Seberapa Idealkah Guru di Indonesia

    0
    136
    Illustrasi s:/bexleyfarmersmarket.com/

    Pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting dalam membangun suatu bangsa dan negara. Peranan pendidikan hampir menunjukkan fungsi dan posisinya pada setiap sendi kehidupan masyarakat.

    Oleh sebab itu, istilah yang menyatakan bahwa pendidikan adalah ibarat mata uang yang berlaku kapan saja dan dimana saja merupakan istilah yang tepat untuk menunjukkan bagaimana peran dan fungsinya.

    Pendidikan yang berkualitas adalah pendidikan yang dapat mencapai tujuan dari pendidikan itu sendiri. Kenyataan yang ditemukan, pendidikan tidak terlepas dari berbagai permasalahan. Menurut Dr. Husein Syahatah (2004), ada beberapa masalah yang muncul dalam bidang pendidikan, diantaranya adalah sistem pendidikan yang terwarnai oleh sistem pendidik barat, tidak ada perhatian terhadap tenaga pendidik, banyaknya pengaruh negatif terhadap anak didik, terpinggirnya guru-guru yang berprestasi baik dari kegiatan belajar mengajar, tidak diberikannya tugas penting terhadap siswa berprestasi baik, serta kesibukan para tenaga pendidik dalam menutupi kebutuhan hidupnya.

    Salah satu permasalahan pendidikan yang dihadapi bangsa Indonesia adalah rendahnya mutu pendidikan pada setiap jenjang, khususnya pendidikan dasar dan menengah.

    Sebagian besar sekolah, terutama di kota menunjukkan peningkatan mutu pendidikan yang cukup baik, namun sebagian lagi masih memprihatinkan. Hal tersebut bisa dilihat dari ketidakmerataannya nilai Ujian Nasional, dimana secara umum sekolah di perkotaan cukup mendominasi jika dibandingkan dengan sekolah di pinggiran (Fathurrohman, 2012).

    Fenomena ini menimbulkan sebuah pertanyaan tentang apa yang salah dari pendidikan di Indonesia. Jika hal ini terus dibiarkan tentunya akan terus menurunkan prestasi belajar siswa, apalagi bagi siswa yang bersekolah ditengah keterbatasan sarana dan prasarana.

    Dalam sebuah proses pendidikan yang berupaya untuk memanusiakan manusia, maka sosok guru menempati posisi paling strategis sekaligus ujung tombak utama dan pertama.

    Dalam konsep islam, seorang guru profesional adalah guru yang memiliki keahlian serta kemampuan, bukan hanya ahli tapi juga bisa melaksanakannya dengan baik dan sempurna. Sesuai dengan hadits Rasulullah SAW yang artinya “Apabila suatu pekerjaan tidak diberikan kepada ahlinya, maka lihatlah kehancuran”. Dalam hadits lain yang dikutip Atiyah al-Abrasyi, Rasulullah SAW bersabda yang artinya “ Berdirilah dan hormati serta berilah penghargaan guru (mualim); guru (mualim) itu hampir-hampir menyerupai Rasul”.

    Baca Juga  Gerakan Ayo Piknik

    Dari hadits tersebut bisa dilihat begitu tingginya profesi guru dalam pandangan islam. Hal tersebut karena guru memiliki tugas mengajar dan mendidik sekaligus, dengan harapan peserta didik yang diajarkan bisa menjadi muslim yang sesungguhnya.

    Namun harapan yang diinginkan dari sosok seorang guru yang memiliki keterampilan dalam mengajar serta mendidik ternyata jauh dari realitas yang ada. Kualitas guru di Indonesia dilihat dari berbagai sisi masih memprihatinkan.

    Hal tersebut terlihat pada beberapa data yang didapatkan, diantaranya nilai rata-rata nasional tes calon guru PNS di SD, SLTP, SLTA dan SMK tahun 1998/1999 untuk bidang studi matematika hanya 27,67% dari interval 0-100.

    Angka tersebut menunjukkan guru hanya menguasai 27,67% dari materi yang seharusnya. Hal yang sama juga terjadi pada mata pelajaran lain, seperti fisika (27,35%), biologi (44,96%), kimia (43,55%) dan bahasa inggris(37,57%). Nilai-nilai tersebut sangat jauh dari nilai batas minimum yang diharapkan yaitu 75% (Fathurrohman, 2012)

    Hasil lain yang cukup memprihatinkan adalah penelitian dari Konsorsium Ilmu Pendidikan tahun 2000 dalam Fathurohman (2012) memperlihatkan bahwa 40% guru SMP dan 30% guru SMA mengajar bidang studi diluar bidang keahliannya.

    Permasalahannya adalah bagaimana guru dapat menghadapai tantangan di tengah perkembangan pesat arus modernisasi dengan baik, jika profesionalismenya masih dipertanyakan.

    Lain pula hal nya dengan hasil ujian kompetensi guru tahun 2015 yang menunjukkan hasil menegcewakan. Nilai tersebut tidak sesuai dengan apa yang harapkan oleh pemerintah. Seperti yang diungkapkan oleh menteri pendidikan Anis Baswedan yang mengatakan bahwa “Rata-rata UKG nasional 53,02, sedangkan pemerintah menargetkan rata-rata nilai di angka 55.

    Selain itu, rerata nilai profesional 54,77, sedangkan nilai rata-rata kompetensi pendagogik 48,94”. Data-data yang di dapatkan diatas menunjukkan bahwa guru di negeri ini masih butuh banyak perhatian.

