Soyar Maole, Seni Islami Khas Kaligono

0
269

REVIENSMEDIA.COM, PURWOREJO – Sebuah seni tak hanya bicara soal keindahan untuk hiburan semata. Lebih dari itu, seni dapat menjadi sarana menyampaikan berbagai pesan kebaikan termasuk pesan bermuatan nilai-nilai keagamaan. Di negeri yang mayoritas berpenduduk Muslim ini telah menjamur ragam kesenian Islami. Dari yang bersifat tradisional hingga yang bernuansa moderen. Salah satu contoh seni Islami tradisional dari daerah Purworejo itu adalah Soyar Maole yang tumbuh dan berkembang di desa Kaligono, kecamatan Kaligesing.

“Dahulu sekitar tahun 1920-an orang tua saya yang haji punya teman sesama haji dari dukuh Wonorejo. Nah pak haji dari dukuh Wonorejo itu merasa prihatin dengan kondisi masyarakat desa Kaligono kala itu. Kebanyakan mereka tidak menentu arah hidupnya karena tidak mengerti agama. Lalu muncul ide untuk membuat semacam pitutur atau nasehat yang mudah dipahami oleh orang-orang awam tersebut supaya mereka ingat kembali kepada Allah, Rasulullah dan mengamalkan ajaran agama Islam seutuhnya. Maka terciptalah Soyar Maole, suatu tembang puji-pujian (shalawat) yang liriknya berbahasa Jawa Kawi atau Jawa kuno dengan sedikit campuran lirik berbahasa Arab dan lebih dikenal dengan istilah Shalawat Jawa. Soyar berarti : “Manungso sing podho moyar” (Manusia yang hidupnya buyar, tak tentu arah tujuan). Maole bermakna ajakan : ”Ayo podho shalat lan ngamal!” (Mari shalat dan beramal shaleh). Lalu Orang tua saya menggalakkan Soyar Maole di dukuh Jetis sini,” ungkap Ahmad Kohari, sang penggiat Soyar Maole. Seiring perjalanan waktu ternyata Soyar Maole justru lebih berkembang di dukuh Jetis ketimbang di dukuh Wonorejo sebagai tempat tercetusnya seni ini. Selanjutnya Soyar Maole makin marak di padukuhan-padukuhan lain dalam lingkup wilayah desa Kaligono yang memang terbilang cukup luas.

Ahmad Kohari berujar, “Sejak Soyar Maole digaungkan terlihat jelas dampak positifnya. Masjid-masjid, mushola-mushola yang semula sepi mulai dipenuhi warga yang serius belajar memperdalam agama Islam, beribadah dan bertobat atas segala dosa-dosa.” Kenyataan itu membuat Ahmad Kohari bersemangat untuk terus melestarikan Soyar Maole sebagai bagian dari warisan peninggalan orang tuanya. Dia aktif mengajarkan seni Soyar Maole mulai 1956. Keseharian kakek berusia 90 tahun ini yang seorang Kaum atau pamong desa urusan keagamaan tentu sangat klop dengan aktifitas tersebut. Tak kurang dari 6 grup Soyar Maole dari 6 padukuhan yang eksis berkat pengajaran Ahmad Kohari, termasuk grup bertajuk Tridadi di lingkungan tempat tinggalnya, dukuh Jetis. Grup Tridadi sendiri beranggotakan 30 orang dan rutin mengadakan latihan tiap seminggu sekali. Di luar latihan, Soyar Maole diperdengarkan pada saat acara pengajian, akbar, terutama pengajian dalam rangka peringatan Maulid Nabi, maupun event pengembangan seni budaya rakyat.

Lirik Soyar Maole dinyanyikan secara bersama-sama oleh semua anggota grup Soyar Maole dengan iringan tabuhan bedug sederhana. Sempat terfikir untuk dibuat pembagian suara tetapi terkendala karena rata-rata yang bergabung menjadi anggota grup Soyar Maole telah berusia 50-an ke atas. Menghafal liriknya saja terkadang mereka kesulitan. Apalagi jika harus memahami dan menerapkan teknik-teknik bernyanyi yang lebih rumit. “Yang penting kekompakan. Kemudian baik yang menyanyi, maupun yang mendengarkan dapat meresapi makna pesan, nasehat Soyar Maole dan tergerak untuk melakukannya di keseharian mereka”, imbuh Ahmad Kohari.

