7 Hal Ini Akan Membuat Kamu Lebih Menghargai Pensil, Nomor 3 Jleb Banget!

7 Hal Ini Akan Membuat Kamu Lebih Menghargai Pensil, Nomor 3 Jleb Banget!

Illustrasi Penisl via Pixabay.com

 

Allah SWT berfirman:

 

وَهُوَ الَّذِيْ يُرْسِلُ الرِّيٰحَ بُشْرًۢا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهٖ   ۗ  حَتّٰۤى اِذَاۤ اَقَلَّتْ سَحَابًا ثِقَالًا سُقْنٰهُ  لِبَلَدٍ مَّيِّتٍ فَاَنْزَلْنَا بِهِ الْمَآءَ فَاَخْرَجْنَا بِهٖ مِنْ كُلِّ الثَّمَرٰتِ ۗ  كَذٰلِكَ نُخْرِجُ الْمَوْتٰى لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ

 

Wa huwallazii yursilur-riyaaha busyrom baina yadai rohmatih, hattaaa izaaa aqollat sahaaban siqoolan suqnaahu libaladim mayyitin fa anzalnaa bihil-maaa`a fa akhrojnaa bihii ming kullis-samaroot, kazaalika nukhrijul-mautaa la'allakum tazakkaruun


"Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa kabar gembira, mendahului kedatangan rahmat-Nya (hujan), sehingga apabila angin itu membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu. Kemudian Kami tumbuhkan dengan hujan itu berbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran."
(QS. Al-A'raf 7: Ayat 57)


Untuk meraih kesuksesan, kita dituntut untuk terus belajar tanpa batas. Belajar tidak melulu duduk dalam kelas, mendengarkan guru ceramah, atau membaca buku saja. Alam pun dapat memberikan kita pelajaran, asalkan kita mau merenungkannya. Sepakat, ya, Guys.


Pensil. Siapa yang tidak mengenal pensil? Anak balita saja pasti banyak yang mengetahuinya. Bahkan, sebagian sudah trampil menggunakannya. Eits! Kita akan membahas cara menggunakannya, ya, Guys. 
Ini yang akan kita pelajari: Filosofi Pensil.

 

1. Pensil harus dipertajam sebelum digunakan.
Sebelum digunakan, pensil harus melalui proses penajaman. Proses ini akan mengoyak tubuhnya, agar arang yang berada di dalam terlihat, dan bisa digunakan. Proses penajaman ini, mengajarkan pada kita bahwa: kita harus melewati banyak ujian dan cobaan agar bisa dikatakan "lulus". Kerja keras, cerdas, tuntas, dan ikhlas, akan menghasilkan sukses. Seperti kita akan naik level di sekolah, tentu harus melewati pelatihan dan ujian yang berat.

Berakit-rakit ke hulu, berenang-berenang ketepian.
Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.

 

2. Bentuk boleh aneka ragam dan warna, tapi lihat hasilnya.
Bukan masalah bagus atau tidaknya kondisi pensil, tapi hasil karyanyalah yang akan dinilai. Allah menciptakan manusia dalam berbagai bentuk, ukuran, dan warna kulit. Bukan karena kebagusan casing yang akan dihargai, tapi prestasi dan akhlak yang akan dinilai baik atau buruknya kualitas kita. Seorang yang berparas menawan dan tubuh ideal, jika berakhlak bejat, tanpa prestasi apapun,  tentu ia akan menerima hujat. Sebaliknya, seorang cacat akan mendapat pujian jika berakhlak mulia dan prestasi mendunia.


Maka inilah pembelajaran yang sangat penting untuk kita, jangan memperbagus casing, tapi berkaryalah dalam bentuk dan bidang apapun, agar kita layak mendapatkan achiviement dari Sang Pencipta juga makhluknya. Jangan pernah menilai seseorang dari tampilan fisiknya semata. Don't judge the book from the cover.

