Mendidik dengan Hati

0
113
Foto: usnews.com/

Bicara kualitas pendidikan maka tak jauh-jauh dari persoalan kualitas guru. Ialah bagian penting dari sistem pendidikan yang perannya tidak boleh disepelekan. Sudah selayaknya profesi guru mendapatkan perhatian lebih, baik itu dari segi pembekalan dan pembinaan maupun dari sisi kompensasi.

Namun, tidak demikian faktanya. Hingga saat ini, peran guru yang selayaknya sudah mulai tergerus secara perlahan. Terlebih polemik kurikulum 2013, membuat guru ikut menjadi sorotan. Bukan hanya itu, karakter bangsapun ikut menjadi taruhan jika para generasi sekarang tidak ditangani oleh para guru yang tepat.

Menjadi guru bukan sebuah hal yang diistimewakan di negeri ini, terlebih jika hanya melihat dari segi materi. Sehingga siapa saja bisa menjadi guru asalkan mau untuk dibayar seadanya. Hal ini tentu akan berdampak pada kualitas siswa, bangsa dan negara.

Baca Juga  BISNIS SEHAT HERBAL TIGA PUTRI

Betapa banyak yang terjebak dalam profesi guru. Rasa terpaksa karena tak ada pilihan lain mejadi jawaban lumrah yang sering kali ditemui. Mengajar tanpa melibatkan hati sudah terbiasa sehari-hari. Pergi ke sekolah hanya memenuhi tanggung jawab, tanpa peduli ingin menjadi seorang yang berarti.

Andai guru tau bahwa siswa tidaklah membutuhkan guru yang menguasai semua materi pembelajaran dengan sempurna. Namun mereka membutuhkan guru yang memahami diri mereka, serta mengetahui bagaimana mengahadirkan pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna disetiap harinya.

Kata kunci utama yang harus dimiliki seorang guru ialah mengajar dengan hati atau sering disebut dengan istilah passion, yaitu jiwa yang kuat dan hati yang mantap untuk menjadi seorang pendidik. Jiwa dan raganya ia hadirkan saat bersama siswa.

Baca Juga  Si Kaya dan Si Miskin Itu Sama-sama Bahagia

Jika passion itu tak ada, maka akan sulit untuk menerima dan menjalankan peran sebagai seorang pendidik. Setiap hari hanya akan ada hardikan, amarah dan hukuman. Guru tipe tersebut tentu tidak sedikit, ia tumbuh bak cendawan dimusim penghujan. Banyak namun tak bisa dielak dan ada dimana-mana.

Tak jarang banyak ditemui siswa yang membenci sebuah pelajaran hanya karena tidak menyukai gurunya. Siswa yang tak suka guru matematika maka akan membenci pelajaran matematika. Nah, bisa dibayangkan ketika siswa SD tidak menyukai guru kelasnya? maka tak ada satu pun pelajaran yang dipahami siswa.

Guru yang mengajar dengan hati tidak bimbang dengan pergantian kurikulum, karena ia tau bagaimana caranya mengembangkan potensi siswa sesuai dengan zamannya.

Guru yang mendidik dengan hati akan menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk memikirkan bagaimana caranya agar siswa memahami apa yang ia sampaikan. Mencoba mencari tau potensi, bakat serta minat siswa juga tak lupa terus belajar memperbaiki kualitas diri dan cara mengajarnya.

Baca Juga  KOPERASI TANAMAN

Memperkaya bahan bacaan dan memperluas wawasan. Guru yang mengajar dengan hati akan selalu menghadirkan jiwa dan cintanya setiap kali mengajar. Guru yang mendidik dengan hati diawali dengan kebersihan niat sebagai wujud bakti pada Ilahi Rabbi. Guru yang mendidik dengan hati menanamkan niat bahwa mengajar dan mendidik adalah sebuah ibadah, yang kelak menjadi pemberat timbangan diakhirat.

Guru yang mendidik dengan hati akan berusaha mencetak generasi cerdas berakhlakul karimah. Karena sejatinya apa yang disampaikan dengan hati maka akan sampai pula dihati.

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here