Pak, Kulo Wangsul

0
345

 

Sang surya mulai menampakkan kirana dari tapal batas Kota Khatulistiwa kala aku mulai menjejakkan kaki kembali di tempat ini.Supadio, tempat aku pertama kali berkenalan dengan Pulau Borneo, empat tahun lalu.Sudah setengah windu kutinggalkan kampung halamanku. Sebuah kota di kaki Gunung Merbabu, kota berjuluk megah sebagai Parisnya Jawa Tengah.

Dan sudah empat tahun pula aku tidak berbicara dengan bapak semenjak aku memberontak.Aku ingat malam itu, tepat seminggu sebelum keberangkatanku.

“ Aku harus berangkat, Pak. Kapan lagi aku liat Kalimantan, kapan lagi aku masuk hutan bantuin mereka yang di pedalaman. “ , kataku lantang.

“ Emang kowe iso ngurus awakmu dewe? Kamu di rumah wae sithik-sithik Mak’e sithik-sithik Mak’e. Emang ndak bisa minta ditempatke sing deket-deket sini. Bapak ndak yakin kamu bisa..Eling kamu juga belum nikah. Meh tekan kapan  kamu kayak gitu?“ , balas Bapak malam itu.

“ Kalau aku di sini nggak berkembang, Pak. Selalu saja diremehkan. Dibilang gak bisa kerja laah, apa lah. Aku wis gede, Pak. Biar aku cari jalan hidupku sendiri, Pak. Biar aku tanggung jawab sama diriku sendiri.”, sambarku. Aku memang mudah naik pitam kala diremehkan.

“ Lha ngko nek ono opo-opo piye? Nek loro? Iso kamu ngurus awakmu?Malah ngrepotin orang-orang di sana bukannya bantuin. “ , kata bapak tak kalah sengit.

“ Wis-wis, malam-malam kok pada ribut. Kamu ya gitu, Ndik. Kalo ngomong sama bapak yang sopan dikit. Bapak juga gitu, wong anake mau pergi mbok ya di doake sing apik. Nanti nek loro, nek kenopo-nopo ya kita sendiri, Pak yang susah “, ujar Ibu menghentikan perdebatan.

Aku dan bapak sama-sama anak pertama.Bapak sendiri hidup di lingkungan dengan pendidikan yang keras.Sebagai anak tentara, pendidikan dan hukuman ala militer acap kali bapak terima. Oleh kakek, Bapak sebenarnya akan didaftarkan sebagai Taruna. Entah mengapa, malam sebelum bapak tes, Bapak berkelahi dengan seorang tetangga hingga hidungnya patah hanya karena diremehkan tidak akan lulus tes karena berat badan bapak yang berlebihan. Bapak sendiri memang gagal dalam tes tersebut.Bukan karena berat badan, tapi karena bapak harus masuk rumah sakit karena beberapa jahitan.

Dan aku mewarisi sifat Bapak yang tidak suka diremehkan.Sejak kecil aku memang hidup berkecukupan.Walaupun Bapak tidak menjadi tentara, tapi Bapak diterima bekerja di sebuah perusahaan ternama dan memiliki kedudukan yang cukup mapan.Keluarga kami pun memiliki pembantu sehingga aku pun tumbuh dengan segala kemudahan dan kemewahan.Hal itu lah yang kadang membuatku diremehkan.Dianggap tidak bisa bekerja lah, dianggap anak manja lah.Dan kata-kata itu selalu Bapak ucapkan ketika naik pitam.

Seperti malam itu. Sebuah diskusi yang awalnya asyik menjadi konflik pelik hanya karena masing-masing dari kami mempertahankan harga diri.

“ Tiket udah aku pegang, Pak. Mau nggak mau aku akan berangkat. “ , aku melanjutkan.

“ Nek caramu koyo ngono, Bapak ndak akan kasih ijin. Nek kowe nekat karepmu.“, bapak masih bersikukuh melarangku berangkat.

“ Aku gak peduli. Kalau terus di sini aku gak berkembang.Kenapa Bapak selalu menghalangi aku?“, aku tidak mau kalah.

“ Kowe nek seh ngganggep aku bapakmu yo jangan berangkat. Nek dikandani mesti ngeyel. Nek nekat karepmu!!!sisan wae ra sah mulih!!! “.

Bapak pun mulai kehilangan kontrol atas amarah.