Soyar Maole terdiri dari 28 bait lirik lagu. Masing-masing bait mencakup beberapa baris lirik yang jumlahnya tidak tentu dan terbagi atas dua bagian, yaitu Bawa (pembuka) dan Sauran (jawab). Adapun isinya mengenai dasar-dasar keislaman, kehidupan Nabi Muhammad SAW, surga, neraka, anjuran untuk shalat, bershalawat, ikhlas beramal di jalan Allah dan lain sebagainya. Semisal bait pertama yang memuat pertanyaan sekaligus jawaban tentang siapa Tuhan, siapa Nabi, apa kitab pedoman hidup yang mesti dianut dan siapa saudara seiman itu dengan lirik sebagai berikut :

“Soyar maole yar molea, soyar maole tak indung yala, soyar maole yar mole sultan allah dul jalale dolae soyar maole” (Bawa).

“Kalo-kalo den donya, den donya sapa pangeran, soyar maole yar molea, nuli den jawab Allah pengeran dolae soyar maole yar molea” (Sauran 1)

“Kalo-kalo den donya, den donya sapa nabimu, nuli den jawab Nabi Muhammad, dolae soyar maole” (Sauran 2)

“Kalo-kalo den donya, den donya sapa panutan, nuli den jawab Quran, dolae soyar maole” (Sauran 3).

“Kalo-kalo den donya, den donya sapa sanakmu nuli den jawab Mukmin sanakku, dolae soyar maole” (Sauran 4).

Sedangkan cara menyanyikannya adalah Bawa dinyanyikan terlebih dulu. Disusul Sauran 1 dan kembali ke Bawa. Berlanjut ke Sauran 2 lalu kembali lagi ke Bawa. Demikian seterusnya sampai Sauran dalam satu bait itu habis dan diakhiri mengulang Bawa baru kemudian berpindah menyanyikan lirik pada bait berikutnya.

Di samping lirik -lirik yang terangkum dalam 28 bait tersebut, ada 3 lagu tambahan yang turut dinyanyikan. Pertama, lagu “Sekar Pangkur : Bawa Caping Gunung” yang intinya ajakan untuk terus mengumandangkan nasehat-nasehat kebaikan. Kedua, lagu “Solawat Ayo Sholat” yang memakai lagu shalawat “Ya Rabbibil mustofa baliq maqo sidana…wagfirlana mamadzo yawasi-al karomi” sebagai irama dan intronya. Lagu tersebut menjelaskan keutamaan-keutamaan ibadah sholat supaya setiap Muslim tergerak untuk rajin melaksanakannya. Ketiga, lagu berbahasa Arab “Illahilastu” berikut lirik terjemahan Jawanya yang sudah lumayan populer di telinga masyarakat dengan sebutan lagu “Tobat”. Lagu ini merupakan ekspresi kejujuran seorang hamba Allah yang merasa tak pantas berada dan mencicipi kenikmatan hidup di surga, namun juga merasa tidak kuat menanggung siksa di neraka, sehingga berharap Allah mengampuni segala dosa-dosanya. Ketiga lagu tambahan itu bebas dinyanyikan baik sebelum, maupun sesudah semua lirik atau Cakepan Slawatan Soyar Maole didendangkan.

Memang sebagaimana diakui Ahmad Kohari bahwa Soyar Maole kurang diminati kalangan anak muda. Dimungkinkan karena penyajiannya nampak monoton dengan lirik bahasa Jawa versi lawas yang njlimet maknanya. Namun sebagai seni yang mendakwahkan nilai-nilai luhur keagamaan berbalut kearifan lokal, Soyar Maole perlu terus dipertahankan dan disebar-luaskan ke semua lapisan masyarakat. Tak hanya untuk masyarakat desa Kaligono saja, tetapi untuk masyarakat seantero nusantara, bahkan dunia.

Penulis: Sri Widowati Retno Pratiwi
Editor: Muh Khoirudin

Comments

BAGIKAN
Berita sebelumyaBerkunjung ke Vihara Avalokitesvara, Vihara Tertua di Banten
Berita berikutnyaRuntuhnya Kerajaaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara Islam di Nusantara
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
REVIENSMEDIA.COM hadir untuk menampung pemuda-pemuda kreatif, inspiratif se Indonesia. Keterbukaan, keragaman dan explorasi talenta adalah tujuan reviensmedia.com. Slogan kami adalah: Explorasi untuk Kebersamaan dan Harmoni. Selain web, media yang kita gunakan adalah media sosial lainya. Di media ini kami Bersama-bersama mengembangkan passion, dan karya yang kami hasilkan berupa tulisan dan audio visual. Kami tergabung dalam persahabatan dan karya di ajang Sahabat Reviens yang tersebar seantero nusantara seperti Jakarta, Kebumen, Pontianak, Bitung, Purworejo, Pekanbaru, Sumbawa, Bekasi, Depok dll.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here