Ayam Panggang dalam Merti Desa, Sebuah Budaya Nan Arif yang Harus Terus dilestarikan

Ayam Panggang dalam Merti Desa, Sebuah Budaya Nan Arif yang Harus Terus dilestarikan

Reviens Media, Purworejo - Tradisi Budaya Merti Desa merupakan sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat Desa terhadap apa yang sudah diberikan oleh Tuhan kepada masyarakat. Acara yang digelar rutin secara periodik ini biasanya digelar setiap tiga tahun sekali. Banyak kegiatan, dan acara budaya mereka pergelarkan, diantaranya membagikan ayam panggang yang jumlahnyapun tidak sedikit.

 

Kegiatan Merti Desa dengan membagikan ratusan bahkan hingga ribuan ayam panggang ini lazim dilakukan oleh masyarakat Purworejo, terutama masyarakat desa Pamriyan, kecamatan Pituruh, Purworejo dan desa Gunung Condong yang juga masih berada di kabupaten Purworejo.

Di desa Pamriyan, Merti Desa tahun 2018 sekitar 5000 ayam panggang ditata secara artistik bersanding dengan hasil bumi buah-buahan seperti nanas, pisang, kacang panjang, salak, mangga, kelapa, dan jajanan pasar seperti jenang, jadah dan sengkulun dihias dalam satu ancak (ambeng). Masing-masing ancak (ambeng) variatif secara umum banyak didominasi seukuran ranjang tidur. Total terdapat 47 ambeng yang dibuat oleh warga Pamriyan.

 

“Dua hari sebelum hari H kami sudah memasak bersama secara gotong royong, apa yang akan kami tata di ambeng, seperti memasak jenang, memanggang ayam, dan menghias jadi satu display dengan dana patungan tiap kelompok!” kata Ny. Sutarman salah satu koordinator kelompok.

 

Tradisi yang dipercaya sudah dilakukan sejak ratusan tahun di Pamriyan ini sangat efektif untuk mengumpulkan masyarakat, bertemu, bermusyawarah dan untuk bermufakat sekaligus bersama mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan hasil bumi. Berbagai acara kesenian tradisional pun digelar untuk menghibur warga yang berkonsentrasi di Balai Desa Pamriyan, dari Tari Dolalak, Tari Tayub  yang dimainkan oleh Sanggar Tari Pragata dari Desa Karanganyar dan Sendra Tari berdirinya Desa Pamriyan.

Budi Susilo, Kepala Desa Pamriyan mengatakan bahwa selain nguri-uri tradisi, acara yang merupakan agenda tiga tahunan yang sudah dilaksanakan secara turun temurun sejak zaman nenek moyang. Gelaran yang disertai doa itu juga bertujuan untuk memohon keselamatan dan limpahan rejeki.

 

“Tradisi ini merupakan ungkapan rasa syukur dan terimakasih kepada Tuhan yang Maha Esa sekaligus permohonan untuk keselamatan warga desa. Kami semua bermohon agar hasil bumi makin melimpah ditahun berikutnya!” tambah Kades yang pernah mejadi Manager Kitchen di sebuah Resto di Amerika ini. Budi menambahkan, dalam merti desa tersebut diikuti oleh 8 dusun yang ada, dengan jumlah total ancak atau ambeng sebanyak 47 buah. Masing-masing ancak berisi ratusan ayam panggang dan diperkirakan jumlah ayam panggang seluruhnya mencapai lima ribu ekor.

 

Fitri Sih (30th) salah satu warga Desa Pamriyan mengatakan bahwa biaya pembuatan Ancak lengkap dengan isinya bisa mencapai lebih dari Rp 15 Juta. Warga percaya bahwa tradisi tersebut wajib dilaksanakan karena jika ditiadakan maka akan terjadi bala bencana. “Rasa syukur itu harus ikhlas demi keselamatan warga semua, itu yang terbaik!”, katanya serius.

 

Bupati Agus Bastian, menganggap bahwa acara tradisi yang sudah ratusan tahun ini, akan selalu menarik dan menjadi agenda wisata yang unik. “Nguri-uri tradisi positif yang unik ini  harus lebih diberdayakan, supaya jadi sebuah alternatif destinasi wisata desa”, kata Bupati. 

Sama halnya dengan Merti Desa yang dilaksanakan di Desa Gunung Condong Kecamatan Bruno, di Purworejo, Jawa Tengah juga sangat meriah dengan menghadirkan sekitar 7.500 ekor ayam ini yang juga untuk memeriahkan HUT RI Ke-73.

 

“Tradisi yang  dikenal dengan sebutan Merti Desa ini  merupakan agenda 3 tahunan yang sudah dilaksanakan secara turun temurun sejak jaman dulu. Gelaran yang juga menjadi destinasi wisata itu juga bertujuan untuk memohon keselamatan dan limpahan rejeki. Budaya yang harus di uri-uri ini megandung pesan moral akan rasa syukur dan kepedulian untuk selalu berbagi, di sini warga desa yang bertetangga saling mengundang dan memberikan hasil bumi juga ayam pangang tersebut!” kata Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Purworejo, Agung Wibowo.

 

“Saya suka acara unik ini dan saya sudah lama menanti jauh-jauh hari untuk bisa datang ke sini, ini bentuk keramahan lokal yang harus dijaga, ada banyak pesan moral positif yang tersirat di sini, rasa syukur transendental, peduli sesama dan mempertemukan banyak warga dalam era digital maupun medsos yang cenderung antisosia. Lihat saja mereka berbagi dan bercengkarama akrab dengan tetap menjaga ketertiban!” kata Leandro wisatawan asal Jakarta.

 

Reporter: Agam