Ngobar Jilid 1: Ahmad Yani Guru Difabel Berkisah Tentang Pendidikan di Pedalaman Kalimantan

0
280
Sosok Ahmad Yani (Budi Cesar/Reviensmedia.com)

Ahmad Yani adalah seorang guru yang memiliki keterbatasan fisik dan mengabdikan dirinya untuk mengajar anak-anak pedalaman Kalimantan Barat. Nah NGOBAR Ngopi (Ngobrol Inspirasi) Bareng Jilid 1 ini mengangkat tema “Keterbatasan fisik tak jadi masalah untuk mencerdaskan bangsa”. Bagaimana mungkin orang seperti Ahmad Yani ini bisa melakukan sesuatu yang jarang dilakukan orang normal pada umumnya. Simak obrolan inspirasi berikut :

“Saya berasal dari Lampung, dan pada saat ini saya mengajar di sekolah di daerah Anjungan sekitar 1,5 Jam dari Kota Pontianak. Sebenarnya saya lahir normal dan sempat kuliah lalu sekitar beberapa tahun yang lalu tepatnya bulan Mei saya mengalami demam tingga hingga kemudian kaki dan tangan saya tidak bisa bergerak hanya satu tangan saja yang bisa saya gerakan. Itu membuat saya sangat putus asa.”

“Ketika itu terjadi, ada dua hal yang menjadi ketakutan bagi saya pertama saya takut jika bergantung dengan orang maka saya menyemangati diri agar saya tidak akan bergantung pada orang lain dan kedua ketika itu usia saya 26 tahun dan selama itu saya tidak pernah melakukan apa-apa, tidak pernah melakukan sesuatu yang berarti, kehidupan saya seperti pemuda pada umumnya. Kemudian saya berjanji jika sembuh saya akan mengisi sesuatu yang berarti”.

“Saya kuliah ambil prodi matematika, dan pada tahun 2007 ditawari mengajari di salah satu sekolah SD di Kalimantan Barat dan saya menyanggupinya karena menurut saya ini kesempatan bagi saya karena pada saat itu guru matematika sangat jarang. Rata-rata yang sekolah di sana kebanyakan dari pedalaman. Bertolak belakang ketika saya mengajar mendapati anak-anak di sana sangat belum bisa melakukan apa-apa. Banyak yang salah menulis dan membaca tidak lancar, padahal mereka sudah duduk dibangku SMP dan SMA, saya berpikir ini pasti ada yang salah.”

IMG_20180407_084813

“kemudian saya kenal dengan beberapa teman yang tergabung dalam komunitas Love Borneo mencoba menelusuri pendidikan di pedalaman, dan kita menemui fakta bahwa pendidikan di pedalaman sangat memprihatinkan. Fasilitas yang sangat minim dan tenaga guru yang berkualitas sangat jarang itu kondisi realnya dari situ saya bertekad saya akan mengajar di pedalaman-pedalaman.”

“Menurut saya semua anak atau masing-masing anak dapat memiliki potensi hebat namun karena hal itu terlewati jadi sayang potensi-potensi itu tidak bisa dibangun. Mengenai guru, sebenarnya juga bukan karena kekurangan guru tapi permasalahannya adalah kurangnya guru yang memiliki hati terhadap pendidikan anak-anak pedalaman.”

“Saya pernah ke suatu pedalaman di sana terdapat Sekolah Dasar, namun entah kenapa, karena faktor medan atau faktor lain saya kurang tahu yang mengakibatkan guru-guru ini jarang masuk sekolah untuk mengajar. Dan ada juga guru-guru yang baru masuk mengajar menjelang ujian semester.”

“Ketika ada guru yang hadir mengajar yang mereka ajar hanya dua mata pelajaran, pertama seni, anak-anak diminta untuk menggambar tanpa diajarin bagaimana cara menggambar, cuma dikasih kertas sama pensil warna dan yang kedua pelajaran olah raga, anak-anak disuruh kelapangan dan dikasih bola dan gurunya masuk ke kantor entah ngapain.”

“Sehebat-hebatnya guru dalam mengajar kalau mengahdapi sekolah-sekolah di pedalaman bukan mengenai kompetensi mereka mengajar tapi kembali lagi ke hati mereka untuk anak-anak dan menghadapi medan di pedalaman. Jadi faktor itulah yang mendorong saya untuk mengajar anak-anak di pedalaman. Jadi rutinitas saya yang utama adalah mengajar di daerah anjungan sedangkan hari sabtu dan minggu saya pergi kepedalaman-pedalaman untuk bimbel kepada anak-anak.”

“Setelah saya lakukan kegiatan ini rutin kemudian saya dan teman-teman membuat sebuah pondok belajar dan fakta yang saya dapatkan adalah bahwa anak-anak di pedalaman ini nggak bodoh-bodoh amat. Saya pernah ke daerah Kuningan sekitar Entikong yang ditempuh selama 10 jam. Ketika saya mengajari anak-anak disana soal perkalian selama 10 hari mereka sangat antusias untuk belajar. Awalnya mereka bener-bener tidak bisa perkalian dan hebatnya setelah 10 hari kita ajar mereka bisa perkalian dengan 3 angka jadi kesimpulan yang saya ambil adalah sekali lagi bahwa mereka butuh guru yang punya hati.”

IMG_20180407_084756

“Jadi keterbatasan saya ini mendorong saya untuk berusaha melakukan sesuatu yang berarti buat anak-anak di Kalimantan Barat. Dan nasib Kalimantan Barat ini tergantung oleh kita sebagai pemuda-pemudi dan anak-anak di pedalaman. Jika mereka yang di pedalaman tidak dibekali dengan ilmu yang baik dan fasilitas yang memadai maka tidak akan ada perubahan.”

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here