Cerpen: Izza

0
54
Illustrasi (parmantos)

Karya: Rezky Yuniawan Riantono

“Don, gue sebenernya lagi suka sama cewek kelas Analisis Biaya. Lo tau kan, itu si Izza.“

Damn! jawaban seorang sahabat bagi petir di siang bolong saat kutanyakan perilah moodnya yang seperti ayunan selama beberapa pekan belakangan. Kadangkala gembira, kadangkala bermuram durja. Bukanlah sebuah jawaban yang kuharapkan. Pasalnya, kami menyukai wanita yang sama.

“Gue juga suka sih sama dia”, responku singkat

Kami berduapun membisu, menjadi ironi di tengah-tengah keramaian di siang hari.

Kamila Faiza, itu nama lengkapnya. Gadis manis dari Jawa yang memiliki lesung pipit yang mempesona. Bukan parasnya yang membuatku menyukainya. KetaatanNya pada Yang Maha Kuasa lah yang membuatku jatuh cinta. Aku, Izza, dan sahabatku, Edo, seorang anak pengusaha kaya dari Surabaya berada di kelas yang sama untuk mata kuliah Analisis Biaya. Selepasnya aku jarang bertemu dengannya kecuali di pagi hari kala berpapasan di mushola lepas Dhuha.

You go first, Do “, tukasku memberi jalan bagi sahabatku.

 

**

 “ Misi gagal “, ujarnya tak bersemangat. Setelah beberapa bulan berjuang, hanya penolakan yang dia dapatkan.

“ Lo ikhlas yaa, gue sekarang yang maju “, tukasku percaya diri. Paling tidak aku sudah mencuri-curi cara, mencari-cari informasi tentang apa yang Izza suka kala Edo menceritakan metode-metode brilian bagaimana menaklukkan seorang wanita. Tapi Izza bukanlah wanita biasa, wanita yang biasanya mudah Edo taklukan dengan satu dua lirikan, dan se-frasa dua frasa puisi-puisi cinta.

“ Aku harus jadi yang berbeda” , kataku dalam hati.

 

**

“ Don “, dia mengawali ucapannya dengan tersenyum memperlihatnya lesung pipitnya yang manis.

“ Maaf aku ndak mau pacaran “, sebuah kata-kata yang meluncur yang seketika membuat hatiku hancur. Aku tak mampu berkata-kata ataupun memberi respon sepantasnya. Aku hanya diam. Semua yang aku perjuangkan berbulan-bulan belakangan hilang, semua penantian remuk redam dilindas sebuah jawaban. Hanya senyum pahit yang bisa kupersembahkan, sebelum Izza memalingkan muka, menjauhkan diri dari pandangan. Aku tak bergerak, hatiku terasa sesak.

 

**

“ Don, jangan lupa ya berkas yang aku titipin minggu diserahin ke Kamila, kebetulan dia baru balik cuti lebaran hari ini” , perintah Bu Yeti, manajerku.

“Itu tuh, yang kubikelnya deket ruang rapat divisi. Eh, dia juga belum nikah lho, anaknya manis, rajin pula. Siapa tahu cocok, Don. “ , tambah Bu Yeti menggodaku.

“ Ah ibu, bisa aja… Nanti kalo pacar saya marah gimana? Hahaha “ , ujarku sambil terkekeh.

Aku baru satu minggu masuk di kantor itu, Belum banyak muka yang buatku familiar, tak banyak nama yang aku kenal, termasuk Kamila ini. Walaupun namanya tak asing bagiku, seolah membawaku ke masa lalu. Dia masih cuti kala aku datang memperkenalkan diri.

“ Maaf, mbak ini berkasnya dari Bu Yeti “, ujarku lirih tak mau mengganggunya yang sedang berkonsentrasi.

“ Oh iya mas, maaf-maaf saya tadi sedang buat laporan.”, jawabnya sopan sembari membalikkan badan.

Aku terhenyak, hatiku merasa tidak enak. Waktu seolah-olah kembali ke lima tahun yang lalu. Sebuah wajah manis yang sempat membuatku merasakan pahit tiba-tiba muncul di hadapan.

