenang dan tentram diridhoi Allah SWT?” Alhasil diputuskan bahwa Pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) Republik Indonesia tahun1945 yang mengacu pada subtansi dalam Piagam Jakarta berisi teks sebagaimana yang kita kenal hingga sekarang.

Dengan kata lain, Kasman memainkan peran sangat penting di saat-saat krusial karena mampu mengatasi polemik yang dapat mengancam persatuan dan kesatuan Indonesia, sebuah negara yang baru saja berdiri kala itu. Perlu diingat bahwa sikap Kasman yang menyetujui penghapusan tujuh kata terkait penerapan syariat Islam tersebut, selain demi mencegah perpecahan antaranak bangsa , juga karena Kasman telah menerima suatu janji dari pihak politisi berhaluan nasionalis. Janji yang berdasarkan keterangan Hatta menyatakan jika enam bulan sesudah sidang PPKI tanggal 18 Agustus 1945 itu akan dilakukan penyusunan ulang UUD 45 secara lebih komprehensif dan mengembalikan tujuh kata yang sudah dihapus. Ternyata janji tinggalah janji yang tak pernah ditepati. Inilah hal yang kemudian menjadi sisi buram bagi Kasman Singodimejo. Bahwa tentu ada kekecewaan besar dari kalangan umat Muslim soal tersebut dan Kasman dianggap biang keroknya. Cara berpikir Kasman yang praktis, mudah bersepakat terhadap setiap janji yang diucapkan kepadanya dipandang sebagai suatu kelemahan. Apapun, sejatinya Kasman hanyalah seorang ahli hukum yang begitu patuh dan hormat pada konsensus atau janji bersama demi kepentingan bangsa. Sayang, dia berhadapan dengan politisi yang terkadang suka ingkar janji dan mau tak mau harus menerima kenyataan pahit. Meski demikian, Kasman tak patah arang. Dia tetap konsisten bekerja untuk membangun Indonesia, negeri yang dicintainya. Pada periode 1945 sampai 1946 dia menjabat kepala Badan Keamanan Rakyat (BKR) Pusat, Jaksa Agung Indonesia dan Ketua KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat) yang menjadi cikal bakal dari DPR. Kemudian menduduki jabatan Menteri Muda Kehakiman pada Kabinet Amir Sjarifuddin II (1947-1948). Selain itu, menjelang akhir masa revolusi mempertahankan kemerdekaan, Kasman ditunjuk sebagai anggota sekaligus penasehat delegasi RI ke Konferensi Meja Bundar (1949) yang sukses memperjuangkan.

Namun, lagi-lagi Kasman mesti menanggung derita. Karena intrik yang dilancarkan oleh kubu politik yang tidak menyukai eksistensinya, maka Kasman beberapa kali terpaksa mendekam di penjara era pemerintahan orde lama. Satu kisah dramatisnya adalah saat berada dalam tahanan Kasman diminta mengaku telah mengadakan rapat gelap untuk gerakan makar. Kasman menolak karena memang tidak melakukannya. Lantas dia dikonfrontir dengan Nasuhi, tahanan lain pada kasus yang sama. Penyidik bertanya kepada Nasuhi: ”Tidakkah Letkol malam itu menjemput Pak Kasman lalu membawanya ke Tangerang?” Nasuhi diam, tidak menjawab. Pertanyaan itu terus diulang, tetapi Nasuhi tetap diam. Penyidik mulai menggertak: ”Awas! Letkol diproses verbaal telah mengakuinya.” Nasuhi masih diam. Kasman angkat bicara: “Bismillahir rahmanir rahim. Nasuhi, kamu kan percaya kepada Allahu Akbar. Jawablah secara jantan! Kamu kan laki-laki. Allah sebagai saksi. Jawab yang lantang supaya kedengaran!” Nasuhi menjawab : ”Saya terpaksa menadatangani proses verbaal. Sebetulnya tidak begitu.” Kasman menyambung: “Nah, itulah tuan-tuan, keadaan yang sebenarnya. Saya sebagai bekas Jaksa Agung, bekas Kepala Kehakiman Militer, bekas Menteri Muda Kehakiman, tahu persis semua ini tidak sah.” Lalu Kasman berdiri. Kursinya dibuang jauh ke belakang. Dia mengangkat kedua tangannya. Dengan mata melotot, Kasman berteriak sangat keras: “Percuma pemeriksaan semacam ini. Silahkan, tuan-tuan cabut pistol ! Tembak saya! Tembak! Tembak!” Para penyidik itu gagal memaksa Kasman karena singanya keluar di saat yang tepat.

Meski pada akhirnya Kasman bebas dan era pemerintahan telah berganti, tetapi dunia sudah terlanjur mengasingkannya. Hingga kini tidak banyak warga negara Indonesia yang mengetahui, apalagi meneladani kepahlawanan Kasman Singodimejo. Dengan segala yang dilakukannya demi negeri ini adalah sungguh suatu kehilangan besar ketika Kasman meninggal dunia pada 25 Oktober 1982. Motto Kasman bahwa: ”Memimpin itu jalan menderita, hidup itu berjuang”. Memang benar-benar kenyataan di sepanjang hidupnya.

Penulis: Sri Widowati Retno Pratiwi

Referensi :
Kasman Singodimedjo Pahlawan Nasional Yang Terabaikan, Prof.Dr. Abu Su’ud, 2012
Kasman Singodimedjo Kepahlawanan Yang Panjang dan Lebar, Yudi Latif, MA.,Ph.D , 2012
Pikiran dan Tindakan Kasman Singodimedjo Tentang Islam , Hukum dan Dasar Negara Republik Indonesia, Prof.Jawahir Thontowi, SH.,Ph.D. 2012

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here