“ Aku gak peduli!! Aku tetep berangkat!! “

Kata-kata pengusiran itu membuatku marah.Aku pun meninggalkan palagan dengan muka masam.Dan sejak itu hingga semalam aku tidak pernah berbicara dengan Bapak.

Ketika berangkat pun aku hanya pamit ke Ibu tanpa meminta restu dari Bapak walaupun sebenarnya Ibu sudah berusaha mengingatkan.

Dan hanya tangisan yang hanya mampu Ibu ungkapkan kala aku meninggalkan tanah Jawa dengan luka.

Memang di masa-masa awal di tanah perantauan, aku banyak mengalami tantangan.Mulai dari rekan kerja yang tidak dapat dipercaya, hingga masalah kesehatan.

Seperti yang bapak katakan, aku memang belum matang mengurus diriku sendiri, mengatur ritme, dan memanajemen waktu.Aku yang terlalu gila bekerja demi sebuah pembuktian membuat tubuhku tumbang.Bukannya mendatangkan kemashlahatan, aku justru lebih banyak merepotkan.Belum lagi kejadian penipuan oleh kawan yang membuatku terpaksa berpuasa selama beberapa bulan.

Ah aku masih terlalu muda. Keinginan agar tidak diremehkan kadang membuatku gelap mata dan menutup telinga.Hingga aku tega untuk memberontak kepada Bapak, bahkan beberapa bulan setelah merantau pun aku masih enggan berbicara pada beliau.Kata-kata pengusiran yang tak sengaja terlontarkan masih terasa menyakitkan.

Aku ingat waktu itu, kurang lebih setahun setelah kepergianku. Aku menghubungi ibu dan kudengar ibu menangis tersedu-sedu ketika aku mengabarkan aku sempat tumbang..

“ Ah, de’e cah lanang, iso ngurus awakke dewe. Metu seko omah wae ra kondo kok..“, begitu komentar bapak waktu itu yang membuat hati ibu menjadi sendu.

Aku sebenarnya ingin berbicara dengan bapak kala itu sebelum kuurungkan niat setelah mendengar komentar bapak yang membuat lara di dada. Mungkin aku kualat karena terlampau nekat.

Berbagai upaya telah Ibu lakukan untuk mengikat kembali hubungan yang renggang antara buya dan ananda.Mulai dari inisiatif melalui percakapan hingga rekayasa bingkisan.

Dalam setiap percakapan yang kami lakukan, Ibu selalu menceritakan masa kecilku bersama Bapak dengan harapan paling tidak sebagai anak, aku lebih melunak.Memang dalam hati kecilku, sebagai anak yang tumbuh besar dengan cerita malin kundang yang senantiasa menjadi pengantar malam, aku sadar bahwa perlawanan yang aku lakukan adalah sebuah kesalahan.

Dalam kesendirian di perantauan, terkadang aku merindukan kehadiran keluarga yang penuh kehangatan. Keheningan di pedalaman yang mendekap ketika malam menjelang, menghantarku pada kenangan akan masa kanak-kanak bersama bapak. Aku ingat ketika aku mengikuti lomba-lomba ketika belia. Bapaklah yang mengantarkanku hingga kadang bapak rela cuti kala aku harus melawat hingga luar kota. Belum lagi ketika bapak harus bersusah payah ketika aku harus mencari sekolah.Memang walaupun keluarga kami mampu membayar oranguntuk sekedar mengantar jemput, tapi bagi bapak kehadiran raga akan memberikan atmosfer yang luar biasa.

Perenungan berbulan bulan lamanya, dan berbagai pelajaran hidup yang aku dapatkan selama perantauan membuatku semakin dewasa, dan semakin matang dalam mengambil keputusan. Apalagi proyek perusahaanku untuk memperkenalkan listrik kepada masyarakat di pedalaman melalui solar cell membuatku harus berinteraksi dengan berbagai macam orang,bernegosiasi dengan berbagai macam rintangan. Dan paling tidak aku mulai paham larangan bapak beberapa waktu silam.Masuk ke pedalaman tidak semudah yang aku pikirkan.Berpartisipasi dalam proyek kelistrikan, dan memperkenalkannya kepada masyarakat awam, lalu pulang dielu-elukan sebagai pahlawan atau sebagai pemuda yang berperan bagi kemashlahatan tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Mulai dari masalah kesehatan, hingga ancaman-ancaman yang menyangkut keselamatan dikarenakan tidak setujunya beberapa orang atas proyek yang kami lakukan sempat menjadi makanan kami sehari-hari.Berbagai pendekatan telah kami lakukan dan kami hampir mengalami keputusasaan.Pada saat itulah kadang aku berpikir, andai bapak berada di tengah-tengah kami.Tak dipungkiri bahwa aku masih perlu banyak belajar dari Bapak.