Assalamu’alaikum Ramdoni Fuadi, bener kan?“, tebaknya.

“Kaya orang telpon aja kamu Za, pakai assalamu’alaikum. Wa’alaikumsalam ”, jawabku yang membuatnya terkekeh.

“Gitu dong biar lapang jalanmu ke pelaminan. Ramah dikit kek sama cowok yang baru kenal. Jangan tiap dikenalin dingin mulu. Masa, cuma sama satpam, OB aja kamu ramah ke cowoknya “ , cerocos mbak Ika yang duduk di kubikel sebelah.

“ Aduh, mbak Ika ini ada-ada saja deh. Kita kan dulu kampusnya sama mbak. “

“ Kok, La? “ , tanyaku heran.

“ Iya, Don. Mereka panggil aku Lala, bukan Izza. Kata Bunda, nama Kamila itu lebih manis aku sandang “ , Izza menjelaskan.

“ Emang manis kan, Don? “, sahut mbak Ika menggodaku.

Aku hanya menyimpul senyum, kemudian tertegun. Izza memang terlihat lebih manis apalagi dengan sosoknya yang semakin agamis.

“ Oke deh, aku balik yah ke mejaku, anyway nice to see you again, Za “ ,aku menyudahi pembicaraan itu.

“ Ciyeeee, Izza. Panggilan sayang yaaa? “, kata mbak Ika yang memang selalu saja menggoda, apalagi hanya aku dan Izza di ruangan itu yang belum mengucap janji suci sehidup semati.

“ Rahasia. Mbak ..hehehe “, balasku sambil terkekeh. Tampak pipi Izza semakin memerah menunjukan rona pesonanya. Ah aku jadi salah tingkah. Tak apa, aku hanya merasa tak nyaman karena tak leluasa bertindak sesuai kuasa. Terlalu pasif, aku salah. Terlalu aktif, aku merasa bersalah. Seharusnya aku bisa berlaku seperti biasanya. Itu tak masalah kala tiada hati yang harus kujaga. Namun bagaimanapun, Izza adalah wanita yang pernah mengisi hati walaupun akhirnya dia pergi dengan segenap mimpi. Dan dia kembali kala aku telah menitipkan hati pada seorang wanita bernama Mita.

Selepas Izza, susah buatku untuk membuka hati. Penolakannya masih terasa pedih sekali. Hingga Mita datang untuk mengobati, dan membuat hatiku semakin berseri. Mita memang tidak seagamis Izza, namun dia sosok pekerja keras. Sifat ini aku kenal baik kala kami sekelas di tahun pamungkas universitas. Sifat yang benar-benar membuat terkesima lelaki yang kurang menyukai wanita manja dan terlalu banyak drama.

 

**

Sayang, jangan lupa makan. Udah siang

Sapa Mita melalui dunia maya.

Don, kalau mau sholat di lantai lima ada mushola, udah zuhur lho

Pesan pengingat tandingan yang dikirim dari komputer  Izza.

Aku biasa saja. Andai pesan itu kudapat lima tahun lalu mungkin aku sudah berbunga-bunga memancarkan rona bahagia.

“ Ciyeee, ada yang lagi cari imam tuh”, sela mbak Ika yang kebetulan lewat dibelakangku dan mengacaukan segalanya.

“ Imam lagi makan siang mbak, sama sekretaris bos “, jawabku sekenanya.

Jangan lupa  sholat, yang. Katanya mau jadi istri yang baik. Kamu jangan lupa istirahat juga, jangan keasyikan kerja nanti tiba-tiba tua lho.

Balasku pada Mita sembari mengucap terima kasih pada Izza.

Jahaaaaattt T T

Jawab Mita seketika yang hanya kubaca sekilas saja sebelum aku bergegas menuju lantai lima.

 

**

“ Lho, Don. Kamu nggak makan siang? “, tanya Izza keheranan kala melihatku kembali ke  ruangan selepas dari mushola.

