Adat Sadranan yang Diaplikasikan dengan Berbagai Cara

Adat Sadranan yang Diaplikasikan dengan Berbagai Cara

Tradisi sadranan merupakan tradisi budaya yang biasanya dilakukan dibulan sya'ban yakni bulan sebelum bulan ramadhan. 

 

Meskipun sama-sama dilakukan disebagian besar masyarakat jawa, khususnya Jawa Tengah, namun adat sadranan diaplikasikan dengan cara yang berbeda-beda setiap daerahnya. 

 

Tetapi pada dasarnya adat sadranan dikaitkan dengan istilah "unggahan" yang mengartikan bahwasanya arwah para leluhur munggah (naik) ke atas (langit). Itupula kenapa di bulan puasa, para arwah diberikan keringan siksa kubur. Saat itu pula orang-orang melakukan tradisi ziarah kubur untuk menaikkan arwah para leluhur mereka.

 

Tradisi unggahan juga disandingkan dengan tradisi "udhunan", yakni tradisi dibulan syawal setelah bulan puasa berakhir. Udhunan yang berarti para arwah mudhun (turun) kembali ke alamnya. Saat itu juga biasanya orang-orang melakukan ziarah lagi untuk menurunkan arwah leluhur dari langit. Itulah tradisi turun-temurun hingga sekarang. 

 

Nah, kembali ke adat sadranan tadi. Beberapa contoh pengaplikasian sadranan diantaranya ialah kegiatan sadranan Di kabupaten Kebumen. 

 

Masyarakat warga Kebumen biasanya melakukan patungan untuk dibelikan beberapa ekor kambing dibulan sya'ban. Pada malam nifsu sya'ban kambing tersebut dipotong, dimasak dan lalu dibagikan lagi kepada warga tanpa kecuali. Berbeda pada zaman dahulu, pada malam nifsu sya'ban warga justru berbondong-bondong pergi ke pantai pada malam hari. Nah, setelah Islam mulai masuk dan dikenal masyarakat, tradisi sya'ban kemudian diaplikasikan dengan cara yang berbeda. 

 

Kemudian ada pula adat sadranan di kabupaten Boyolali yang berbeda dengan adat sadranan di Kebumen. 

 

Di Boyolali, adat nyadran selain menitikberatkan pada tradisi ziarah kubur, juga sebagai ajang silaturahmi, dan makan bersama layaknya dihari raya idul fitri. 

 

Pada tanggal 15 bulan sya'ban, para warga biasanya berbondong-bondong membawa bakul yang berisi makanan lengkap menuju makam gunung. Setelah itu mereka melakukan doa bersama, ziarah kubur, kemudian melakukan makan bersama. 

 

Konon, awal mula tradisi nyadran tersebut berawal dari ajaran Sunan kalijogo ketika beliau bersama pengikutnya mengenalkan ajaran Islam dan melakukan dakwah disana. Karena pada zaman dulu masyarakat boyolali belum mengenal agama. 

 

Pengenalan tradisi sadranan tersebut yakni untuk mengingatkan masyarakat akan kematian dan ziarah para leluhur mereka. Dan lalu, tradisi tersebut masih berkembang hingga saat ini. 

 

Kegiatan sadranan di Boyolali sangatlah meriah, Karena banyak warga yang melakukan Open house hingga tiga hari. Bahkan ada yang sengaja menyembelih kambing atau sapi untuk menjamu tamu mereka. Itu kenapa adat sadranan lebih meriah dibanding hari raya idul fitri. 

 

Itulah beberapa contoh tata cara adat sadranan di Jawa tengah. Masih banyak lagi cara pengaplikasian nyadran yang tidak bisa dijabarkan satu persatu. 

 

Apapun bentuk tradisinya, pada intinya adat sadranan menitikberatkan pada kegiatan ziarah kubur yang bertujuan supaya manusia ingat dan mendoakan para leluhur mereka. Juga sebagai alarm bagi manusia agar selalu ingat akan kematian, bahwa hidup didunia ini hanyalah sekedar "nunut  ngombe". Supaya mereka memperbanyak pahala dan kebaikan. 

 

Jadi, sudah sangat jelas pengembangan dan pelestarian adat sadranan sangatlah wajib untuk diturunkan kepada anak cucu kita karena mamiliki nilai plus baik dari segi budaya, agama, Dan hubungan sosial.