 

3. Bagus tidaknya coretan, tergantung pada pemakainya.
Kitalah yang akan menentukan hasil goresan dari pensil. Mau kita gunakan untuk apa? Menulis keindahan, keburukan, kebenaran, atau kebatilan? Hasil yang indah ataupun buruk, tergantung pengguna. Setiap manusia diberi kesempatan dan pilihan yang sama untuk hidup. Allah telah menganugerahkan banyak hal, yang bisa digunakan sebagai modal. Anggota tubuh, akal, jiwa, dan waktu 24 jam. Kemauan, kegigihan, keimanan kita dalam mengolah minat dan bakatlah yang akan memperlihatkan hasil berbeda. Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.


4. Kadang pensil melakukan kesalahan. 
Saat menulis kita sudah berusaha untuk berhati-hati, tapi tetap saja kadang kesalahan itu terjadi. Begitu pula dalam kehidupan. Dalam berusaha, entah untuk karir, studi, ekonomi, atau yang lain, selalu sertakan rasa ikhlas dan rendah hati. Karena kita bukan malaikait, bukan pula Nabi yang dima'sum. Tapi kita manusia biasa yang tak luput dari dosa dan salah. Hendaknya selalu mawas diri, jangan sungkan untuk meminta maaf, dan jangan pelit memberi maaf. Manusia mulia bukanlah yang tidak pernah berbuat dosa, tapi yang mau bertaubat dengan sungguh-sungguh atas perbuatan dosa yang telah dilakukannya. 

 

5. Pensil bisa jadi akan mengalami patah, karena suatu hal.
Ketika digunakan, entah karena terlalu kuat genggaman, tekanan, lemparan, terjatuh, sengaja ataupun tidak, pensil akan mengalami patah. Bisa jadi patah arang, atau tubuhnya. Jika itu terjadi, pensil harus ditajamkan kembali agar dapat digunakan lagi.


Setiap manusia, tak selamanya mengalami kesuksesan, dalam gal apapun. Ada kalanya ia jatuh terperosok, bahkan hampir tak sanggup bernapas. Saat inilah, kita harus bangkit dan kembali menyusun kekuatan. Bila perlu mintalah bantuan, dan pertolongan yang hakiki hanyalah dari Sang Penguasa Kehidupan. Sakit memang, tapi percayalah matahari akan selalu terbit setelah malam berakhir.


Jatuh, bangkit lagi. 
Jangan sekali-kali berpikir untuk lari dari kenyataan, apalagi sampai berniat mengakhiri hidup. Karena itu bukan saja akan menyakiti diri sendiri, tapi juga orang yang menyayangi kita. Sakit seperti ini, sakit sia-sia yang tidak dapat memberikan manfaat. Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.

 

6. Pensil akan memendek, hingga usang tak dapat digunakan.
Jika terus dipakai, tentu pensil akan mendapati masa akhirnya. Dimana ia akan sangat pendek hingga sulit untuk digunakan lagi. Begitulah kita. Sebagai makhluk yang bersifat fana pasti akan menemui akhir. Kita tidak bisa menentukan waktunya, tapi kita bisa menentukan jalannya. Apakah kita ingin berakhir di jalan kebaikan? Jika iya, maka beramal baiklah. Sebaliknya, jika ingin berakhir di jalan kenistaan, maka berbuatlah sesukanya. Setiap yang bernyawa, pasti akan menemui ajalnya.

 

7. Pensil, meninggalkan jejak coretan.
Ketika kita tiada, maka karya kitalah yang akan dikenang. Buah pikiran kitalah yang akan membuat nama kita tetap dibicarakan. Hasil perbuatan kitalah, yang dengannya kita masih menerima kebaikan hatta berbeda alam. Maka, buatlah jejak dalam bentuk apapun agar kita tetap hidup dalam hati dan angan orang lain. 


Gajah mati, meninggalkan gading.
Harimau mati, meninggalkan belang.
Manusia mati, meninggalkan nama.

 

So, Guys. Jangan remehkan apapun yang ada di sekitar, ya. Boleh jadi itu akan menjadi pembelajaran yang sangat berharga. Contohnya, pensil