“ Kenyang, kenyang akan iman. Loh, kamu juga nggak makan Za? “, tanyaku balik

“ Halaaahhh..ada-ada aja kamu, Don, hahaha. Nih roti buat kamu. Jangan banyakan kerja ntar sakit “, katanya sambil menyodorkan dua bungkus roti coklat.

Untung mbak Ika lagi makan siang, kalau tidak mungkin momen momen seperti ini akan menjadi momen momen penuh hina dina seperti biasanya.

“ Kamu nggak makan? “

Izza menggeleng

“ Puasa. Tadi mbak Ika kasih aku sih, kebetulan suaminya mampir terus bawain roti. Dimakan gih “, kata Izza sambil tersenyum.

Senyum termanis yang Izza sunggingkan. Ah, aku tak mau berasumsi macam-macam. Aku hanya tak mau dianggap sebagai lelaki yang tak berperasaan.

“ Terima kasih, Za. Tapi aku ambil satu saja. Sisanya untuk kamu saja. Buat buka “, kubalas senyumannya dengan sebuah kebaikan.

Ya, kebaikan sebagai seorang teman. Cuma teman, tidak lebih.

 

**

Hari berganti hari, minggu berganti minggu dan aku mulai nyaman berada di kantor baru. Walaupun sedikit jauh dari rumahku, paling tidak searah dengan rumah dan kantor Mita, jadi aku bisa mengantar dan menjemputnya setiap hari. Lumayan, itung-itung sebagai latihan untuk menjadi seorang suami.

Dengan rekan sekantor pun aku mulai menjalin banyak pertemanan, dari teman seruangan, hingga OB dan satpam. Sikap mereka yang ramah membuatku semakin betah. Aku juga mulai menjalin persahabatan dengan beberapa kolega baik dengan Bu Yeti, mbak Ika, begitu pula dengan Izza. Kami sering makan malam bersama, nonton bioskop bersama-sama hingga aku tahu siapa yang Izza sebut dengan Bunda. Bu Yeti, manajer kami, memang seorang pengayom bagi anak buahnya. Beliau sudah kami anggap sebagai ibu angkat kami. Maklum, rata-rata dari kami adalah perantau yang terkadang merindukan kasih sayang orang tua. Walaupun kami berempat sangat dekat, namun hanya Bu Yeti yang tahu aku sudah memiliki pasangan.

Mbak Ika? Dia seperti kakak untuk kami dan Mbak Ika lah yang paling getol untuk menjodohkan kami berdua, apalagi setelah mengetahui bahwa aku dan Izza berasal dari kampus yang sama. Dan menurut mbak Ika, kami memang cocok, sama-sama tidak suka foya-foya. Memang berkantor di ibukota memudahkan akses bagi teman-teman kantor untuk berpesta pora, apalagi tekanan pekerjaan kadang datang semerta-merta tanpa perasaan. Dan setiap kali ada pesta, kami lah yang sering hilang karena pulang duluan.

Mbak Ika termasuk dari mereka yang telat berumah tangga. Di usianya yang ke-32, dia baru menemukan tambatan hatinya. Hal itu yang dia tidak inginkan terjadi pada Izza. Pertanyaan, hingga nyinyiran ala ibu-ibu arisan karena belum menemukan pasangan jelang usia tiga puluhan yang kadang membuat panas kupingnya, dia terima dengan lapang dada. Karena itulah, Mbak ika yang paling ngebet menjodohkanku dengan Izza. Kecocokan, itulah faktor yang menjadikan kami layak untuk dijodohkan.

Ah mbak andai engkau datang lima tahun sebelumnya.

Izza, yaah sekarang dia semakin manis, semakin dewasa. Entah memang seperti itu apa memang perasaanku saja. Aku tak mau mendeskripsikan secara lebih jauh. Selalu saja muncul bayangan Mita kala aku memikirkan Izza. Semoga aku tak lupa kalau hati ini telah dimiliki Mita.

Dan mereka berdua belum tahu aku sudah memiliki pasangan. Aku juga masih merahasiakan. Entah apa yang aku pikirkan, tapi yang pasti aku akan memberitahu mereka suatu saat nanti.

