Bukan Cinta Dewasa Part#1

Bukan Cinta Dewasa Part#1

“Seringkali kita mencari pembenaran diri terhadap apa yang telah dilakukan. Mengatasnamakan itu cinta dewasa, kasih sayang cuma friend zone, sahabat kecil, teman biasa aja atau apalah itu yang terkadang menjerumuskan kita lebih dalam lagi ke jurang yang kita ciptakan sendiri. Sadar ataupun tidak kadang kita terlalu larut dalam dunia kita sendiri tanpa kepastian yang membawa kita menuju hal- hal yang tidak disukai Allah".

 

Ku kencangkan tali ranselku, dan mulai melangkah menuju kapal ferry yang masih berasandar di pelabuhan. Hampir 5 jam aku menunggu berdesak-desakan di pelabuhan ini, sama seperti penumpang lainnya. Dua hari terakhir ternyata cuaca buruk ombak tinggi hampir mencapai 6 Meter. Aku tak menyangka jika cuaca seburuk ini. Sangkin sibuknya tuk  menyelesaikan tugas-tugas sebelum liburan hingga aku tak sempat lagi sekedar menonton berita atau membaca media online untuk mengetahui perkembangan berita saat ini. 

 

Kerumunan orang dimana-mana dan mulai berdesakan memaksa ingin lebih dahulu memasuki kapal. Dengan sigap aku pun masuk dan memilih posisi yang nyaman. Alhamdulillah kali ini kapalnya lumayan besar, fasilitasnya lumayan bagus dan kursi sofa empuk. Lumayan untuk rehat sejenak selama tiga jam berlayar menuju Pulau Sumatra.

 

Kali ini kota tujuanku Pulau Sumatra, Palembang tepatnya. Kota yang sekarang mulai maju bahkan mulai melejit bersaing membangun fasilitas umum seperti LRT yang sedang dibangun juga di Ibu Kota. Entah lah mengapa aku memilih kota itu, seakan langkah kaki ini ingin menuju ke sana.

 

Tak ada sanak saudara pun di sana. Namun aku memiliki teman baik disana Diska namanya. kami bertemu di pare kampung inggris, desa berjuta kenangan. Dan banyak hal-hal yang kami lalui bersama. Pertemuan kami pertama di kelas speaking yang sama dan sebulan kemudian di camp yang sama. Mungkin inilah yang disebut  takdir Allah yang mempertemukan sahabat sebaik Diska.

 

Secara mendadak aku meminta permohonan cuti kerja pada si Boss. Orang pikir aku ingin lamaran atau tunangan pada liburan kali ini. Padahal sebaliknya, untuk menenangkan jiwa dan menata kembali kepingan hati yang hampir menjadi serpihan. Beruntungnya hal ini diizinkan, karena si Boss tau sepertinya aku butuh refresing, dan aku berjanji akan kerja diakhir tahun ini.

 

Aku sering meminta cuti begitu, disaat  lain mengambil libur cuti panjang aku akan kerja dan di saat orang kerja aku akan meminta liburan. Tapi sangat berbeda untuk liburan kali ini. Sebenarnya Aku lebih suka menjelajahi suatu daerah tanpa banyaknya keramaian. Apalagi musim liburan. Kita tidak bisa menikmati masa-masa liburan. Yang ada hanya lah kemacetan, kerumunan orang dan antrian panjang di semua tempat wisata.

 

Masih jelas dalam ingatanku pertengkaran hebat denganya kemarin. Aku memintanya untuk kepastian tentang hubungan selama ini. Berdalih mengatas namakan cinta dewasa, sudah saling paham, sama-sama nyaman dan dijalani saja tanpa adanya ikatan sah semakin membuatku jengah. Mungkin dulu itu kujalani saja, toh kita sama-sama sudah dewasa ini, cukup tau sama lain menjalaninya dengan normal tanpa pernah berbuat macam-macam bahkan bergandengan tangan pun tak pernah. Untuk menjaga tidak terjadinya zina.

 

Namun hal ini ternyata salah, selama ini aku dan dia membuat pembenaran diri terperangakap dalam lingkaran perasaan yang diciptakan sendiri. Semakin berputar terus menerus tanpa tujuan dan kembali lagi ke titik awal tanpa ada kejelasan akan dibawa kemana hubungan ini.

 

Sebenarnya hal ini pernah kutanyakan sebelumnya setahun yang lalu. “memang kamu sudah siap menikah di usia semuda ini, bagaimana karir kamu yang mulai naik, karir aku dan tentunya kamu harus merelakan ketika nantinya mempunyai anak, apakah kamu sudah siap ?, kalau aku belum”. Itulah perkataan yang pernah dia ucapkan.

 

Dan kemarin pun jawabanya kurang lebih sama, walaupun saat ini dia sudah dalam posisi yang aman di sebuah perusahaan ternama ditambah lagi ada bisnis yang sedang kami rintis berdua yaitu agent Travel baik dalam maupun luar negeri. Karena aku dan dia mempunyai hobi yang sama dan ingin nantinya kerja sesuai dengan hobi, maka dari itu kami memutuskan membangun bisnis ini dan sekarang mulai berkembang. “ kamu lupa sama mimpi kita Ra, membangun bisnis ini semakin besar dan kelak kita keliling dunia bersama”. Itu kata terakhir yang diucapkanya sebelum aku mengucapkan kata pisah.

 

Keputusanku tuk pisah seakan mengingatkanku pada salah satu kejadian yang menohok hati, bahwa selama ini kami salah. Seminggu yang lalu ketika kami  jalan di sebuah mall dan singgah di masjidnya, karena jam sudah menunjukan waktunya Sholat Magrib. Selesai sholat ada seorang ibu yang menyapa ku, sepertinya sedari tadi ingin berbicara denganku. “nak yang berjalan berdampingan tadi itu suami mu kah ?”.

 

*** To be Continued ***

Illustrasi: https://cornelioaniceto.wordpress.com/