5 Perasaan Yang Dialami Anak Rantau Saat Menumpang Di RumahSaudara

5 Perasaan Yang Dialami Anak Rantau Saat Menumpang Di RumahSaudara

Kamu pernah bekerja atau kuliah yang jauh dari orang tua? Jika pernah, kamu lebih memilih ngekost dengan pergaulan yang super- super minim aturan itu atau mengikuti saran orang tua untuk menumpang tinggal di saudaramu. Hemm, menumpang? Sudah kebayang dengan kata horor dari setiap jiwa-jiwa yang biasa merdeka. 

 

Yapss, tolong garis bawahi dari kata ‘merdeka’. Namanya kita yang masih di usia kepala dua tentu berharap semua aturan hidup cukup dirinya saja yang mengatur. Menikmati sebenar-benarnya kehidupan di masanya tanpa perlu harus begini begitu.

 

Kembali lagi ke topik awal tentang kata menumpang. Seperti apa rasanya menjadi anak rantau yang menumpang di rumah saudara. Namanya saja menumpang, geratis tis tis tis ya pasti sudah bisa dipredeksikan lebih menyeramkan ketimbang ibu tiri. Sinetron kali ah! Wkwkwk

 

Nah, di bawah ini ada 5 perasaan yang sering kali dialami bagi anak rantau yang menumpang di rumah saudara. Yess, jangan baper ya! Mimin juga pernah merasakan ko. He he hee 

 

Sungkan Meminta Tolong
Namanya saja numpang, nebeng, nginthil atau sejenisnya yang terkesan seperti benalu. Pasti deh kita saja merasa hina, orang rendahan. Yang namanya minta tolong sesulit apapun kondisi kita hal tersebut serasa menjadi pantangan keras buat kita. Bukan karena apa, diterima dengan sepantas dan sewajarnya saja sudah bersyukur. Tidak perlulah mendapat perlakuan yang seistimewa anak Raja.hehe

 

Dilema Ketika Memprioritaskan Diri Sendiri atau Saudara
Nah, ini yang seringkali dialami anak rantau yang menumpang di rumah saudara. Saat kita pulang kerja atau kuliah sesampai rumah sudah ditunggu seabreg-abreg pekerjaan rumah. Yang cucian masih direndam, segunung cucian bersih belum sempet dilipet apalagi disetrika. Piring berserakan, lantai seperti pertamina pindah serta wajah saudara yang ditekuk. Sedangkan tubuh kita sebenarnya pengen langsung rebahan di kasur mini hasil pinjaman itu. Ya, harus diingat sekali lagi belum ada sejarah numpang itu enak. 

 

Merasa Terkekang dengan Aturan
Ya jelas berbeda dong dengan aturan maen di rumah sendiri. Hello, yang punya rumah Anda atau dia? Ha haa haa. Suka tidak suka kamu harus mengikuti peraturan di tempat saudara yang kamu tumpangi itu. Padahal kita yang mungkin di anggap mereka benalu juga memiliki standar aturan sendiri. Ya kembali lagi kita harus menyadarkan diri sendiri 
bahwa kita sedang menumpang. 

 

Hanya Perasaan atau Memang Kenyataan Diperlakukan Berbeda
Untuk yang ini semoga mimin salah ya, Guys. Seringkali kita yang dianggap mereka benalu merasa diperlakukan berbeda. Atau memang seperti itu kenyataannya? Hal kecil yang seringkali terjadi seperti soal makanan. Ya mereka enggak ada hak untuk menyamakan menu makanan kita kepada mereka. Tapi ya gimana perasaan kamu jika kamu menahan lapar di rumahnya, sedangkan saudaramu menikmati kuliner di luar rumah. Sedihkan, ya begitulah nasib anak rantau. Ha haa haa

 

Tidak Bisa Berbuat Banyak Ketika Suntuk di Kamar
Nah, ini yang terakhir yang biasa dialami anak rantau saat menumpang di rumah saudara. Namanya saja menumpang, tidak mungkinlah bisa melakukan banyak hal ketika suntuk di kamar. Jelas berbeda ketika tinggal di rumah sendiri. Tidak terbatasi oleh ruang dan waktu. Ya harus diingat betul, belum ada sejarah menumpang itu enak. Sekalipun kamu tinggal di rumah saudaramu. Seorang yang sangat mengenalmu bahkan serahim dengan kamu, tetap saja dia bukan orang tuamu yang memprioritaskan hidupnya untuk anak-anaknya.

 

Itulah, Guys beberapa perasaan yang seringkali dialami anak rantau. Mimin hanya memberi saran berpikir-pikirlah seribu kali ketika hendak menumpang di saudara. Untuk tips ini, jangan pernah mencoba dijamin berat badan kamu turun drastis. He hee hee

 

Sumber Illustrasi: gitugini