Purworejo, Harumnya Sampai Bali

0
1083

Reviensmedia.com, Bali – Bali adalah salah satu provinsi di Indonesia, yang sedari dulu menjadi magnet tersendiri di dunia internasional. Pesonanya tak habis di makan era milenials, justru semakin bertumbuh tingkat daya tariknya. Alamnya yang masih asri, pepohonan hijau berpadu dengan langit biru yang membiru. Deburan ombak silih berganti menyanyikan nada-nada khas air bertabrakan dengan karang dan pasir.

Ditambah dengan magisnya panorama sunset di garis pantai-pantainya, menambah keinginan untuk mengunjungi dan menelisik lebih dalam kemenarikan, keeksotisan, keindahan alamnya, apalagi didukung oleh masyarakatnya yang menjujung tinggi budaya dan kebudayaan. Dari balik cerita indahnya Bali, ternyata masih saja menyimpan, sosok inspiratif. Sebut saja I WAYAN BUDIARTAWAN, beliau lahir di bali. Sosok ini sangat menginspirasi banyak orang, bukan hanya untuk desanya saja, tapi masyarakat Bali pada umumnya.

Dari kecil juara kelas dan menjadi teladan di kabupaten Karangasem, kota Denpasar serta ITB Bandung, beliau merupakan bintang kelas mulai dari Sekolah Dasar sampai pada tingkat perkuliahan. Hari-hari I Wayan dilalui dengan penuh harapan, dengan berbagai impian. Pemikirannya yang kritis, dan dianugrahi kejeniusan lebih yang pada ahirnya menempatkan dirinya di ITB, sebagai mahasiswa elektro. Dengan IPK 3.15 pada kala itu telah menghantarkan I Wayan menjadi pengajar di institut yang pernah menjadi tempat belajar presiden pertama bangsa ini, Ir Soekarno.

Pencapaiannya tak sampai di situ saja, dengan bermodal kejeniusannya serta kesungguhannya, ketelatenannya, beliau mendapat penghormatan untuk study di luar negeri, tepatnya di Scontlandia dengan beasiswa penuh. Tetapi ada rencana lain dari Tuhan, sang Hyang Widi berkehendak lain. Beliau tanpa menduga, tanpa mengira dalam persiapannya study ke mancanegara itu mengalami gangguan psikologi. Hingga beasiswa ke luar negeri pun sudah di depan mata tapi seperti tiba-tiba saja dilempar ke “neraka” seketika, setelah mimpi melihat “bidadari” semalamnya. Akhirnya study untuk mengharumkan Indonesia di negara berjuluk kuda bertanduk (Unicorn) itu bubar dan lagi berantakan.

Kisahnya tak sampai di situ, sang Hyang Widi masih saja menyayangi beliau dengan menambah ruang hatinya lebih lapang untuk lebih bersabar. Sembuh dari gangguan psikologi, I Wayan didera kelumpuhan pada kedua kakinya. Setelah menderita panas dan menggigil semalamnya. Akibatnya bukan hanya lumpuh saja, tetapi kedua kakinya membengkok dan mengecil. Sempat untuk patah semangat, merasa sang Hyang Widi tak adil. Perilaku, tingkah laku serta tidak melakukan hal yang menentang adat, tetapi semua itu sirna dengan kepercayaannya bahwa memang jalan hidupnya untuk mencapai Nirwana.
Putra dari I Wayan Serai & Alm I Nengah Gampil, kini bagaimana dengan kondisi I Wayan Budiartawan? Ada 5 buku, artikel dll yang sudah dihasilkannya. Beliau bangkit dari keterpurukan jiwanya, kemudian tanpa menyia-nyiakan waktu. Kembali membuka buku serta membacanya, dalam diam melawan keterpurukan, kesedihan dan kekecewaan yang mendalam ini.

I Wayan berkarya, menulis buku, membuat arikel-artikel dan membuat penelitian-penelitian yang pada akhirnya membuat tebal semangatnya. Inilah yang kami sebut inspiratif, dari berbagai hal yang dialami. Mulai karir yang mulai akan menanjak, dari kondisi fisik tanpa kurang suatu apa. Sampai kejeniusan yang membawanya berpikir luas. Berakhir dengan gagalnya impian, keterbatasan fisik, gangguan mental.

Tim Reviensmedia.com merekamnya dalam dokumentari bertajuk I Wayan Budiartawan: Mata Pena dari Karangasem, yang di adaptasi dari buku diarinya berjudul Matahari Bersinar Kembali, dan dirajut dengan cerita-cerita Wayan Budiartawan, testimony Wakil Bupati, sahabat kecil, pesona keindahan Besakih dll.

BANNER

Film dokumenter ini karya dari pemuda Purworejo, tergabung dalam suatu wadah, Reviensmedia.com kebetulan semua crew, asli Purworejo. Segenap masyarakat Purworejo khususnya mohon doa restu dan dukungannya, niat untuk launching film di Pulau Dewata diharapkan tanpa ada halangan amiin.

Launching perdana di Ashram Gandhi Puri Sevagram Klungkung. Yuk hitung mundur dari sekarang, pada 1 April 2018 nanti.

Cek TeAsernya Di Sini

Comments

BAGIKAN
Berita sebelumyaTeaser Film Dokumenter Matahari Bersinar Lagi
Berita berikutnyaMakna Rumah Yang Berantakan Karena Ulah Si Bocil
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
Yan Budi Nugroho, itulah kombinasi nama yang diberikan orang tuanya dan bapak Soekoso DM, seorang budayawan kota kecil Purworejo. Saat ini ia sedang menempuh perguruan tinggi jurusan pendidikan. Hobi: sepak bola, cita-citanya bisa nerbitin buku seperti novelis idolanya Habiburahman el-Zhirazy.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here