Kilas Balik Kisah Gadis yang Belajar Berdamai dengan Kenyataan

0
209
Foto: pixabay.com

Sebut saja namanya Riri, gadis tomboy pada zamannya yang sangat mencita-citakan menjadi pramugari meski pada akhirnya bukan itu yang terealisasi. Why? Banyak sekali faktor yang menjadikan mantan ketua OSIS di Sekolah Menengah Kejuruan itu harus mengubur cita-citanya selama ini. Namun, yang ia ingat ada salah satu faktor yang paling fatal yaitu biaya.

Bisa kebayangkan zaman sekarang apa-apa harus menggunakan rupiah, meski tidak semuanya persoalan dapat diselesaikan dengan uang. Tapi, untuk permasalahannya Riri di zaman itu memang hanya uang yang bisa membantunya.

Hemm, sebenarnya dia tidak hanya lolos menjadi calon pramugari saja loh. Dia juga lolos UMPTN atau Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri di salah satu Unervitas di kota yang dijuluki Pesona Asia pada masa itu. Riri waktu itu mengambil jurusan Perbankan Syari’ah. Lagi-lagi ia kebentur dengan biaya, padahal disaat itu ia mendapatkan beasiswa 60 persen dari total biaya masuknya.

Baca Juga  Merajut Asa Pendidikan dari Hulu Kapuas

Kamu tahu apa yang terjadi ketika pemilik peringkat 3 besar dari Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Kejuruan Atas itu harus gagal menggapai cita-citanya hanya karena rupiah? Marah! Kepada siapa ia ingin marah. Ataukah ia harus menghabiskan sisa air matanya yang memang sudah habis saat ia harus mengundurkan diri dengan dua cita-citanya tersebut. Terus, apa dia sudah mati dengan keterpurukannya?

Oh, Tidak!!

Memang hidup Riri sempat drop, terpuruk dan ia juga pernah kena penyakit Hematuria. Penyakit yang sampai saat ini tidak ia tahu penyebabnya. Yang jelas, rasa sakit itu tidak sesakit hatinya saat harus menjalani perjalanan hidupnya saat itu.

Riri mencoba bangkit dari kegagalannya meraih cita-cita. Merubah pola pikir hidupnya yang tidak selalu menomorsatukan kecerdasan akademik, toh percuma sepinter-pinternya orang jika tak berduit akan kalah dengan yang biasa-biasa saja tetapi berduit.

Baca Juga  Kentut Rinjani: Geopark dan Kita

Kesalnya setiap kali melihat nasib baik kepada orang-orang di sekitarnya yang lebih beruntung darinya, meski nilai akademiknya selalu di bawahnya.

Riri kemudian melanjutkan kuliah meski jurusan yang ia ambil asal-asalan yang penting kuliah. Mau taruh di mana muka mantan siswa terfavorit se-angkatan tidak menjadi siapa-siapa.

Yapsss, itu pikiran noraknya kala itu. Ia mengambil pendidikan, profesi yang sangat ia hindari dari serangkaian cita-citanya. Namun, Tuhan memang tahu yang terbaik. Meskipun awalnya Riri sangat terpaksa menjalani profesi sebagai Pendidik.

Iya, gadis bermata kubil itu sangat anti jika dipanggil Bu Guru. So, ia menyadari untuk saat ini dirinya belum pantas menjadi suri tauladan yang baik.

Berjalannya waktu, Riri mulai menikmati seni kehidupan yang diberikan Tuhan untuknya melalui orang-orang di sekitarnya. Dan, sejak ia mengenal kata “bahagia” yang sesungguhnya, Riri menjadi pribadi yang berbeda. Bahwa kebahagiaan yang sebenarnya ketika melihat orang lain bahagia dengan keberadaan kita.

Baca Juga  1/2 Hari Jadian, 2 Hari Lamaran Minggu ke 3 Ijaban

Dari menjadi pendidiklah ia mulai menyadari bahwa kesuksesan yang hakiki saat keberadaannya bermanfaat untuk orang lain. Meski apa yang ia lakukan tidak terlihat, dilihat apalagi ingin diingat.

Bahkan motto hidup yang dulu berbunyi belajar, belajar dan belajar ia ubah menjadi “Berapa kebaikan yang akan kamu lakukan hari ini?” pertanyaan untuk dirinya sendiri sebagai pengingat setiap saat.

Saat Riri bisa berdamai dengan kenyataan, banyak sekali ilmu kehidupan yang ia dapat. Tuhan menciptakan dirinya bukan tanpa sengaja digagalkan meraih kedua cita-cita besarnya.

Namun, dari kegagalan itu, Tuhan mengajarkan kepadanya bahwa menjadi sekarang inilah yang terbaik. Mengoptimalkan diri untuk mereka yang ingin meraih cita-citanya agar tidak mengalami kegagalan seperti dirinya. Karena ia tahu, tidak semudah membalikkan telapak tanga saat harus berdamai dengan kenyataan.

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here