Tradisi Mbawahi: Hajatan Sunat Yang Ditunda

0
330

REVIENSMEDIA.COM, PURWOREJO – Lagan / rewang (membantu tenaga di tempat orang hajatan) sebenernya sudah hal yang biasa saya lakukan, terlebih saya tinggal di desa yang notabennya masyarakat masih menjunjung tinggi gotong royong dan saling membantu tanpa pamrih.

Gotong royong seperti ini memang masih menjadi tradisi masyarakat jika tetangga mempunyai hajat dan tentunya sebaliknya, jika kita memiliki hajat tetanga pun tidak sungkan dan tanpa pamrih akan membantu. Membantunya mulai dari masak dan ater-ater (undang warga tapi dengan nasi kumplit + sayur lauk).

Gotong royong seperti itu masih kental di desa saya atau pun desa sekitar. Namun, yang sedikit berbeda itu saat saya diminta lagan di tempat sepupuku. Tepatnya di dusun Ketitan desa Sokoagung kecamatan Bagelen, Purworejo.

Acara hajatannya itu disebut mbawahi sunatan. Jadi itu acara syukuran sunatan. Sepintas itu tradisi yang wajar di tengah-tengah masyarakat, terutama di Indonesia ini. Namun hal ini berbeda di desa ini, yang mana sunatannya sudah berlangsung puluhan tahun, dan syukurannya baru berlangsung sekarang. Hal itu tentunya menimbulkan tanda tanya. Sunatnya sudah sekitar 10 tahunan lebih dan baru sekarang dibuat syukuran atau resepsi?

Dari pada penasaran akhirnya saya tanya sama sepupu saya yang secara langsung menjalankan tradisi yang sudah turun temurun ini.

Emang kamu sunatnya kapan?
Sambil senyum dia jawab “Sudah lama”.

Memang hal seperti ini sudah umum ya di daerah sini???
“Iya jawab nya?”

Sejak kapan?
“Ya sudah dari zaman dulu, sampai saat ini dan mungkin seterusnya turun temurun akan seperti ini”.

Alasannya apa?
“Yoo ada yang karena biasa belum punya uang jadi waktu cuma sunat aja syukurannya belakangan, dan ada yang karena itungane (hitungannya) hari belum pas.” Karena memang untuk orang Jawa khususnya daerah sekitar saya tinggal itu memang orang hajatan itu cari harinya agak njlimet, harus pake hitungan menurut hari tanggal bulan lahir orang yang bersangkutan.

Dan acara hajatan mbawahi itu tidak hanya untuk sunatan. Nikah pun ada akad nikahnya sudah lama sekali, baru resepsi belakangan. Bahkan kadang sampai sudah punya anak besar-besar baru buat acara resepsi. Itu memang umum terjadi di masyarakat dusun Ketitan.

Apapun itu alasannya hal tersebut merupakan sebuah tradisi unik yang sudah turun temurun dari dulu dan tentunya harus kita jaga. Yang mungkin tidak ditemukan di tempat lain.

Ini semakin menunjukkan bahwa Purworejo dan Indonesia itu mempunyai banyak budaya daerah yang harus terus kita jaga dan lestarikan, karena itu menjadi jati diri bangsa Indonesia yang memiliki banyak budaya daerah.

Penulis: Wina
Editor: Muh Khoirudin

Comments

BAGIKAN
Berita sebelumyaSalah Satu Cara Mengenang Jasa Para Pahlawan
Berita berikutnyaMembangun Literasi Beranda
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
REVIENSMEDIA.COM hadir untuk menampung pemuda-pemuda kreatif, inspiratif se Indonesia. Keterbukaan, keragaman dan explorasi talenta adalah tujuan reviensmedia.com. Slogan kami adalah: Explorasi untuk Kebersamaan dan Harmoni. Selain web, media yang kita gunakan adalah media sosial lainya. Di media ini kami Bersama-bersama mengembangkan passion, dan karya yang kami hasilkan berupa tulisan dan audio visual. Kami tergabung dalam persahabatan dan karya di ajang Sahabat Reviens yang tersebar seantero nusantara seperti Jakarta, Kebumen, Pontianak, Bitung, Purworejo, Pekanbaru, Sumbawa, Bekasi, Depok dll.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here