Membangun Literasi Beranda

0
252

REVIENSMEDIA.COM – Setelah tahun pertama terlewati, program pendampingan Sekolah Literasi Indonesia dari makmal pendidikan memasuki tahun keduanya di desa Engkerengas, salah satu wilayah beranda yang berada di hulu sungai Kapuas, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Perlahan namun pasti sebuah sekolah telah berdiri dengan bantuan berbagai kalangan mulai dari pemerintah sampai masyarakat.

MTs At Taqwa Fililal Engkerengas, sekolah yang berbasis utama pada literasi. MTs At Taqwa Filial Engkerengas mengakhiri masalah putus sekolah yang terjadi di desa Engkerengas.

Berkat bantuan relawan yang dikirimkan oleh makmal pendidikan semakin membuat kepercayaan masyarakat akan pentingnya pendidikan meningkat dan menyekolahkan kembali anaknya yang sempat putus sekolah.

Selayaknya tanaman yang baru tumbuh dan butuh banyak perawatan, sekolah ini pun sama. Membangun sekolah dari awal dengan perlahan meningkatkan literasi di dalamnya menjadi tantangan terbesar bagi saya sebagai pendamping dengan segala keterbatasan fasilitas.

Banyaknya anak yang putus sekolah dan akhirnya sekolah kembali menjadi tugas utama bagi saya dan guru-guru yang pada awalnya hanya dua orang untuk kembali meningkatkan minat belajar mereka.

Sekolah yang pada mulanya menumpang di kantor desa dengan segala keterbatasan yang ada pada awal tahun 2017 akhirnya dibangun. Namun sayangnya hanya dua kelas yang beridiri dan satu ruang kantor.

Setelah melakukan School Strategic Discussion dan Focus Grup Discussion bersama guru-guru hal pertama yang harus ditingkatkan adalah minat baca anak-anak. Mulailah kami menyusun program guna meningkatkan minat baca anak.

Buku-buku yang ada pada tahun pertama kembali dikumpulkan dari tumpukan-tumpukan yang tersimpan di kantor desa, sebagian sudah rusak. Setelah buku yang ada dikumpulkan oleh guru-guru dan bantuan siswa. Buku-buku tersebut didata satu persatu dan ditambah beberapa buku bacaan baru.

“Bagaimana pak, bukunya sudah ada tapi harus diletakkan dimana ?” Bu Endang yang merupakan kepala sekolah bertanya kepadaku.

“Kita gunakan ceruk ilmu yang ada bu“ sambil ku tunjuk rak buku yang penuh debu di sudut ruang kelas.

Mulailah kami menyusun buku yang layak dibaca pada ceruk-ceruk ilmu yang ada di dua kelas tersebut.

Program yang dicanangkan ialah wajib membaca sepuluh menit sebelum pelajaran dimulai yang awalnya didahului dengan tilawah bersama. Ternyata dari program yang berjalan anak-anak mulai “ketagihan” membaca buku. Kartu membaca perlahan mulai terisi.

Target yang kami canangkan satu orang anak mampu membaca minimal empat buku dalam dua minggu. Perlahan hal ini menunjukkan hasil. Waktu yang terlalu singkat untuk membaca membuat anak-anak memberi masukan kepada guru-guru untuk memperbolehkan membawa pulang buku bacaan yang ada.

Akhirnya setelah dievaluasi bersama anak-anak diperbolehkan membawa pulang dan membaca buku bacaan di rumah dengan beberapa persyaratan tentunya.

Memang tak semudah membalikkan telapak tangan, upaya kami meningkatkan literasi terhadap anak-anak dengan meningkatkan minat baca terbatas dengan jumlah buku yang sedikit dan fasilitas seperti perpustakaan yang belum ada.

Makmal Pendidikan yang mencanangkan Program Sekolah Literasi tidak tinggal diam, beberapa buku bacaan baru dikirimkan dan ceruk ilmu akhirnya dibuat.

Bertepatan dengan pelatihan pengembangan masyarakat yang diadakan bersama para stakeholder dan komponen-komponen masyarakat, selaku pendamping dan konsultan di sekolah yang didampingi saya menyampaikan beberapa permasalahan yang krusial yang bisa diselesaikan bersama.

Kurangnya ruang kelas dan tenaga pengajar menjadi hal pertama yang disampaikan. Keinginan yang besar masyarakat untuk memajukan pendidikan di desanya, melalui kepala Desa Engkerengas, akhirnya berkomitmen untuk membangun satu ruang kelas baru dan perpustakaan yang dibutuhkan sekolah.

Tak butuh waktu lama setelah pelatihan pengembangan masyarakat, masyarakat Desa Engkerengas bahu membahu mendirikan ruangan baru yang diminta sekolah.

Adanya ruang baru dan ceruk ilmu yag bertambah, kami kembali menyusun buku-buku yang sudah bertambah banyak yang berasal dari bantuan beberapa donatur juga. Buku-buku kembali didata.

