Pertanyaannya, “DILAN 1990” kok Nggak dibuat di Purworejo Saja

0
809
Illustrasi: kapanlagi.com

2018 adalah tahun yang mungkin disebut tahunnya “Dilan”. Karena dari berbagai sudut, entah itu manusia maupun kucing dan makhluk lainnya serta berbagai pojok kota dipenuhi gambar poster Dilan.

Untungnya di Purworejo enggak ada, kalau ada bisa jadi fans Igbal Ramadan (pemeran Dilan) dan Vanesha Prescilla (pemeran Milea) bertambah, embah-embah pun kalau tahu bisa juga menjadi penggemar berbahaya, karena bisa lebih agresif dari anak-anak SMA.

Tak habis pikir juga secarik kertas koran bungkus tempe mendoan pun menjadi sebuah media baca yang menjadi andalan ibu-ibu untuk kepoin Dilan. Sampai-sampai ibu-ibu yang berjualan di pasar Baledono yang baru diresmikan itu ikut membumingkan judul film, yang bisa di eja D I L A N 1990. Ibu-ibu di pasar Suronegaran pun ikut rempong juga, karena menceritakan anaknya tadi malam nonton “DILAN 1990” sama calon mantunya.

Tanggapannya ada yang senang ataupun sebaliknya. Yang senang beranggapan bahwa film “Dilan 1990” mempertemukan jodoh anaknya. Ada juga yang nggak suka, sebab anaknya jadi berani ngelawan orang tua gara-gara ngeyel pengen nonton tuh film sama pacar barunya yang nggak disukai ortunya.

Pokoknya Purworejo jadi heboh, dan para pembuat film bertepuk senang karena filmnya laris manis di mata penduduk Indonesia. Sepertinya Dilan sukses memaksa cowok untuk merogoh saku celananya buat nyenengin hati ceweknya. Sayangnya itu hanya tulisan, andai saja benar hehehe

Baca Juga  Ibu adalah Hari

Tetapi jangan salah dulu sebelum ada mas ganteng “Dilan” dan dek manis si Milea, Indonesia pernah digemparkan oleh “Rangga dan Cinta” . Dalam kisah “Ada Apa Dengan Cinta”, bahkan film ini ditunggu-tunggu masyarakat Indonesia karena kemisteriusan Rangga. Baru 10 tahun kemudian munculah Ada Apa Dengan Cinta 2 .

Yang beberapa tahun lalu, film ini juga buming bahkan tempat shooting filmnya jadi instragramabel di instagram. Contohnya dari puncak Setumbu sampai Rangga menunggu cinta di Gereja Ayam. Dari rangkaian tulisan di atas, sebenarnya cuma pengen bertanya.

Pertanyaannya, “DILAN 1990” kok tidak dibuat di Purworejo. Purworejo sepertinya lebih menarik ketimbang Bandung, tapi sepertinya lho ya hehehe.

Jadi begini, ternyata Purworejo juga mempunyai tempat yang menurut saya bagus untuk setting “DILAN 1990” misalnya waktu adegan pertemuan dua sejoli yang disebut Dilan & Milea itu di SMA 7.

Di samping sekolah ini luas tempatnya, bangunan ini juga merupakan bangunan peninggalan Belanda. Kemudian bisa duduk bareng di bawah pohon besar rindang di dalam lingkungan sekolah. Dengan membawa buku teka-teki untuk hadiah ulang tahun Milea. Hal ini dianggap unik oleh Milea, yang berbeda dari kebanyakan cowok lain, ngasihnya coklat dan boneka.

Baca Juga  Kapan Saya Merasa "Besar"

Bisa juga berjalan bersama melewati patung kereta kencana di depan sekolahnya SMA 7. Si Milea naik sepeda ontel dan si Dilan jalan kaki sambil bawa buku catatan untuk menulis puisi. Tertawa bersama melewati depan kantor DPRD Kab Purworejo lurus terus mentok sampai di Alun-alun Purworejo. Duuuh kok romantis sekali yaa? Pantes aja buming hehe.

Atau nyobain kuliner khas Purworejo, dawet ireng khas butuh. Duduk berdua di pondok pinggiran jalan dengan sudut pandang pematang sawah, membuat warna lain saat bercengkerama dengan Milea. Ada adegan berebut karena es dawetnya tinggal 1 mangkuk. Ahirnya tumpah, dan tinggal sedikit. Tetapi mereka tersenyum karena tumpah mengenai baju penjualnya hahaha Dilan dan milea tertawa.

Stasiun kereta Purworejo sepertinya tak luput menjadi pilihan selanjutnya, bangunan yang kental dengan nuansa eropa pada abad ke 18 ini pass banget untuk tempat bertemu. Milea yang manis itu dan Dilan yang cool harusnya beradekan di sini, misal berjanjian untuk bertemu dengan menuliskan sesobek kertas.

“Aku sudah rindu Milea, aku di stasiun lama” cewek mana yang nggak meleleh hatinya coba. Kepolosan dibalut dengan model coolnya dalam menyampaikan perasaannya ini yang membuat Milea sedikit banyak mulai memikirkan Dilan. Apalagi dengan kata pujian yang dipadukan dengan bahasa kejujuran dalam quotesnya “Milea kamu cantik, tapi aku belum mencintaimu, enggak tau kalau sore. Tunggu aja”. Sepele sih kalimatnya, tapi kalau cewek yang baca efeknya bikin gak bisa tidur.

Baca Juga  AKU TAK MAU MENIKAH MUDA, KARENA AKU MEMPUNYAI CITA-CITA

Seperti kebanyakan cowok lainnya dianter untuk potong rambut oleh ceweknya itu suatu hal yang menyenangkan, andai saja settinganya di Purworejo. Mungkin Dilan akan mengajak Milea untuk menemaninya potong rambut di pinggiran lapangan garnizun.

“Milea, rambutku sudah panjang, sepertinya perlu di potong. Selayaknya rindu untuk terus tumbuh” bisa dibayangkan bukan, asiknya gimana? Apalagi Purworejo banyak sekali tempat yang romantis. Misal pojok alun-alun yang ada patung clorotnya, tugu gunungan ditengah perempatan jalan ke pendopo kabupaten, beringin sepasang di tengah alun-alun, tulisan Purworejo yang konsepnya mirip malioboro. Buanyak banget sebenarnya tempat yang cocok untuk film “DILAN 1990”.

Mungkin kebetulan saja Allah membuat Kota Bandung menjadi pilihan pak sutradara. Tetapi tidak apa semoga film lanjutannya bisa bersetting di Purworejo setelah pak pak Pidi Baiq dan pak Fajar Bustomi membaca tulisan ini. Untuk mendukung Romansa Purworejo 2020. “Jangan rindu, berat. Kamu gak akan kuat, biar aku saja” (Dilan 1990)

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here