Budaya Ewuh Pekewuh yang Masih Menjiwa di Hati Masyarakat Desa

Budaya Ewuh Pekewuh yang Masih Menjiwa di Hati Masyarakat Desa

Manusia diciptakan oleh Tuhan sebagai makhluk sosial, mereka tidak akan bisa hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Tanpa disadari terkadang mereka lupa akan hal itu.

 

Bukan rahasia lagi jika kehidupan bermasyarakat kini banyak dicampuri oleh  keegoisan pihak-pihak tertentu. Mereka saling mengejek, menghina, menjatuhkan, bahkan memfitnah. Andai mereka sadar bahwa musuh sesungguhnya dalam hidup ini adalah diri mereka sendiri, karena mereka tidak bisa menguasai hati dan emosi mereka. Sesungguhnya itu pula yang menjatuhkan diri mereka sendiri.

 

Akan tetapi, tidak semua lapisan masyarakat memiliki pemikiran yang picik. Masih banyak pula manusia-manusia yang masih memiliki jiwa sosial, seperti "ewuh-pekewuh" yang masih mendarah daging di hati sebagian besar masyarakat pedesaan.

 

Ewuh-pekewuh merupakan budaya masyarakat yang terfokus pada perasaan manusia, di mana mereka merasa tidak enak hati terhadap sesama manusia jika melakukan suatu hal yang menyangkut privasi orang lain. Biasanya mereka akan berpikir ulang untuk melakukan hal-hal tertentu yang juga menyangkut perasaan orang lain. Nah, itulah kenapa kita sering mendengar masyarakat desa berkata "ora pekewuh" yang berarti tidak enak hati.

 

Sebenarnya budaya ewuh-pekewuh masih lazim dilakukan masyarakat desa karena mereka tidak bisa menjalani kehidupan egois yang kini sudah banyak kita temukan dalam kehidupan di kota-kota besar.

 

Masyarakat pedesaan masih mengenal gotong-royong, sambatan, nyinom, dan tradisi yang lain. Berbeda dengan masyarakat kota yang sudah tidak saling mengenal satu sama lain, meski hidup bertetangga. Itulah kenapa dari segi perasaan, masyarakat desa memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh orang-orang diy kota.

 

Budaya ewuh-pekewuh memang  memiliki nilai positif. Setidaknya seseorang akan berpikir dua kali untuk melakukan suatu hal ataupun untuk berkata sesuatu. Mereka akan memikirkan dampaknya terutama terhadap perasaan orang lain. Di sini tentu sifat egoisme jauh dari nurani mereka.

 

Tidak ada yang salah dari perasaan ewuh pekewuh, mereka hanya berusaha menjaga perasaan orang lain yang ada dalam kehidupan sosialnya. Meski tidak semua masyarakat desa memiliki jiwa pekewuh, tapi sebagian dari mereka masih menjaga jiwa pekewuh mereka. Walau tak dapat dipungkiri jika masalah sosial pasti selalu ada. Pertikaian antarsesama tentu sudah menjadi makanan sehari-hari dalam kehidupan bermasyarakat.

 

Dengan adanya budaya ewuh-pekewuh setidaknya mengurangi beberapa pertikaian antarmanusia yang mungkin saja bisa terjadi.

 

Hal itu juga bisa menjadikan kita sadar akan pentingnya menjaga budaya ewuh-pekewuh supaya kita tetap bisa menjalin hubungan sosial secara harmonis. Yang terpenting ialah apapun jiwanya, semua harus dilakukan sesuai porsinya masing-masing.


Karena apapun itu jika dalam porsi yang berlebihan tentu dampaknya tidak akan baik.

 

Yuk ... kita sama-sama menjaga budaya bersosial yang layak dipertahankan dan bermanfaat bagi kepentingan bersama.
Sehingga kita bisa menikmati kehidupan bermasyarakat yang damai, saling menjaga, menghormati, dan jauh dari permusuhan juga pertikaian.

Sehingga kita bisa menikmati kehidupan bermasyarakat yang damai, saling menjaga, menghormati, dan jauh dari permusuhan juga pertikaian.