Dari Bali, 5 Anak Muda Purworejo Mendapat Kalungan Bunga

0
432

Reviensmedia.com – Matahari mengintip di balik bukit, bertirai awan-awan tipis yang meronakan sinarnya. Dengan sedikit malu, tetapi manis memaksakannya keluar dari peraduan. Burung kesana kemari bersautan mencelotehkan suara merdunya, seakan berucap terimakasih karena pencipta-Nya menghadirkan pagi tanpa memintanya. Sepertinya hari itu sang penguasa alam semesta sedang menunjukkan kuasannya, membuat langit bak kain kanvas dengan berbagai warna, awan dengan semburat keemasan perlahan-lahan tertiup angin, langit dengan warna birunya yang memendar. Pohon menghijau selayaknya permadani yang digelar, bermotif unik, menyatu, saling bertasbih di bumi pulau dewata.

Sekelompok anak muda tampak berlari setengah kencang, tetapi terlihat sedikit pelan. Mereka kurang lebih 5 orang, dan terdiri dari laki-laki, di antaranya ada yang berambut panjang. Sesekali nafasnya terengah-engah, beban di punggung lumayan berat, serta cukup banyak pula isinnya. “Ayo kawan sedikit cepat, kita semua sudah memasuki waktu untuk boardingpass”, celetuk salah satu orang dari rombongan. Bertuliskan dengan warna merah dan putih tempat berparkirnya burung-burung besi itu, International air port I GUSTI NGURAH RAI, bandar udara yang menjadi pintu utama wisatawan mancanegara di Indonesia, teryata cukup berbaik hati. Lima orang laki-laki hampir saja tertinggal burung besi, yang akan menghantarkannya ke kota Yogyakarta. Dengan koordinasi dari semua lini, pihak penerbangan dan pengelola yang baik. Sehingga tentang keterlambatan itu dapat diatasi. Deru mesin turbo terdengar menggelegar, siap untuk memecahkan suaranya di angkasa. Dengan berucap bismillahirohmanirrokhim, kendaraan tercepat di bumi saat ini melaju ke tempat tujuan.

Di balik cendela tampak gunung agung diselimuti awan, samudra hindia menunjukkan luas dengan warna birunya dan bumi membentangkan warna hijaunya, menambah indahnya perjalanan dari Bali pulang ke Yogyakarta. Kurang lebih mengudara 1 jam, burung besi menukik untuk mencari posisi mendarat, tepat di bandar udara international air port Adi Sucipto deru mesin berhenti berbunyi, menandakan siburung besi sampai tujuan. Sekelompok anak muda tadi terlihat menuruni anak tangga dengan hati-hati, senyum menggurat indah tergaris di kedua pipi mereka. Seakan ada sesuatu hal kesenangan yang mereka sembunyikan. Dari kejauhan mereka tampak berbincang, bercanda tawa sambil menunggu koper dan tas di ruang pengambilan. Sekitar kurang lebih 15 menit kemudian berjalanlah keluar, meskipun masih harus melewati pemeriksaan barang.

IMG-20180407-WA0004

Nah cerita kebahagian, tanpa pengiraan dan dugaan itu berawal dari sini. Belum ada 20 langkah dari pintu keluar, kami disambut sangat meriah. Ada beberapa orang yang mengaku dari Purworejo sengaja datang untuk menjemput. Mereka membawa rangkaian bunga dan kendi yang berisi air. Rangkaian bunga untuk dikalungkan sedangkan kendi berisi air untuk mencuci muka dan minum. Proses pengalungannya berurutan, mulai dari Yan budi, Ady cesar, Ilhan Erda, Kukuh Putra dan terahir Umar Faruq. Diketahui ternyata ini adalah bentuk dari apresiasi untuk anak muda yang berkontribusi. Dari salah satu menuturkan, “Kelima anak muda kreatif yang terwadai reviensmedia.com mempunyai profesi berbeda-beda ini telah memperjuangkan nama Purworejo dikancah nasional dan internasional, dengan cara yang luar biasa, mereka memperkenalkan dengan karya. Film Matahari Bersinar Lagi hanyalah sebuah alat, selebihnya cara-cara dan berpikir sungguh benar-benar out of the box. Dan inilah yang harusnya dimiliki oleh anak muda untuk zaman sekarang ini. Rangkaian bunga dan air kendi rasanya belum cukup untuk mengganti jerih payah mereka. Tetapi jujur kami sangat mendukung, harapannya tidak cukup sampai sini saja”. Celetuk perwakilan dari salah satu rombongan yang enggan menyebutkan namanya. Mengenai kabar dari mana mereka mengetahui, hanya dijawab singkat. “Kami mengamati dari media sosial, setelah berdiskusi kami sepakat untuk mengadakan surprise berupa penjemputan tanpa memberi kabar anak muda kreatif tersebut”. Yogyakarta siang itu sangat bersahabat, suasana panas, pengap khas perkotaan tidak terasa kali ini. Angin sepoi-sepoi mengiringi mereka berlima dengan senangnya. Tergambar rona bahagia semua anggota rombongan dari pulau dewata. Bak pahlawan yang pulang membawa kemenangan dari sebuah peperangan.

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here