Walaupun bapak tidak menerima kata ‘tidak’ kala beliau berkehendak, aku sadar bahwa semua itu demi anak-anak.Aku ingat ketika ibu mengadu kepadaku beberapa minggu sebelum kepulanganku.Memang niatku waktu itu menghubungi ibu untuk mengabarkan kepulanganku, hingga ibu bercerita kalau Bapak menginginkan adikku, Tiara, yang berjiwa seni untuk masuk ke Universitas Indonesia alih-alih Institut Kesenian Jakarta.Bapak tahu bakat terpendam Tiara dalam seni rupa.Namun jalan pemikiran bapak berbeda, dan seperti biasa ketika bapak berkehendak, tidak bisa tidak.Kekerasan hati Bapak, membuat Tiara lebih banyak mengurung diri di kamarnya.Setelah beberapa lama, Bapak sebenarnya mulai putus asa.Bapak hanya takut Tiara minggat seperti abangnya.Hingga akhirnya ibu menghubungiku dan akhirnya aku berhasil meyakinkan Tiara.

“ Kamu kan bisa melukis kala senggang, dan kamu juga bisa menjadi akuntan. Atau kamu bisa jadi arsitek.Toh kamu tetap masih bisa melukis.“, ujarku untuk meyakinkan Tiara.Kupikir inilah sebenarnya yang Bapak pikirkan.

Beruntung dia mau mendengarkan kata kakaknya dan akhirnya melunak menuruti keinginan Bapak.

Dan semalam, usaha ibu mendamaikanku dengan Bapak mulai tampak.

Assalamu’alaikum Ndik, kamu besok mau Bapak jemput wae yo?Ati-ati ning dalan.

Begitu pesan yang Bapak kirimkan setelah bertahun-tahun lamanya.Aku tahu Bapak merasa bersalah telah mengabaikanku kala tumbang dulu, dan Bapak juga sebenarnya ingin mengucap terima kasih kepadaku karena telah membantu beliau menaklukkan hati Tiara. Begitulah cara Bapak meminta maaf dan berterima kasih, dengan sebuah perhatian.

Aku masih menyimpan pesan itu hingga sekarang.Kubaca berulang ulang sembari menunggu panggilan terbang.

Wa’alaikumsalam, Pak. Matur suwun, Pak. Ndak sah repot-repot.Aku naik sepur kemawon saking Maguwo.

Balasku seketika malam itu, berusaha berbahasa jawa krama setelah sekian lama..Dan seperti yang sudah-sudah, ketika Bapak sudah berkehendak, tidak bisa tidak.

Wes rapopo, tak pethuk sisan.Gawananmu akeh, ra sah nyusahke awake dewe.

Dimaafkan saja sudah sangat bersyukur, apalagi ini sampai dijemput.

Panggilan kepada penumpang Xpress Air  dengan nomor penerbangan XN 831 tujuan Jogjakarta dimohon untuk naik ke pesawat melalui pintu nomor 1

Akhirnya, aku bisa kembali pulang ke tanah Jawa.Pak, kulo wangsul.

Beberapa saat kemudian, pesawat gaek tersebut mulai bergerak menuju landasan untuk membawaku terbang kembali dari perantauan. Cukup dua jam berada di ruang bertekanan sebelum aku menjejakkan kaki kembali di daratan.

Segera kubergegas mengambil bagasi dan menuju ke area kedatangan.Aku tak mau Bapak terlalu lama menunggu, lalu uring-uringan sepanjang jalan.Kuhidupkan kembali telepon bimbit yang sedari tadi tak mau berkedip karena kumatikan selama penerbangan.

Aku penasaran penampilan Bapak.Apakah Bapak sekarang berambut perak gara-gara memiliki dua orang anak yang pemberontak.Apakah Bapak makin kurus karena memikirkanku di perantauan tak terurus? Semua akan terjawab sesaat lagi ketika aku melangkahkan kaki menuju area kedatangan.

