We Have Enough Money to Buy, Why Do We Have to Pick Up a Free???

0
88

Free.. Free.. Free.., pasti promo seperti itu yang ditunggu-tunggu banyak orang. Mereka akan berlomba-lomba ngantri buat dapat promo free tersebut.

Entah dalam bentuk sembako, makanan, pakaian, dan yang lainnya.

Hmmmmm…. Pantaskah semua orang berbangga diri ketika mendapatkan bantuan dari orang lain maupun dari pemerintah?

Tau nggak sih gaes cerita tentang toko roti di Australia dengan metode penjualannya??

Begini kronologisnya gaes:
Waktu itu ada seorang pemuda Indonesia yang hendak membeli roti kismis di toko tersebut. Dan ketika pemuda tersebut membayarnya dengan uang 10 dollar, penjaga toko roti tersebut malah menolaknya sambil tersenyum manis ia berkata “It’s free nothing to pay” (ini gratis, tidak usah bayar).

Penjaga toko roti tersebut kemudian menjelaskan kepada si pemuda bahwa ketika toko sudah waktunya tutup, maka roti tidak dijual lagi. Akan tetapi bisa diberikan kepada siapapun atau diantar ke second hand shop untuk orang yang membutuhkan.

Belum surut pemuda tersebut tercengang, datang pula sepasang suami istri yang singgah ke toko roti tersebut.
Si istri ternyata tertarik mendapat roti gratis tersebut. Namun, sang suami melarangnya sambil berkata “No darling, please. We have enough monay to buy, why do we have to pick up a free one? let’s another people Who need it more than us take it” (Jangan sayang, kita memiliki cukup uang untuk membeli, mengapa kita harus mengambil yang gratis? Biarkan orang yang lebih membutuhkan yang mengambil).

Duh, si pemuda tersebut kemudian merasa tersindir karena dia sebenarnya adalah seorang pengusaha yang tentunya beruntung secara financial. Namun setelah memikirkan baik-baik ucapan pria tadi, ia pun sadar bahwa yang pria tadi ucapkan sangat benar, justru menjadi pukulan keras baginya. Ia pun membayangkan seandainya di Indonesia ada toko seperti itu, pastinya akan banyak orang yang ngantri dapat gratisan.

Kemudian ironisnya orang-orang yang sebenarnya membutuhkan justru nggak dapat bagian karena kalah antrian. Itu juga kenapa kalau di club ada kopi gratis, jarang sekali orang yang mengambilnya. Bukan Karena mereka gengsi, tp mereka tau mana orang yang lebih berhak mendapat gratisan, dan karena mereka pula tidak memiliki mental gratisan. Rasa-rasanya mental warga negara Indonesia juga perlu dirombak, supaya mereka mau mengubur dalam-dalam mental “pengemisnya”.

Apalagi akhir-akhir ini di Indonesia banyak sekali jenis bantuan untuk warganya, terutama warga miskin. 88Toh nyatanya orang yang jelas-jelas tidak tergolong miskin malah ikut ngantri, ikut protes, pura-pura miskin. Ada juga yang merekayasa data supaya teman atau kerabatnya mendapat bantuan, atau berpura-pura menjadi pendamping program dengan niat busuk untuk memperkaya diri sendiri.

Segala bentuk rekayasa beberapa oknum maupun individu dari yang paling bawah sampai kelas kakap untuk memperdayai negara tentu sudah menjadi rahasia umum. Karena apa??? Karena itu MENTAL MEREKA (tidak perlu dijabarkan lagi mental macam apa itu). Mereka tidak tahu atau pura-pura tidak tahu bahwa kemiskinan warga bukanlah ladang politisir mereka, tapi justru ladang amal bagi mereka yang cerdas. Cerdas secara moral dan agama, bukan cerdas menyusun niat-niat busuk.

Berantas mental peminta-minta bantuan, mental pemburu dana pemerintahan, mental gratisan, dan mental pengemis lainnya. Ingat peribahasa “tangan di atas lebih baik daripada tangan dibawah”. Tidak usah selalu mendramatisir hidup masing-masing, semua tergantung kerja keras masing-masing orang. Doanya ingin jadi orang kaya, tapi ada bantuan langsung absen jadi orang paling miskin, paling menderita. Ingat ya, ucapanmu adalah doamu.

Yup gaes, jangan selalu mendustakan nikmat Tuhan. Bangun bangsa ini dengan mental gigih, kerja keras dan harga diri yang tinggi. Sehingga bangsa kita bisa bersaing dengan negara-negara maju lainnya.

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here