Anak Gaul Itu Tidak Melakukan Hal ini

0
55
Illustrasi: Google

Manusia diciptakan oleh Tuhan secara berkelompok supaya mereka bersosialisasi dan saling tolong menolong. Akan tetapi seiring berjalannya waktu, fungsi dari pada hidup bermasyarakat kini kian memudar.

Tidak hanya dalam lingkungan bermasyarakat, akan tetapi di dalam lingkungan sekolah maupun organisasi-organisasi pemuda, rasa-rasanya sikap saling tolong-menolong dan saling menghormati satu sama lain kini telah jauh dari kepribadian mereka.

Apalagi untuk mengemban pepatah berat sama dipikul ringan sama dijinjing. Mungkin itu hanya sekedar teori dalam pelajaran bahasa Indonesia. Bahkan baru-baru ini kita mengenal istilah Bullying dalam pergaulan anak-anak zaman sekarang.

Bully atau kekerasan terhadap anak, baik secara fisik maupun mental tentu sangat dilarang. Anak-anak seharusnya hidup berdampingan, saling membantu, dan saling menyayangi. Namun mereka justru saling menjatuhkan satu sama lain, lebih parahnya lagi biasanya kasus bullying dilakukan oleh sekelompok anak kepada satu anak lainnya. Istilah kasarnya pengeroyokan.

Baca Juga  Apakah Toleransi Itu?

Korban dari pada bully biasanya anak yang memiliki kepribadian berbeda dari yang lain. Misalnya anak yang kurang mampu, maupun anak dengan penampilan lugu. Anak-anak yang memiliki kelebihan dari segi ekonomi maupun penampilan dalam suatu sekolah atau organisasi cenderung bersikap sebagai penguasa yang menuntut anak-anak yang lain menjadi pengikutnya. Mereka akan melakukan bullying terhadap satu atau dua anak dengan mengejek, memaksa melakukan sesuatu atau bahkan melakukan kekerasan fisik.

Baca Juga  Jadi Apapun Nanti, Wanita Tetaplah Wanita

Sudah begitu banyak kasus bully di Indonesia yang memakan korban jiwa. Terutama di dalam dunia pendidikan. Seperti kekerasan senior terhadap juniornya, maupun sesama rekan sejawat.

Yang lebih memprihatinkan lagi, kasus bully juga sudah sampai dilakukan oleh anak-anak yang terlampau kecil, seperti anak-anak TK. Beberapa kasus kekerasan dan perlakuan bullypun menimpa anak-anak yang duduk di bangku TK.

Itulah kenapa kita sebagai orang tua wajib mengawasi, juga memprotek anak-anak kita agar terhindar dari korban bully, Apalagi sebagai pelaku bully. Kita harus tau dengan siapa saja anak kita bergaul, bagaimana pergaulannya. Sehingga ketika ada indikasi kasus bullying dalam pergaulan anak kita, kita bisa menge”save” anak kita dari lingkaran bullying. Perlindungan kita sebagai orang tua memang sangat andil dalam menghindari kasus bully pada anak-anak.

Baca Juga  MENANGKAL RADIKALISME DAN MENANAMKAN NILAI TOLERANSI SARA (SUKU, AGAMA, RAS, ANTAR-GOLONGAN) KEPADA ANAK DAN REMAJA

STOP bullying ya gaes,,,,

Karena dampak dari kasus bully sangat luar biasa. Anak korban bully cenderung menjadi pendiam bahkan sangat penakut ataupun trauma ketika bertemu teman-temannya. Jangan sampai orang-orang di sekitar kita menjadi korban dan pelaku bullying. Kita juga bisa mengawasi aktifitas anak-anak di sekitar kita agar mereka bisa bersosialisasi secara sehat.

Back to zaman old. Di mana dulu anak-anak bisa hidup berdampingan anti bullying. Agar anak-anak muda kita menjadi generasi penerus bangsa yang cerdas pikirannya dan baik mentalnya.

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here