 

**

“ Don, kamu datang ke nikahan Indri? Itu tuh anak divisi penjualan. Mbak gak bisa ikut, orang tua mbak sakit jadi tanggal segitu mbak pulang. Izza tuh gak ada barengan. Nisa, sama Fitri yang satu kosan sama dia juga lagi pulang kampung, maklum long weekend. “, ujar Mbak Ika memulai percakapan pagi.

Aku berpikir, aku sudah memutuskan untuk datang bersama Mita sekaligus memperkenalkan dia pada Mbak Ika dan Izza.

Aku memang sudah berkomitmen untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya bersama Mita, dan sudah kuutarakan niat ini pada orang tuanya. Mita memang belum mengetahuinya. Dan di sisi lain, Izza semakin menunjukkan perhatian. Aku jadi tahu dia memiliki harapan. Aku tidak mau memberikan celah untuknya karena hanya akan menyakitkan hatinya.

Tapi apakah Izza memang menyimpan rasa?

Atau hanya perasaanku saja?

Jangan-jangan aku hanya berandai-andai saja hanya karena peristiwa masa lalu yang belum bisa aku terima.

Ah aku bukan laki-laki yang bisa berlapang dada.

“ Don….Don…Halooo…Assalamu’alaikum “

Mbak Ika membuyarkan lamunanku.

“ Aku datang kok mbak… Baiklah, nanti aku ajak Izza “, balasku

“ Asyiiiiikkkk….ditunggu kabar baiknya yaaa… “, ujar mbak Ika penuh makna.

Aku bergegas menuju kubikel Izza.

“ Za, besok bareng yuk ke nikahan Indri.. kamu belum ada barengan kan? “

“ Boleh.. “, jawab Izza sembari menyunggingkan senyum manisnya.

“ Oke deeh.. besok aku jemput di kantor yaaa.. “

Aku segera mengambil telepon selular untuk memberi kabar.

 Yang, besok jadi kaan? Temenku mau bareng, boleh yaa?

Kukirim pesan pada Mita

Siappppp Sayangkuu…

Balas Mita seketika.

Ya, menurutku ini saat yang tepat untuk mengenalkan Mita. Aku tak mau terus-terusan membuat mbak Ika bekerja keras menjodohkanku dengan Izza walaupun esok Ia tak datang tapi paling tidak dari Izza lah dia akan mendengar cerita.

Dan aku berharap anggapanku akan Izza yang menyimpan rasa padaku hanya GR semata. Jadi tak masalah ketika esok kami harus semobil bertiga.

Andaipun rasa itu memang ada, aku hanya ingin berhenti memberi harap pada Izza. Agar Izza dapat segera memberi rasa pada laki-laki yang lebih baik dariku di luar sana.

Semua akan terjawab pada pernikahan Indri.

 

**

Aku berdiri di tepi pelaminan menunggu giliran memberikan selamat pada sang pasangan. Sembari mengantri kualihkan pandangan. Kuamati keadaan sekitar perlahan-lahan Pesta pernikahan ini memang jauh dari kesan wah, namun dekorasinya sangat indah.

Ahh andai ini pesta pernikahanku.

“ Loh.. Don…sendirian aja nih? “, sebuah sapaan akrab sejenak mendekap.

“ Eh, Indri…iyaa ndri..  “ , ujarku pada Indri

Aku cuma tersenyum pahit.

“ Dooonnn…duhhh makasih banget yaaa udah jauh – jauh datang ke sini. “

Suara itu, suara yang melambungkan perasaan ke awang-awang sebelum menghujam jatuh begitu menyakitkan.

“ Zaaa…. Selamat yaaa… Alhamdulillah… akhirnya kamu menemukan tambatan hatimu juga.. semoga sakinah mawaddah wa rahmah yaaa… memiliki keturunan yang sholeh shalihah.. “

Sebuah jawaban formal yang begitu saja terlontar dalam jiwa yang pura-pura turut berbahagia.

