Purworejo adalah sebutan baru bagi kota Tua di Jawa Tengah.

0
976

REVIENSMEDIA.COM – Dahulu, Kabupaten Purworejo lebih dikenal sebagai wilayah Tanah Bagelen. Para Kenthol Bagelen adalah pasukan andalan dari Sutawijaya yang kemudian setelah bertahta bergelar Panembahan Senapati.

Pada periode Karesidenan Begelen ini, banyak muncul nama-nama besar , seperti Ki Tjokro Djoyo atau Sunan Geseng penyebar agama Islam di wilayah Kedu dan sekitarnya, muballigh Kyai Imam Pura yang punya pengaruh sampai ke Jawa Barat dan Daerah Istimewa Yogyakarta, Kyai Sadrach penginjil Kristen pelopor Gereja Kristen Jawa (GKJ).

Akibat ikut campur tangannya pihak Belanda dalam bentrokan antara para bangsawan kerajaan Mataram, maka wilayah Mataram dipecah mejadi dua kerajaan (Perjanjian Giyanti 13 Februari 1755), tanah Bagelen dibagi menjadi dua, sebagian masuk ke Surakarta dan sebagian lagi masuk ke Yogyakarta.

Tulisan ini dicoretkan hitam diatas putih , karena pada tahun 1980 lampau dititipi (untuk di simpan dan di pahami) oleh Almarhum ayah R.B. Soeparto Kusumo Darsono berupa satu lembar gulungan kertas besar berisi tentang Tulisan nama-nama pendahulu / leluhur dan alur Trah HARIYO BANGAH dengan judul “SAUDJARAH BAGELEN KYAI BATORO LOANO HARYO BANGAH alias HARIJO PANULAR”. Dan yang membuat saya berkesan adalah di tulis dengan tangan, nama-nama trah sangat jelas sampai keturunan ke 16 (sesuai silsilah atau Trah Jawa disebut MENYAMAN)(dok. Terlampir).

Lembar silsilah ini sempat ketlingsut (tersimpan tapi tidak tau ada dimana), sampai di temukan kembali pada tahun 2017 dengan kondisi utuh masih seperti awal. Itupun di cari dan ketemu setelah kami bertemu dengan rekan rekan dari Purworejo di Kecamatan Loano (dok. Terlampir).

Langkah Awal yang membuat terharu adalah perjalanan menyusuri Desa Loano ketika sampai di petilasan yang di perkirakan adalah reruntuhan Kadipaten Loano (berada di kawasan Perhutani). Langkah demi langkah memperhatikan susunan bata tebal, memperkirakan letak pintu utama dan pintu samping dari bekas reruntuhan, dan membayangkan bertemu dengan para punggawa kadipaten Loano, sambil mendengarkan cerita dari rekan-rekan mengenai kebesaran Eyang Menyanan kami. Bila ingat masa kecil, jadi teringat (setiap perjalanan ke Purworejo) adanya getaran dan rasa miris/takut/segan bila akan melewati daerah ini.

Cerita mengenai Kebesaran Eyang Menyaman HARYO BANGAH bertambah ketika ada cerita bahwa beliau kemungkinan adalah seorang pangeran dari Kerajaan PAJAJARAN yang sedang mencari saudaranya Raden TANDURAN . Serta kesetiaan keturunan beliau (Trah Kesatria Gagak) kepada Pangeran Diponegoro dalam bertarung melawan Belanda dalam Perang Jawa dan Buyut, serta Keturunan beliau yang cakap dalam kepemimpinan dan pemerintahan.

 

Catatan alur lengkap Trah adalah :
ke-18>Mbah Trah Tumerah
ke-17>Mbah Menya-menya
ke-16>Mbah Menyaman
ke-15>Mbah Ampleng
ke-14>Mbah Cumpleng
ke-13>Mbah Giyeng
ke-12>Mbah Cendheng
ke-11>Mbah Gropak Waton
ke-10>Mbah Galih Asem
ke-9>Mbah Debog Bosok
ke-8>Mbah Gropak Senthe
ke-7>Mbah Gantung Siwur
ke-6>Mbah Udheg-udheg
ke-5>Mbah Wareng
ke-4>Mbah Canggah
ke-3>Mbah Buyut
ke-2>Simbah\Eyang
ke-1>Bapak\Ibu

Comments

BAGIKAN
Berita sebelumyaGenteng Bocor, Si Sapi & Sepiring Cacio e Pepe
Berita berikutnyaBerkunjung ke Vihara Avalokitesvara, Vihara Tertua di Banten
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
REVIENSMEDIA.COM hadir untuk menampung pemuda-pemuda kreatif, inspiratif se Indonesia. Keterbukaan, keragaman dan explorasi talenta adalah tujuan reviensmedia.com. Slogan kami adalah: Explorasi untuk Kebersamaan dan Harmoni. Selain web, media yang kita gunakan adalah media sosial lainya. Di media ini kami Bersama-bersama mengembangkan passion, dan karya yang kami hasilkan berupa tulisan dan audio visual. Kami tergabung dalam persahabatan dan karya di ajang Sahabat Reviens yang tersebar seantero nusantara seperti Jakarta, Kebumen, Pontianak, Bitung, Purworejo, Pekanbaru, Sumbawa, Bekasi, Depok dll.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here