Pemilik Kota Hati Part#2

0
236
Illustrasi: pexels.com

Dia menjawabnya dengan memberi salam Ya Tuhan aku lupa mengucapkan salam pertama kirim pesan. “Duh lelaki macam apa aku ini. Mungkin sudah minus satu nilaiku di matanya”.

Karena terlanjur dia memberi salam aku pun menjawabnya. Dia masih mengetik aku dengan sabar menanti jawaban pesan- pesan darinya. Dan akhirnya dia menjawab “Kabar baik, masih kenal kok, kamu teman SD aku yang rumahnya di belakang Rumah sakit itu kan?” Masyallah ternyata dia masih ingat aku dan rumahku. Benar saja ini membuat hatiku semakin berbunga dan merekah.

Jadi teringat saat kelas 5 aku sakit, dia mengajak teman- teman datang tuk menjenguk ke rumah. itulah salah satu hal yang membuat aku tambah mengaguminya sedari dulu, dia pinter, tidak sombong dan baik hati. Mungkin karena itulah sang pemilik kota Hati ini masih padanya.

Pernah satu ketika aku mengikutinya pulang sekolah. Aku penasaran, dia kalau pulang selalu jalan kaki, tak mau dijemput ibunya. Jika diingat- ingat lagi, aku merasa itu hal yang terkonyol yang pernah aku lakukan saat itu demi dia. Masih kecil, menjadi pengagum rahasia dan selalu mencari tahu tentangnya. Dan ternyata di perjalanan dia berhenti di sebuah pohon besar, dia membagi susu kotaknya pada seekor kucing kecil yang sangat kurus. Dia menaruhnya dalam sebuah piring kecil, sepertinya itu dilakukannya setiap hari. Karena ada kardus kecil di sebelahnya dan satu piring kecil untuk makanan.

Selain peduli sesama manusia dia juga peduli sama hewan. Lelaki mana coba yang tak menaruh kagum kepadanya. Sahabatku juga demikian menyukainya karena dia baik dan suka berbagi ilmu. Dia sering menawarkan diri mengajak teman- teman sekelas ke rumahnya untuk belajar bersama. Atau les privat bareng di rumah tetangganya seorang guru juga. Mungkin banyak hal ini lah yang membuat aku tak bisa melupakannya hingga saat ini.

Tiba- tiba aku mulai bingung dan serba salah, harus menanyakan apa lagi ini. Aku baru ingat pada undangan yang ada di grup. Sepertinya semesta begitu mendukungku hari ini. Aku menanyakannya apakah dia akan hadir pada pesta pernikahan itu. Jujur aku seorang yang pemalu, di sekolah dulupun aku tak begitu dikenal tidak bisa mudah berbaur bersama teman lainnya. Dan teman yang lain juga tak begitu peduli dengan hal itu. Dialah kadang menyapaku jika berpapasan, dia begitu ramah dengan semua orang. Kadang aku tersadar mungkin akulah yang terlalu baper (bawa peresaan) padanya, padahal perlakuannya juga sama dengan yang lain.

Pesanku pun tak kunjung dibalas. Lama aku menunggunya. Aghh… apalah aku ini 10 tahun saja aku mampu menunggunya, mana boleh patah semangat cuma menunggu beberapa jam ini. Mungkin dia lagi sibuk. Akupun melanjutkan aktivitas kerjaku. Aku harus lebih semangat bekerja biar menjadi orang yang lebih pantas nantinya untuk dia.

Haripun mulai senja, aku bergegas merapikan meja kerjaku dan bersiap untuk pulang. Dan sontak saja handphone ku berbunyi seperti ada notifikasi pembaharuan, “Maaf tadi aku ada jadwal kuliah, insyallah hadir sudah janjian juga dengan teman- teman yang lain. Kalau kamu bagaimana, bisa kan?, hayuk sekalian kita reunian”.

Hati yang tadinya gelisah kini menjadi tenang, dan begitulah cara dia selalu ramah untuk mengajak teman- teman yang lain berkumpul. Niat pulang diundur sebentar, daripada nanti aku di jalan penasaran memikirkannya. Aku menjawabnya “Tentu saja Insyallah akan hadir, sudah lama tidak bertemu”.

“Bertemu dengan teman- teman semua maksudnya” (dengan menambah gambar senyuman nyengir kuda). Duh hampir saja aku keceplosan, begitu inginnya aku bertemu dengannya, dia yang lama ditunggu dan ingin segera aku mengatakan “Aku ingin ketemu walimu dan meminta peralihan tanggung jawabnya padaku”. Dan pesan pun tak direspon lagi.

Sesampai di rumah aku langsung membuka handphone dan tak ada pesan lagi dari dia. Tapi aku pikir ulang tadi aku kirim pesan pernyataan yang tak harus dijawab ya. “Aghh… apalah aku ini”. Tak lama pintu kamarku berbunyi suara ketukan ibu dari luar, “Mar.. Amar, kamu sudah pulang nak? Ini ada pamanmu dari Surabaya baru saja sampai”. Bergegas aku membuka pintu, “Iya bu, sebentar aku mandi dulu ya, paman menginap dirumah kita kan?” (tanya ku). “Iya buruan” ( ujar ibu). Ehmm.. Ada apa ya paman datang ke rumah ? Biasanya kalau tak ada hal yang penting tak mungkin jauh- jauh datang kesini (tanyaku dalam hati). Tak lama aku langsung menghampiri paman, ternyata dia tak sendiri kali ini, ada seorang gadis di sebelahnya dan mukanya tak asing bagiku. “Kamu… hanya kata itu yang terucap dan aku termangu, lidahku keluh tuk mengucapkan kata- kata lainnya.

@Kin_Chaniago

*** To be continued ***

Comments

BAGIKAN
Berita sebelumyaSiti Nurbaya Zaman Now
Berita berikutnyaMerayakan Hari Wayang Dunia
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
Seorang Social worker, Freelance,enterpreneur. Hobi Masak, makan, traveling, membaca dan Menulis. Saat ini masih tertatih mengejar impianya, sedang menulis beberapa buku Antologi bersama, fiksi dan non fiksi dan buku project sosial. Insyallah 2018 on proses terbit. Ingin sekali menerbitkan buku solo dan menulis tentang sharing kebaikan agar bisa bermanfaat hingga plosok- plosok negeri. " Menulislah dengan jiwa hingga raga itu tak mampu lagi merangkainya karena Allah tak memberikan kita izin selamanya tuk menetap di bumi"

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here