Aku dan Tukang Tambal Ban Bijak

Aku dan Tukang Tambal Ban Bijak

Pagi itu mendung, langit tampak hitam dan bahkan hati serta pikiranku pun juga ikut-ikutan gelap. Bagaimana tidak, masalah bertubi-tubi menghantam pikiranku. Hati yang selama ini dapat terkontrol hari itu pun mulai tak terkendali. Emosi kian tak dapat ku bendung, api benar-benar menyulutku.

 

Berawal dari aku terbangun esok hari, teriakan-teriakan kecil sudah membuatku jengah tuk membuka mata lebih lebar. Aktifitas yang harus tersendat gara-gara semua fasilitas mangkrak tak berdaya semakin membuat mataku terasa lebih lelah dan semakin lelah. Namun, aku harus benar-benar bangun hari itu. Banyak hal yang harus aku kerjakan, dari pada nantinya semua akan menumpuk dan menjadi bomerang untukku sendiri.

 

Dengan berat hati ku tinggalkan kamarku, lalu bergagas ke belakang. Ku ambil air wudhu, lalu .. Ahhh sholat Shubuhku ternyata harus dikodho. Waktu menunjukkan pukul delapan pagi dan dunia masih tampak gelap waktu itu. Pantas saja aku bangun sedikit siang, mendung pun menjadi alasan kenapa hari itu bangun kesiangan. Lima belas menit setelah itu aku keluarkan mobil dari garasi rumahku. Dan memang dari hari kemarin mobilku sedikit rewel. Benar saja, aku stater tak mau hidup. Akhirnya ku tinggal berbenah merapikan rumah dan mandi.

 

Tepat pukul 09.30 aku harus minta tolong tetangga untuk mendorong mobilku. Untung saja masih ada tetangga yang berkenan membantu. Lalu berhasilah mobilku melaju menuju tempat relasi kerjaku. Tak lupa ku ucapkan terima kasih kepada para tetengga yang telah membantu menghidupkan mobilku.

 

Ku pacu mobil dengan pelan karena khawatir kalau-kalau mesinnya terlalu panas akan mogok. Merasa dikejar waktu tak terasa kakiku menekan pedal terlalu dalam, dan benar mesin panas mobilku mogok. Marah dan membuatku gelisah di saat harus mengejar waktu justru malah begitu keadaannya.

 

Satu jam kemudian mobilku hidup karena bantuan montir yang aku telfon. Ku habiskan kopi yang sedari tadi aku minum di warung tepat di sebelah mobilku mogok, lalu ku lanjutkan perjalanan.

 

 

Dua jam perjalanan akhirnya aku sampai di rumah relasi kerja sekaligus teman sekolahku dulu waktu SMA. Setelah selesai berbincang masalah pekerjaan, kami tutup dengan obrolan pribadi. Karena masih banyak hal yang harus aku kerjakan, aku pun bergagas pamit.

 

Ku pacu mobilku kencang menuju rumah karena aku baru ingat STNK mobil yang aku kendarai tidak aku bawa. Nyaris insiden waktu itu karena ada anak kecil yang menyebarang tanpa menoleh kanan kiri. Mobilku oleng karena menghidari si bocah, untung saja aku masih dapat mengendalikannya.

 

Jantungku dag dig dug badan gemetar, lalu ku tepikan mobilku. Merasa lebih tenang ku lanjutkan perjalanan kembali. 200 meter melaju tiba-tiba mobil terasa sedikit oleng jalannya. Ku hentikan kembali, dan ternyata ban mobilku bocor.

 

Emosiku tak terbendung, mobilku benar-benar membuatku marah. Aku tendang ban mobil. Lalu pintu pun juga menjadi pelampiasan emosiku, aku gedor keras. Apesnya lagi aku lupa bawa ban serep.

 

Terpaksa aku harus mencari tambal ban. Lama aku berjalan, akhirnya ku temukan tambal ban. Ku sapa ibu muda yang berada di bengkel tambal ban tersebut. Tak menghiraukan sapaanku ibu itu bilang maaf mas orangnya lagi pergi luar kota jadi nggak bisa nambal. Ahhh marah marah dan marah perasaanku.

 

Apa boleh buat aku harus mencari bengkel lagi. Kira-kira berjalan 1 km aku menemukan bengkel tambal ban. Namun bengkel terlihat tutup. Aku ketok pintu rumah di sebelah bengkel itu, keluarlah laki-laki yang rambutnya sedikit ubanan.

 


“Ada apa ya mas?”
Lalu kujelaskan maksudku yang akan menembel ban. Memang hari itu sedikit apes, ternyata orang yang biasa menambal ban sedang keluar menjemput anaknya sekolah. Aku harus menunggu sampai setengah jam.

 

Tibalah tukang tambal ban di rumah. Dari kejauhan dia sudah menyapaku dan bertanya “Kenapa mas?” Aku jawab nambal mas. Ia matikan mesin motornya kemudian mengantar anaknya masuk ke dalam. Lalu ia keluar dengan membawa peralatan tambal ban. Sedari menambal ban dia mengajaku gobrol.

 

Dan bukan main kata-kata yang ia lontarkan benar-benar mengandung nilai etika dan religius yang tinggi. Bahkan semua masalah yang sedang aku hadapi, sang tukang tambal ban pun menceritakannya. Entah kebetulan atau petunjuk dari Tuhan, ia memberiku nasihat banyak.

 

Salah satunya, ia mengatakan bahwa keburukan yang kita dapat jangan pernah membuat kita menyalahkan orang lain. Kita harus lebih bijak menyikapinya. Berlatihlah untuk menyalahkan diri sendiri agar kita menjadi orang yang berhati lapang.

 

Contoh, ketika kita berjalan dan ada orang yang sengaja menjaili kita sehingga kita tersandung dan jatuh. Pasti kita jelas akan menganggap orang yang salah adalah orang jail itu, bukan kita. Tapi coba kalau kita telisik lebih dalam lagi. Jika kita berjalan dengan hati-hati, pasti kita tidak akan tersandung. Belajar menjadi orang baik dan bijak memang harus kita pahami dari hal yang kecil. Nantinya kita akan dapat menerima musibah dengan legowo (lapang dada).

 

Contoh di atas dapat diterapkan dalam masalahku hari itu. Yang seharusnya aku tak menyalahkan mobilku. Jelas aku yang salah. Kenapa aku tidak membawa mobilku ke bengkel untuk diservis agar tidak mogok ketika dipakai. Kenapa aku tidak membawa ban serep karena aku lupa. Seharusnya aku cek semua sebelum berkendara.

 

 

Selesai menambal aku pun pamit, dengan perasaan yang begitu bersalah telah menyalahkan mobilku. Begitu bodohnya aku sehingga aku berlaku seperti itu. Aku pasang ban mobilku lalu kupacu dengan hati-hati. Dari pada nanti mobil mogok lagi akhirnya aku servis di bengkel.

 

Sehingga nantinya tidak menghambat perjalananku. Hari itu sebenarnya bukan hari yang gelap, namun penuh keberkahan karena aku mendapat ilmu yang besar dari seorang tukang tambal ban yang begitu bijak menyikapi hidup ini. Terima kasih mas, terima kasih God.

 

*Diangkat dari kisah nyata