“ Amiiinnnn Don…Kok sendirian? Mita mana?? Semoga lekas nyusul abis ini…. “

Harusnya aku yang mendampingimu, Za…… bukan menyusulmu.

Eehhh…. Indrii….udahh berapa bulaan? Aduhh selamat yaaa…semoga lancar sampai lahiran..makasih lhooo sudah dibela-belain datang..Mas Probo dijaga baik-baik lho mas istrinya… “, ujar Izza melanjutkan sapanya pada Indri dan suami yang berdiri di belakangku. Rona bahagia terpancar jelas di wajah ayunya.

“ 6 bulaan…amiinnnn…..iyaaaa ni lhooo… Doni kok jalan sendirian…pacarmu yang cakep itu manaaa…masak cuma sekali aja nih dikenalin…. Jangan-jangan dipingit yaaa? .. “

Perasaanku, Ndri yang terpingit..hingga aku lupa rasanya bahagia..

 

**

“ Mbak minta maaf ya, Don udah maksa kamu ikut ke Boyolali.. Mbak juga minta maaf kalau dulu semangat banget jodohin kamu sama dia, menurut Mbak sih kalian cocok. Apalagi sempet satu kampus pula. Mbak nggak tahu kalo kamu udah ada Mita. Makanya waktu ke nikahan Indri, mbak ngebet banget tuh biar kamu ngajakin Izza waktu Mbak nggak bisa dateng“, cerocos Mbak Ika membuyarkan lamunanku yang sedari tadi mengamati jalan.

Sek akeh brooo wanita di luar sana… Laki-laki menang milih, Don. Santai wae… “, ujar Mas Andri yang berada dibalik kemudi menimpali.

Aku hanya tersenyum

“ Izza emang sempet suka Mbak sama aku? Mbak nggak cerita aku putus sama Mita? Mungkin aku salah mengambil keputusan ya, Mbak? “

Kuajukan pertanyaan bertubi-tubi hanya untuk memastikan semuanya berjalan seperti anggapanku sebelumnya. Izza yang pernah menolakku di masa kuliah dulu memang tak pernah menaruh rasa. Semua murni inisiatif Mbak Ika untuk menjodohkanku dengannya.

Witing tresno jalaran soko kulino

“ Don…… “, kata Mbak Ika mencoba menenangkanku.

“  Gapapa, Mbak.. toh Izza sudah jadi milik orang, nggak akan ada pengaruhnya kok. “

Paling luka di dada yang makin menganga.

Aku memang telah mengakhiri hubungan dengan Mita. Keinginan menggebu Mita untuk melanjutkan studinya ke Eropa sebelum menikah dan keinginanku untuk segera mengakhiri masa lajang membuat jurang yang akhirnya justru membuat kami mengakhiri hubungan. Ego kami sebagai anak sulung dalam masing-masing keluarga yang tidak terkendali membuat pernikahan bagi kami jauh panggang dari api.

Ah, Mita. Andai kau tahu membangun bahtera rumah tangga itu menyempurnakan separuh agama.

“ Izza pernah cerita, kalau dia sebetulnya menaruh hati padamu Don. Kamu yang ramah tanpa pernah memandang rendah. Kamu yang bertanggung jawab. Itulah sosokmu yang membuatnya jatuh hati, Don. Kamu tahu jauh sebelum kamu gabung, waktu itu Mbak pernah tanya kok orang secantik dia belum ada yang melamar. Dia cerita, dulu saat kuliah sebenernya dia pernah menaruh hati sama seorang pria. Pria itu udah pernah ngutarain perasaannya, cuma dia tolak. Dia cuma nggak mau pacaran. Dan kamu tahu, Don.. dia sebenernya menyesal udah nolak. Tapi bagaimanapun dalam Islam tidak mengijinkan pacaran. Dia mempertahankan prinsip tersebut walaupun kadang yaa..harus berperang dengan keinginannya. Lantas dia berdoa, agar diberikan kesempatan sekali lagi ketemu orang itu. Paling tidak orang itu bisa membaca tanda, kalau dia masih memiliki rasa. Dan kamu pindah ke kantor kita.. Luar biasa ya, Don kekuatan doa itu. “

Kurasakan hatiku mulai tersayat-sayat rasa penyesalan.

