Bedug Made In Choudori Yang Lestari

Bedug Made In Choudori Yang Lestari

Opo bener mas, beduge kondang kaloka?
Bedug Purworejo sing paling gedhe sak ndonya.

 

Purworejo: Kalau ada yang belum tahu tentang kota Purworejo, maka dendangkan untuknya lagu dengan sepenggal lirik sebagaimana tersebut di atas! Ya salah satu ciri khas Purworejo adalah bedug Kyai Pendowo yang merupakan peninggalan bupati pertama Cokronegoro I. Bedug Kyai Pendowo tersohor karena terbuat dari bongkot atau pangkal kayu jati utuh dengan ukuran super besar , yakni panjang 292 cm, garis tengah bagian depan 194 cm, garis tengah bagian belakang 180 centimeter, keliling bagian depan 601 cm, dan keliling bagian belakang 564 cm.


Hingga kini memang belum ada lagi karya bedug yang mampu menandingi spesifikasi unik bedug Kyai Pendowo. Namun patut dicatat bahwa warisan kerajinan bedug di Purworejo masih tetap lestari.


“Tidak ada label atau nama khusus buat usaha keluarga saya ini. Cuma orang-orang mengenal usaha kami dengan nama kerajinan bedug H. Chudori atau nama ayah saya yang sudah almarhum,” ujar Imam Taufiqir. Pria berpanggilan akrab Taufiq ini merupakan generasi ketiga perajin bedug yang berlokasi di desa Kroyo, kecamatan Gebang. 


Menurut Taufiq semula kakek dan ayahnya hanya membuat kentongan untuk perlengkapan masjid setempat. Ternyata hasil karya mereka dinilai bagus oleh para warga. Melalui gethok tular atau cerita dari mulut ke mulut, akhirnya banyak orang tertarik memesan kentongan sekaligus juga bedug pada kakek dan ayah Taufiq. Maka begitulah usaha kerajinan bedug H. Chudori dimulai , tepatnya sejak tahun 1956. Taufiq sendiri mewarisi usaha ini seutuhnya pada 2002 setelah 11 tahun menjadi karyawan sang ayah.


Dalam perkembangannya, usaha kerajinan keluarga H. Chudori kemudian juga menerima pesanan pembuatan alat musik rebana. Taufiq bertutur, ”Sungguh tidak ada sekolah atau ilmu khusus tentang cara membuat bedug maupun rebana. Betul-betul semua dipelajari secara otodidak dan dipraktekkan berdasar feeling saja.Yang ditekankan adalah ketepatan dalam penentuan ukuran diameter kayu dengan ketebalan kulit penutupnya.”

 

Beserta 11 orang pekerja, Taufiq membuat produknya dengan menggunakan kayu munggur atau trembesi, beton dan sawo. Di samping itu memakai bahan kulit sapi untuk pembuatan bedug dan kulit kambing untuk pembuatan rebana. Bahan kulit sendiri dipilih dari sapi atau kambing betina dewasa yang seratnya lebih ulet. Sebelum digunakan, bahan kulit mesti jemur supaya tidak mudah mengkerut.

 

Secara garis besar proses pengerjaan kerajinan ini adalah mula-mula kayu yang sudah dipotong dibentuk sesuai pola kebutuhan (dilubangi). Setelah itu dikeringkan setengah kering. Kemudian disemprot insektisida, semacam diasenon agar tahan terhadap serangan hama rayap. Selanjutnya dikeringkan, dipelitur dan dikeringkan lagi. 


Barulah kemudian dipasang kulit penutupnya. Untuk pembuatan 1 pesanan bedug atau kentongan bisa diselesaikan rata-rata dalam jangka waktu 5 -6 hari. Sedangkan untuk 1 set rebana yang terdiri dari 11 biji perlu waktu pengerjaan hingga sebulan lamanya.


Mengenai tarif yang ditawarkan cukup bervariasi. Paket bedug sekaligus kentongan yang termahal seharga 25 juta, dan termurah 7 juta. Sedangkan untuk bedug ukuran standar berdiameter 60 cm dibanderol 5 juta sama dengan harga 1 set rebana. 

 

“Kalau soal keuntungan sih biasa-biasa saja. Maklum bedug, kentongan dan rebana bukanlah barang kebutuhan pokok sebagaimana sembako. Dapat 8 orderan dalam satu tahun itu sudah lumayan,” kata Taufiq ketika disinggung mengenai prospek usahanya.


Meski demikian Taufiq patut berbangga karena pesanan berdatangan tak hanya dari dalam kota Purworejo saja, melainkan juga dari luar kota, seperti Yogya, Jakarta, Bandung, Surabaya, Ngawi, Bojonegoro, dan lain-lain. Dia pun bertekad untuk terus mengembangkan usaha keluarga turun-temurun ini.

 

Penulis: Sri W