Iring-iringan Khataman di Desa Blengor, Kebumen

0
62
Iring-iringan Khataman (Tri Kurniasih/Kebumen)

Reviensmedia.com, Kebumen – Khatam Al Quran adalah waktu yang dinanti-nanti oleh semua santriwan santriwati yang belajar ilmu AlQuran (mengaji).

Begitupun dengan para orangtua, tentu sangatlah bangga dan bahagia ketika anak-anak mereka selesai/khatam membaca Alquran.

Adapun acara khataman Al-Quran dilaksanakan dengan cara yang berbeda-beda tiap daerahnya.

Di desa Blengor wetan dan Blengor Kulon, Kebumen, acara khataman Al-Quran dilaksanakan dengan sangat meriah.

Biasanya acara tersebut diselenggarakan atas mufakat para wali santri, mengingat biaya yang dibutuhkan untuk acara tersebut tergolong besar.

Pergelaran acara khataman biasanya berbarengan dengan peringatan Isro Mi’roj maupun Maulud Nabi.

Sebelum diadakan iring-iringan kahataman, kurang lebih seminggu sebelumnya para wali santri mengadakan syukuran”ngadeg sembahyang” yakni syukuran anak-anak mereka kini sudah bisa melaksanakan kewajiban sholat.

Para wali santri membuat selamatan secara berkelompok (dibagi menjadi beberapa kelompok, bergantian sampai beberapa hari). Mereka membuat makanan seperti nasi ingkung beserta lauknya kemudian dibawa ketempat guru ngaji. Di sana kemudian didoakan dan lalu dibagikan kepada santri-santri yang ada disana.

Sedang di rumah mereka masing-masing, mereka menggelar hajatan layaknya hajat besar lainnya.

Malam sebelum acara iring-iringan khataman, sang guru ngaji menggelar acara tasyakuran. Adapun dana untuk acara tersebut yakni dari swadaya para wali santri.

Dalam acara tasyakuran tersebut para santriwan-santriwati yang sudah khatam, membacakan surat-surat dalam Al-Quran secara bergantian, kemudian dilanjutkan dengan pembacaan doa oleh sang guru ngaji atau bapak kyai. Kemudian para santri bersalaman dengan para tamu undangan sebagai wujud syukur dan mohon restu. Acara berikutnya yakni sambutan-sambutan dan diakhiri dengan tausiyah atau ceramah.

Pagi harinya semua yang mengikuti acara iring-iringan khataman bersiap-siap di rumahnya masing-masing. Mereka biasanya mengundang saudara dan tetangga mereka untuk ikut dalam rombongan iring-iringan.

Para pengombyong biasanya mengendarai kereta mini, Mobil pick up, maupun sepeda motor. Sedang sisanya berjalan Kaki mendampingi santri yang biasanya menaiki kuda dan dengan dandanan yang khas.

Setelah semua rombongan berkumpul, mereka kemudian iring-iringan mengelilingi beberapa desa.

Adapun rombongan paling depan dipimpin oleh grup drum band, diikuti oleh para peserta khataman yang berjumlah sekitar 25 peserta beserta para pengombyongnya masing-masing. Kemudian diselingi oleh grup robana, kuda lumping, dan angklung.

Jadi acara tersebut sangatlah meriah Karena dikombinasikan dengan berbagai kesenian daerah.

Di perempatan jalan, biasanya kuda yang mereka naiki berjoget diiringi alunan musik, sungguh menjadi pertunjukan yang menghibur, karena masyarakat beramai ramai menonton disepanjang jalan yang mereka lalui.

Begitu panjang prosesi tasyakuran khataman, sepanjang dana yang harus mereka keluarkan.

Pada intinya iring -iringan khataman tersebut merupakan perayaan besar-besaran Karena anak-anak mereka telah khatam Al-Quran, juga sebagai apresiasi atas apa yang telah mereka capai selama belajar ilmu Al-Quran.

Semoga saja tradisi yang unik dan meriah ini bisa tetap terjaga, juga sebagai salah satu hiburan untuk masyarakat sekitarnya.

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here