Kupandangi setiap muka orang-orang yang berada di area kedatangan.Tak kutemukan sosok yang aku kenal.

Ah apakah Bapak sudah begitu berubah? Aku tak mau menyerah.Kususuri selasar terminal Bandara Internasional Adi Sucipto berharap menemukan sebuah wajah yang familiar.

Tiba-tiba telepon berbunyi

“ Ndik, dimana? Aku iki di kedatangan “, bapak berusaha mengabarkan.

Kutenteng koper dan kugendong tas ransel kembali menuju ke area kedatangan.

Masih belum tampak wajah sang ayah.

Ah apakah aku lupa ingatan? Apakah kemarahan sudah menggerogoti setiap kenangan?

Kutelepon Bapak kembali.

“ Pak dimana? Aku udah di kedatangan “, tanyaku untuk memastikan.

“ Aku di depan Bakso Cak Eko, “ sahut bapak.

“ Aku ini udah deket Bakso Cak Eko” , kataku sambil berjalan menuju tempat yang bapak sebutkan.

“ Lho kamu nang ndi? Iku lho Cak Eko sing sampinge Dunkin Donut “, kata Bapak mencoba memberikan detail.

“ Iya, yang deket KFC itu kan “ , aku masih berusaha meyakinkan.

“Iya “

Aku mencari kesekeliling lokasi yang bapak sebutkan, tapi tetap tak ada tanda-tanda dari bapak.Aku mulai putus asa.

Ah, apa aku sebegitu durhakanya hingga di azab tak bisa mengenali muka ayahanda.

“ Piyee?? Nang ndi kowe. Wes gini wae ketemu di depan pintu keberangkatan yo? “, kata bapak mencoba menghubungi kembali.

“ Ojo dimatikan pak, sek bentar aku ke situ “, kataku mencoba mengklarifikasi

“ Yo “, jawab Bapak singkat

“ Bapak dimana? Aku udah di keberangkatan, depan pintu persis “, kataku sembari memandang lekat-lekat agar wajah Bapak tidak terlewat.

“ Di mana tho, Pak? “ , aku melanjutkan kata dan aku mulai putus asa.

“ Ya ini, di depan pintu keberangkatan. Kamu udah di sini to? “, tanya Bapak untuk meyakinkan.

“ Udah, Pak. Persis aku didepane petugas “

“ Coba kamu maju sedikit, itu di deket pintu keberangkatan, maju dikit, ada Es Teler 77, tak tunggu di situ “ , tukas Bapak yang kali ini berinisiatif berdiri dekat tempat-tempat yang menarik dipandang agar mudah ditemukan.

“ Es Teler 77?? “, tanyaku keheranan. Walaupun aku sudah empat tahun tidak pulang ke Jawa, tetapi setelah setengah jam mondar mandiri menyusuri area kedatangan dan keberangkatan aku yakin bahwa tidak ada Es Teler 77 dekat pintu keberangkatan Bandara Adi Sucipto Jogjakarta.

“ Iyo, reti kan? “, jawab Bapak singkat

“ Serius? “, kataku mulai curiga

Jangan-jangan

“ Lho bapak ini dimana tho? “ , tanyaku lagi

“ Semarang “

Aku pingsan.

Penulis: Ian Yuniawan

 

Comments

BAGIKAN
Berita sebelumyaSerat Wedhatma: Nasehat Universal K.G.A.A Sri Mangkunegoro IV
Berita berikutnyaKue Keranjang Khas Imlek dan Kandungan Filosofinya
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
REVIENSMEDIA.COM hadir untuk menampung pemuda-pemuda kreatif, inspiratif se Indonesia. Keterbukaan, keragaman dan explorasi talenta adalah tujuan reviensmedia.com. Slogan kami adalah: Explorasi untuk Kebersamaan dan Harmoni. Selain web, media yang kita gunakan adalah media sosial lainya. Di media ini kami Bersama-bersama mengembangkan passion, dan karya yang kami hasilkan berupa tulisan dan audio visual. Kami tergabung dalam persahabatan dan karya di ajang Sahabat Reviens yang tersebar seantero nusantara seperti Jakarta, Kebumen, Pontianak, Bitung, Purworejo, Pekanbaru, Sumbawa, Bekasi, Depok dll.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here