Category: Puisi

Senyap di Ibu Kota

Karya: Nuela Maahury  Sembunyilah dikesunyian Jika memang melegakan Beradulah di keramaian

Jalan Tuhan

Ku berjalan menelurusi lorong penuh riuh para pekerja Suara musik syahdu perlahan mulai menampakkan wujudnya

Untukmu Pendusta

Selalu saja ia mengejawantahkan iya Namun apa, semua berlumur dusta Iya, sekarang..

Pelangi Tak Berkilau

Sungguh penaku terasa kaku Kini tak lagi mampu bersajak seperti dulu Dulu aku mampu mengukir namanya dalam sajak pelangiui

Dalam Logika

Aku mulai belajar mengeja bait-bait kehidupan Mencari makna dalam sebuah cekung-cekung mata

Penghakiman Atasku

Sebentar lagi akan ada cerita banyak pada manusia-manusia Tentang penghakiman yang kalian banggakan Tentang kebenaran yang kalian...

Pecundang Makna

Ketika rumus jalanan mulai pudar oleh serpihan-serpihan acrok Maka elegi waktu pun kian menepis ribuan jarak

Entahlah

Sajak malam ini tumpul tak terasah Gelap mencuatkan logika-logika gelisah Beberapa kata pun berterjemahkan resah

Senja di Bukit Mereka

Aku berjalan di atas tanah ini Dalam langkahku sendiri Tak pernah mengusik langkahnya

Engkau Itu Semu

Engkaulah sang pengatur tempo dalam nada-nada ini Dan aku hanyalah pendengar yang tak menau

Ilusi Jiwa Terucap

Malam telah begitu larut dalam bait-bait sunyi. Mataku tak juga dapat terpejam, kegaduhan hati benar-benar membuatku peluh.

Rindu Tak Bernama

Hai kamu orang yang masih asing dalam sebuah rindu tak bernama Yang hingga saat ini pun masih dirahasiakan kehadirannya Tetaplah rindu...

Tak ada Dirimu Lagi

Waktu berlalu begitu cepatnya, secepat cahaya menyinari semesta. Kebersamaan yang dulu kita lalui bersama, kini telah usang seiring...

Hadir dan "Kepergian"mu

Engkau hadir bak laju cahaya, begitu cepat hingga tak terlihat, Mengalir dalam denyut raga, menyatu dalam dada, Memberi warna lain...