5 Akibat Dari Penyebaran Berita Hoax dan Etika Bermedia Sosial

0
123

Bersikap Skeptis Adalah Salah Satu Sikap Menghindari Berita HOAX. Kita pasti punya banyak banget grup Whatsapp, itu Fakta. Bisa saya tebak, salah satunya ada grup rekan kerja, begitupun rekan kerja ada yang lebih spesifik lagi misalkan grup rekan kerja yang doyan main futsal, main basket, main hobi nonton bola atau mungkin main dedek dedekan. Haaash…Skip!! Dan yang pasti setiap grup tersebut, personilnya terkadang ada yang doyan kirim-kirim broadcast berita yang “emboh”, atau yang penting share aja. Eh ternyata tak sedikit yang menanggapi yang ujung-ujungnya merusak tali silaturahmi.

 
Berbahaya banget jika kita menanggapi suatu informasi yang belum tentu kebenaran, sangat berbahaya. Perlunya kita menyadari hal-hal tersebut, menanggapi informasi yang sumber nya tidak jelas itu sangat perlu ya gaes. Nah, kebetulan sekali AJI (Aliansi Jurnalis Independen) bekerja sama dengan Google News Initiative dan Internews mengadakan workshop pada tanggal 14-15 April 2018, yang salah satu temanya adalah bagaimana menangkal berita-berita hoax dan bagaimana menyikapinya.
Sadar akan kebenaran informasi adalah salah satu jalan untuk kita dapat menangkal informasi-informasi Hoax.

 

Kalian pasti tahu di jaman now atau Era sekarang masyarakat dilanda banjir informasi sehingga mengakibatkan masyarakat kebingungan mana berita yang benar dan mana berita yang tidak benar atau Hoax, ini dikarenakan pengguna internet dan social media semakin banyak dan informasi semakin cepat mengalir.

Berikut adalah akibat dari penyebaran berita hoax :

1. Memicu perpecahan, jelas banget yang pada umumnya masyarakat Indonesia tidak pernah yang namanya kroscek pada berita-berita atau informasi yang mereka terima. Menelan mentah-mentah informasi yang diterima menjadi sebuah kebenaran dapat memicu perpecahan. Terutama jika menyinggu isu SARA;

2. Menurunkan reputasi salah satu pihak yang dibuat hoax, jika salah seorang tokoh atau figure masyarakat atau salah satu pejabat Negara diberitakan Hoax. Maka secara otomatis kredibilitas tokoh tersebut akan jatuh. Apalagi model masyarakat Negara sangat suka menelan mentah-mentah berita Hoax.

3. Menguntungkan pihak tertentu, ini yang bisa dikatakan bisnis hoax. Bahwa ada sekelompok orang yang memang sengaja membuat berita Hoax hanya untuk keperluan bisnis semata, mereka mencari keuntungan dalam hal itu.

4. Hoax membuat fakta tidak bisa dipercaya, aneh memang malah mungkin bisa dibilang kalau masyarakat kita itu unik, jika ada peristiwa tertentu misalkan kecelakaan mendadak setiap orang bisa menjadi seorang wartawan yang serta merta langsung mengirim broadcast ke medsos yang mereka punya. Semakin cepatnya informasi yang didapat maka secara otomatis kita juga tidak bisa mengetahui fakta yang ada dilapangan. Kembali lagi ke masyarakat kita yang suka menelan mentah-mentah berita yang mereka terima, sangat berbahaya

5. Menyerang pemerintah lewat berita hoax, hal ini sangat gencar sekarang diterima oleh pemerintahan sekarang, namun sebenarnya tidak hanya pemerintahan saja tapi seseorang dan sekelompok orang atau komunitas bisa juga diserang oleh berita-berita Hoax ini.

Nah, berikut ini adalah Etika bermedia social yang perlu netizen lakukan :

1. Menghindari share berita terkait isu-isu kontroversial, jika tiba-tiba ada yang mengirim berita tentang seseorang baik itu Hoax atau fakta jangan serta merta langsung dishare, kita perlu skeptis dalam menanggapi isu tersebut;

2. Melakukan verifikasi, skeptis terhadap isu atau informasi yang kita terima, pertanyakan asal sumber dan apa bukti yang bisa menguatkan informasi tersebut.

Sebenarnya banyak banget materi yang disampaikan oleh nara sumber workshop ini, namun saya rasa beberapa materi diatas cukup untuk setidaknya kita bisa menghadapi informasi yang Hoax. Salah satu sikap yang perlu kita lakukan adalah skeptis atau meragukan informasi yang kita terima. Benar dan tidaknya informasi yang kita terima sikap kita jangan langsung share, lakukan verikasi kepada orang yang mengirim berita tersebut, pertanyakan darimana sumbernya dan apa bukti yang menguatkan berita tersebut.

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here