Sosok di Balik Kendaraan Mewah

0
76

Sore itu ketika rombongan dari sekolah PAUD kami singgah di sebuah pusat kota (yang sengaja tidak ingin saya sebutkan kotanya), di mana di sana banyak anak-anak beserta keluarganya melewatkan waktu senja mereka di tempat itu.

Melihat anak-anak bermain, berlarian kesana kemari rasanya senang sekali.
Bahagia tentunya karena tidak semua anak bisa merasakan hal seindah itu.

Tidak semua anak punya waktu untuk memikirkan waktu bermain mereka.
Tidak semua anak memiliki hak memikirkan kebahagiaan mereka.
Tidak semua anak memiliki orangtua yang bisa membahagiakan mereka.
Dan tidak semua anak bisa memiliki segala yang anak lain miliki.

Jika beberapa di antara mereka bisa memiliki gadged, laptop, maupun jam mahal, tapi beberapa anak yang lain sibuk memikirkan perut mereka, hanya sekedar perut. Karena itu letak kebahagiaan mereka.
Mereka, anak-anak yang harus berkelahi dengan panas, hujan, dan kejamnya kehidupan jalanan.

Zaman now ini kemewahan bahkan tidak hanya dirasakan oleh mereka dengan ekonomi atas, namun mereka dengan ekonomi sedang pun tidak mau kalah berlomba-lomba memberikan kemewahan untuk anak-anak mereka.

Sadarkah mereka jikalau kemewahan itu sama sekali tidak akan membuat anak-anak menjadi pandai, rajin, baik hati, apalagi berakhlak mulia.
Justru ironisnya kemanjaan itu membuat mereka bertindak sesuka hati mereka tanpa memikirkan perasaan kita sebagai orangtua.

Akan tetapi berbanding terbalik dengan anak yang satu ini, yang saya lihat di pusat kota sore itu. Ia berada di pinggiran jalan, dengan masih di atas sepedanya. Saya melihatnya cukup haru. Dengan seragam putih biru yang sangaaaat lusuh, tidak layak pakai. MasyaAllah…..
Dan ternyata ia tengah menunggu seseorang yang tak lain seorang ibu-ibu yang kemungkinan besar adalah ibunya.
Ibu tersebut yang sejak tadi saya lihat memunguti barang bekas di sekitar situ.
Benar saja, ibu itu kemudian meletakkan dua karung barang bekas ke dalam keranjang sepeda anaknya, kemudian si ibu beranjak pergi lagi.

Anak perempuan itu masih menunggu ibunya, berhenti di samping sebuah mobil, sesekali ia menutup mukanya dengan jilbab yang ia kenakan. Mungkin karena beberapa orang memperhatikannya, ia lalu berlalu dengan mengayuh sepedanya.

Ingin sekali saya berkata “Jangan malu nak, kami bangga padamu” karena saya yakin, saya sendiri tidak memiliki cukup mental untuk melakukan hal seperti yang ia lakukan.

Hidup serba kekurangan bukanlah pilihan mereka, tapi takdir memaksa mereka menjalaninya. Jika boleh memilih, tentu ia ingin seperti teman yang lainnya, setidaknya bisa memiliki seragam sekolah yang layak pakai, bukan layak buang.

Tapi, jangankan memikirkan seragam sekolah, bisa makan, apalagi sekolah tentu mereka sudah bersyukur.
Apalagi untuk berkhayal bisa duduk di dalam kendaraan mewah di sampingnya, tentu hanya sebuah fatamorgana bahasa puitisnya.

Uuuuhhhhhhhhh….. Sedih memang, tapi jangan takut bermimpi nak, semoga kelak takdir berpihak padamu.

Yuk, kita ajarkan kepada anak-anak untuk melihat orang-orang di sekitar kita. Jangan cuma fokus di layar tv, laptop, dan ponsel saja. Karena semua itu bak singa yang bisa menerkam dan mengancam keselamatan kita.

Sesekali tengoklah ke bawah, jangan terlalu sibuk melihat ke atas.
Sudah ada contoh beberapa orang milyarder di negera lain yang sengaja menggembleng anaknya untuk merasakan kehidupan orang-orang miskin, agar mereka bisa belajar bekerja keras, dan bersyukur tentunya.

Mengajarkan cara-cara bersyukur adalah tahapan utama yang harus ditanamkan kepada anak-anak, selanjutnya biarkanlah takdir yang menuntun mereka ke jalannya masing-masing.

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here