    Baca Juga  Ngobar #2: Bukan Ma(gi)ster Biasa

    Dalam sebuah penelitian survei yang dilakukan oleh Partin (2009) tentang penyebab guru gagal, ada beberapa alasan yang dikemukakan oleh responen terhadap penyebab guru gagal, diataranya: ketidakstabilan mengorganisir dan mengendalikan kelas siswa, kurangnya pengetahuan mengenai bagaimana anak-anak bertumbuh dan berkembang yang berkaitan dengan interaksi guru-siswa, ketidakmampuan bekerja dengan efektif bersama para pendidik lain, ketidakmampuan bekerjasama dengan orangtua, ketidakmampuan yang cukup dalam menguasai mata pelajaran, serta lain lain (tidak bermoral, ketidakhaddiran, pelecehan anak, pikun, dll).

    Kegagalan seorang guru dalam mengajar, sebagian besar berkaitan erat dengan aktivitas siswa dikelas. Karena semakin banyak siswa diberi kesempatan untuk aktif dan terlibat dalam kegitan belajar maka akan semakin bermakna pembelajaran yang ia terima.

    Namun, guru telah terlanjur mencoreng nama baiknya sendiri di mata masyarakat. Kepercayaan mulai memudar di kalangan masyarakat, sehingga menjadi guru profesional yang ideal dengan berbagai keterampilan menjadi sebuah hal yang di nanti-nanti dewasa ini.

    Sekolah dengan kemampuan ekonomi di bawah rata-rata kebanyakan mengalami masalah yang cukup kompleks dalam memenuhi profil guru ideal tersebut.

    Hal ini disebabkan oleh tuntutan yang diminta dalam melaksanakan tugasnya sebagai guru tidak didukung oleh lingkungan dan fasilitas yang baik. Dengan keterbatasan tersebut cenderung membuat sebagaian besar guru enggan untuk mengembangkan keterampilan mengajar yang ada pada dirinya.

    Sehingga profil guru ideal dilingkungan sekolah dengan kondisi seperti ini akan sulit untuk di temui. Berbeda halnya dengan sekolah dengan tingkat ekonomi orang tua siswa yang diatas rata-rata. Kinerja mereka sangat didukung dengan adanya fasilitas dan administrasi yang jelas dan cukup baik.

    Berdasarkan asumsi penulis, profil guru ideal pada jenjang sekolah dasar atau madrasah ibtidaiyah membutuhkan banyak perhatian. Hal tersebut dikarenakan guru menduduki peran stategis dalam meningkatkan mutu pendidikan.

    Berdasarkan data tenang kelayakan guru tahun 2000/2001 menunjukkan bahwa terdapat 49,49% guru SD yang layak jika mengacu pada kualifikasi mengajar minimal D-2. Sedangkan sebanyak 50,31% dinilai tidak layak (Rizali, 2009).

    Baca Juga  Belajar Bagaimana Mencintai Belajar

    Data tersebut memperlihatkan bahwa masih banyak guru-guru sekolah dasar yang masih belum layak dalam memenuhi kulifikasi sebagai seorang guru. Sehingga profil guru profesional yang diharapkan oleh peserta didik masih jauh dari kemungkinan yang ada.

    Karena tidak bisa dipungkiri bahwa ketertarikan peserta didik terhadap sekolah dan belajar sedikit banyaknya dipengaruhi oleh bagaimana profil guru yang mereka temui di kelas-kelas kecil mereka.

    Peneliti mencermati bahwa sebagian besar guru masih jauh dari kategori guru ideal. Hal ini dapat dibuktikan dari pengamatan yang terlihat, antara lain:

    (a) hubungan antara guru dengan siswa, serta guru dengan guru belum menunjukkan hubungan yang harmonis,

    (b) kebanyakan guru yang mengajar dikelas hanya berceramah dan menggunakan metode mencatat, sedangkan siswa hanya diminta mendengarkan,

    (c) kesadaran dalam membuat rencana pembelajaran masih kurang, sehingga tujuan pembelajaran menjadi kurang jelas,

    (d) masih kurangnya pelayanan dan perhatian guru terhadap masyarakat sekitar lingkungan sekolah.

    Selain itu masih banyak lagi kesenjangan-kesenjangan yang tidak sesuai dengan harapan siswa, khususnya siswa kelas tinggi (IV, V dan VI). Siswa-siswa kelas tinggi memiliki masalah tersendiri dalam hal proses pembelajaran, seperti kurangnya minat belajar dikelas, keluar masuk dan membuat keributan.

    Selain alasan tersebut mereka juga dianggap sudah bisa menilai dan mendeskripsikan bagaimana proses pembelajaran yang menyenangkan bagi mereka, begitu juga untuk profil guru yang mengajar dikelas.

    Sekolah Guru Indonesia (SGI) Dompet Dhuafa, merupakan salah satu lembaga nonformal yang berdiri untuk menciptakan banyak guru-guru ideal yang memiliki kompetensi professional sebagai guru.

    Berdiri sejak tahun 2009, SGI sudah melatih hingga 1500-an lebih guru-guru SD dan MI di seluruh Indonesia. Banyak yang mengaku, para penerima manfaat dalam artian guru-guru yang mengikuti program SGI, amat bersyukur mereka sudah mendapatkan program pelatihan SGI. Semoga guru-guru ideal, dapat terbentuk dengan program pelatihan guru dari SGI.

     

    Penulis: Ulfa Hasibuan

    Comments

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here