Setelah didata tak kurang buku yang ada berjumlah enam ratus lima puluh buku yang layak dibaca. Setelah melakukan evaluasi bersama guru-guru, akhirnya pada bulan Juni sekolah kami memiliki perpustakaan.

Bu Sumi ditunjuk oleh kepala sekolah selaku guru yang mengurusi bidang perpustakaan. Untuk mebantu Bu Sumi, lima orang anak ditunjuk sebagai pustakawan guna membantu peran bu Sumi di perpustakaan.

Perpustakaan yang mulai berjalan menjadi sebuah harapan anak-anak yang terjawab. Setelah sholat duha di pagi hari, anak-anak sibuk meminjam buku pada pustakawan yang bertugas. Selain pagi hari, anak-anak boleh membaca dan meminjam buku saat jam istirahat tiba.

Dari kartu perpustakaan yang diberikan kepada anak-anak, kami selalu memantau perkembangan minat baca siswa. Ternyata target yang kami canangkan melebihi dari apa yang kami harapkan. Rata-rata anak mampu membaca lima buku setiap minggunya.

“Pak buku baru kapan ada lagi ya pak ?“ anak-anak sering bertanya kepadaku.

Jarak yang jauh dengan akses yang sulit menjadi kendala utama buku-buku yang dikirimkan butuh waktu yang lama sampai akhirnya sampai di sekolah.

Menangani masalah tersebut, kami membatasi setiap anak hanya boleh meminjam buku maksimal tiga buah buku pertiga hari. Hal ini dilakukan agar buku yang dibaca anak-anak di perpustakaan tidak cepat habis sampai datangnya buku baru lagi.

Olimpiade Literasi yang diadakan oleh Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa menjadi salah satu target yang ingin dicapai sekolah dengan memenangkan beberapa lomba yang diadakan.

Anak-anak terus dimotivasi untuk terus meningkatkan minat baca mereka. Guru-guru juga megadakan beberapa lomba yang bertema literasi. Beberapa perlombaan mulai dari menulis dan membaca cepat akhirnya diikuti.

Putusnya pendidikan yang sudah terjadi empat tahun belakangan ternyata memberi efek yang signifikan, untuk menulis anak-anak masih sering kehilangan huruf. Pada perlombaan membaca cepat, hanya satu orang anak yang mampu mencapai nilai sesuai target.

Namun dengan adanya perpustakaan yang baru berdiri dan melihat minat baca anak yang tinggi menjadi optimisme kami terhadap perkembangan literasi khususnya minat baca anak-anak. Ketiadaan bukulah yang menghalangi minat belajar anak-anak yang tinggi.

Buku yang ada di perpustakaan perlahan menjadi kebutuhan pokok anak-anak. Terlihat anak-anak membaca buku di kelas walau jam istirahat sudah hampir habis, saling rebutan buku yang mau dibaca sampai membaca di sampan ketika mereka pulang melalui anak sungai Kapuas.

Beberapa pekan setelah diadakan Olimpiade Literasi, akhirnya pengumuman yang ditunggu-tunggu tiba, Alhamdulillah, Sekolah kami, MTs At Taqwa Filial Engkerengas, menjadi juara pertama untuk kategori minat baca kelas tinggi.

Perjuangan guru-guru dalam meningkatkan minat baca mulai menunjukkan hasil dengan memenangkan kategori minat baca kelas tinggi yang bersaing dengan sekolah-sekolah yang lain dalam skala nasional.

Walaupun masih banyak kendala yang harus dihadapi, keterbatasan bukanlah menjadi penghalang. Keterbatasan harus dijadikan sebuah inovasi untuk berkembang.

Memberikan peluang dan harapan anak-anak untuk terus meningkatkan minat baca menjadi tugas bersama yang harus terus ditingkatkan karena bukan tidak mungkin suatu saat pendidikan Indonesia mampu menjadi kiblat pendidikan dunia dengan literasi yang berkualitas.

Penulis: Agung Rakhmat

Comments

BAGIKAN
Berita sebelumyaTradisi Mbawahi: Hajatan Sunat Yang Ditunda
Berita berikutnyaI Wayan Budiartawan: Mata Pena dari Karangasem
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
REVIENSMEDIA.COM hadir untuk menampung pemuda-pemuda kreatif, inspiratif se Indonesia. Keterbukaan, keragaman dan explorasi talenta adalah tujuan reviensmedia.com. Slogan kami adalah: Explorasi untuk Kebersamaan dan Harmoni. Selain web, media yang kita gunakan adalah media sosial lainya. Di media ini kami Bersama-bersama mengembangkan passion, dan karya yang kami hasilkan berupa tulisan dan audio visual. Kami tergabung dalam persahabatan dan karya di ajang Sahabat Reviens yang tersebar seantero nusantara seperti Jakarta, Kebumen, Pontianak, Bitung, Purworejo, Pekanbaru, Sumbawa, Bekasi, Depok dll.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here