“ Dia cuma berharap kamu baca tanda itu. Dan segera meminangnya, toh usia kalian sudah matang. Begitu Mbak tahu kalian satu kampus, Mbak langsung ingat yang dia ceritakan. Itulah kenapa Mbak ngebet buat ngejodohin kamu. Tapi sayang, kalau memang gak jodoh mau gimana. Izza memang terpukul kala tahu kamu sudah memiliki Mita. Mungkin pelajaran buat dia karena doa yang aneh-aneh. Itu yang dia bilang. Harusnya dia doa agar diberi jodoh yang terbaik. Dan selepas pernikahan Indri, Mbak lihat dia memang lebih kenceng doanya. Dan Alhamdulillah dia dapat menemukan sang pemilik tulang rusuk tanpa harus menunggu lama. Waktu kamu cerita kamu putus sama Mita, sebenernya Mbak ada keinginan untuk kembali mendekatkan kalian. Tapi langsung Mbak urungkan. Biarlah mengalir apa adanya, kalaupun jodoh tidak akan kemana”

Aku terdiam. Penjelasan Mbak Ika yang terperinci mendatangkan serangan bertub-tubi.

Andai aku tidak pacaran, mungkin ceritanya berbeda. Aku yang bersanding tertawa bahagia bersamanya dan berjuang bersama-sama membangun bahtera rumah tangga.

Aku terlalu naïf, selalu mempertanyakan bagaimana cara mengenal pasangan kalau tanpa pacaran.

Ahhh, aku menyangsikan kekuatan Ar Rahman, Sang Pencipta Yang Maha Kaya. Aku lupa bahwa segala sesuatu telah diatur dengan seksama olehNya.

Tamparan yang Allah berikan begitu menyakitkan.

“ Belum terlambat kok Don.. “ , lanjut Mbak Ika.

“ Belum terlambat gimana , Mbak? “

“ Belum terlambat untuk bertobat. Mbak tahu kamu menyesal. Ingatkan apa yang Izza lakukan saat dia dalam posisi seperti ini? “

“ Mbak, makasih banyak yaaa.. “

Hanya kata-kata itu yang mampu kuucapkan. Rasa sesak masih memenuhi ruang udara dalam dada.

Mbak Ika hanya tersenyum penuh makna memberi warna bersama mobil yang membelah jalan raya Solo-Semarang, meninggalkan Izza dalam bayang-bayang.

Kunikmati lagu yang mulai mengalun memenuhi kabin dengan melodi sembari merenungi semua pelajaran yang telah aku alami.

It’s not time to make a change

Just relax,take it easy

You’re still young, that’s your fault

There’s so much you have to know

Find a girl, settle down

If you want you can marry

Look at me, I’m  old but I’m happy

– Father and Son by Yusuf Islam (Cat Stevens) –

Comments

BAGIKAN
Berita sebelumyaIring-iringan Khataman di Desa Blengor, Kebumen
Berita berikutnyaPurworejo Dikejutkan, Dengan Hilangnya “Klaras” Di Salah Satu Desannya.
http://reviensmedia.com/wp-content/uploads/2015/12/Logo-R-Reviens-Media-277x300.png
REVIENSMEDIA.COM hadir untuk menampung pemuda-pemuda kreatif, inspiratif se Indonesia. Keterbukaan, keragaman dan explorasi talenta adalah tujuan reviensmedia.com. Slogan kami adalah: Explorasi untuk Kebersamaan dan Harmoni. Selain web, media yang kita gunakan adalah media sosial lainya. Di media ini kami Bersama-bersama mengembangkan passion, dan karya yang kami hasilkan berupa tulisan dan audio visual. Kami tergabung dalam persahabatan dan karya di ajang Sahabat Reviens yang tersebar seantero nusantara seperti Jakarta, Kebumen, Pontianak, Bitung, Purworejo, Pekanbaru, Sumbawa, Bekasi, Depok dll.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here