Blusukan di Kerkhof Purworejo

Blusukan di Kerkhof Purworejo

Reviensmedia.com, Purworejo – Lokasi kerkhof Purworejo berada di kelurahan Sindurjan, Kecamatan Purworejo. Lokasi Kerkhof ini tidak terlalu jauh dari pusat kota sehingga sangat mudah untuk menuju ke sini. Untuk menuju ke kekrhof Purworejo, anda dari Satlantas Purworejo jalan ke utara menelusuri Jln. Mayjend Soetoyo hingga kantor Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Purworejo. Lalu di sebelah utara kantor BKD, terdapat sebuah jalan ke kiri dan di ujung jalan, terlihat sebuah gerbang antik yang menjadi gerbang masuk komplek Kerkhof Purworejo.

 

Di bagian atas gerbang, terdapat sebuah inskripsi berbahasa Latin dengan arti yang cukup dalam yang berbunyi “MEMENTO MORI” . Jika diartikan ke bahasa Indonesia, kalimat ini berarti “Ingatlah Kematian”, sebuah pesan untuk pengunjung yang akan memasuki area pemakaman agar selalu ingat bahwa kematian suatu saat pasti akan menghampiri kita.

 

SEJARAH KERKHOF PURWOREJO

image
 

Latar belakang berdirinya Kerkhof Purworejo tidak bisa dipisahkan dari kehadiran orang-orang Belanda di Purworejo yang dahulu merupakan garnisun militer milik Belanda. Orang-orang Belanda ini kebanyakan berprofesi sebagai serdadu maupun perwira. Hal ini dapat dilihat dari nuansa militer yang dapat anda temukan di kerkhof ini seperti nama-nama di batu nisan yang disertai dengan pangkat militer terakhir. 

 

Tidak semua orang Belanda yang meninggal di Hindia-Belanda dapat dimakamkan kembali ke negeri asalnya, oleh karena itu mereka dimakamkan di daerah yang dekat dengan tempat mereka meninggal.

 

Banyak hal yang harus dipertimbangkan dalam pemilihan lokasi kerkhof. Dalam Locale Techniek no.4 bulan Oktober 1933., disebutkan bahwa tidak setiap tempat dapat digunakan sebagai tempat pemakaman. Dalam hal ini orang harus memilih tempat yang datar, tanahnya harus dapat merembeskan air, bukan tanah lempung atau padas serta tempat tadi harus gampang dapat mengalirkan air dan jangan sampai mendapat aliran air dari permukaan yang lebih tinggi.

 

Selain itu juga pemilihan lokasi juga harus memperhitungkan perkembangan luas sebuah kota, jangan sampai sebuah pemakaman menahan perluasan sebuah kota sebab orang-orang tidak begitu senang tinggal di dekat lokasi pemakaman. Gerbang masuk ke kompleks Kerkhof Purworejo yang baru saja dipugar. Bentuk gerbang yang antik ini tidak berubah sejak dahulu.

 

Kembali lagi ke pembahasan Kerkhof Purworejo. Kerkhof Purworejo memiliki lahan seluas 1,78 Ha dan hingga sekarang lahannya belum berkurang samasekali. Letak Kerkhof ini berada di tengah-tengah pemukiman warga dan hanya dipisahkan oleh tembok tinggi. Di sebelah timur, terdapat kantor BKD dan kantor Dinas Pengairan yang dipisahkan oleh jalan masuk ke Kerkhof.

 

Hingga saat ini, Kerkhof Purworejo masih digunakan sebagai tempat pemakaman umum bagi masyarakat yang beragama Nasrani, sehingga tidak heran jika terdapat makam-makam baru yang berada di sela-sela makam-makam lama.

 

Beberapa makam ada yang berbentuk seperti Bongpay atau makam khas Tionghoa, sehingga terlihat tidak serasi dengan makam-makam Belanda yang ada. Terkadang makam-makam yang usianya sudah tua dan ahli warisnya tidak jelas terpaksa dibongkar untuk makam yang baru.

 

image

 

 

Karena batu prasasti pada makam-makam Belanda berasal dari batu marmer berkualitas tinggi, maka banyak sekali batu-batu prasasti ini yang sudah hilang dijarah orang. Menurut penuturan warga, penjarahan ini terjadi sekitar tahun 1980an. Pada masa itu memang banyak sekali terjadi aksi penjarahan batu prasasti pada makam-makam Belanda karena sedang booming batu marmer pada waktu itu. Sampai-sampai ada cerita bahwa batu nisan yang dijarah dari kerkhof Purworejo mencapai satu truk.

 

Meski sudah banyak prasasti yang hilang, untungnya masih ada beberapa prasasti yang tidak diambil karena terlalu susah untuk dijarah seperti yang terlihat pada prasasti milik “Wilhelm Graf von Taubenheim” yang berukuran sangat besar. Adanya bekas patahan di bagian atas prasasti ini menunjukan bahwa prasasti ini sempat dicongkel meski akhirnya gagal karena prasasti ini terlalu berat untuk diangkat.

 

Di sela-sela makam, tumbuh beberapa pohon kamboja yang bunganya diambil oleh warga untuk dijual. Karena pohon peneduh yang ada sangat sedikit, maka suasana Kerkhof Purworejo terasa sangat panas. Selain itu, rumput-rumput liar juga tumbuh dengan lebatnya di beberapa makam, terutama makam-makam lama yang sudah lama tidak ditengok oleh anak keturunannya.

 

Bentuk makam Belanda memiliki bentuk yang sangat berbeda dengan makam lokal. Makam-makam lokal yang pada umumnya berlatar belakang Islam memiliki tanda makam bersifat sederhana, sebatas untuk menunjukan bagian kaki dan kepala.

 

Selain itu, makam-makam lokal memiliki orientasi menghadap ke arah kiblat sesuai dengan ajaran Islam. Sementara itu, makam-makam Belanda dibuat dengan bentuk yang bervariasi, ada yang sederhana saja hingga megah, besar, dan raya dengan berbagai ornamen.

 

Makam-makam Belanda di kerkhof Purworejo memiliki bentuk yang bervariasi. Mulai dari berbentuk tugu sampai mausoleum. Makam berbentuk tugu berjumlah 79 buah. Sementara untuk makam yang berbentuk mausoleum berjumlah 4 buah. (Muhammad Chawari,2003;104-105).

 

Selain itu, juga terdapat makam-makam yang berbentuk seperti peti rebah. Beberapa makam ini ada yang memiliki cungkup yang sebenarnya kurang lazim untuk makam-makam Eropa. Kemungkinan besar keberadaan cungkup ini terpengaruh oleh kebiasaan orang-orang Jawa dalam membangun makam yang seringkali di atas makam dibangun sebuah cungkup.

 

Bisa juga adanya cungkup ini untuk melindungi batu nisan dari hujan yang dapat merusak batu nisan. Perbedaanya adalah jika pada makam pribumi cungkupnya terbuat dari batu-bata, kayu dan genting, maka makam Belanda memiliki cungkup yang terbuat dari tiang besi dan seng. Beberapa makam bercungkup di sini sudah mulai rusak.

 

Oleh: Lengkong S Ginaris

(Anggota Kopikola, peminat heritage dan arkeologi. Mahasiswa Arkeologi UGM Jogjakarta yang bercita-cita jadi Manager Heritage)